Mahasiswa sebagai kaum intelektual diharapkan menjadi motor penggerak perubahan nasib bangsa. Masa 1990 adalah masa memantapkan arah gerakan mahasiswa. Dalam oposisi dengan kekuasaan, gerakan mahasiswa yang dipenuhi idealisme harus berhadapan dengan rejim otoriter. Kekuasaan menancapkan senjata untuk mengendalikan dan memasung gerak demokrasi. Read the rest of this entry »
Moehammad Roesydin Tentang perempuan, paranoid dan pergerakan.
May 14th, 2010
-Arman Dhani Bustomi-
Titi, seksi dan image.
Hari itu panas sekali, kira-kira 34’ C. Berkubang dalam kolam renang mungkin sangat menyenangkan. Saat itu waktu menunjukan pukul 11 siang. Tapi Ochi, pria macho itu biasa disapa. Nampak segar bugar dan tak nampak gurat kelelahan diwajahnya. Mungkin efek global warming belum bisa menjamah keperkasaan Ochi yang dicapai lewat latihan berjam-jam di Gym 2 kali seminggu. Wajahnya lumayan tampan, meski untuk bukan ukuran standart yang akan diterima oleh casting sinetron. Namun cukup tampan untuk bisa menaklukan perempuan-perempuan yang ada di Unej ini. Tawanya yang khas sulit untuk bisa ditiru bahkan oleh Negara Cina sekalipun. Tawanya yang berderai-derai dengan sudut bukaan mulut tertentu sehingga bisa menimbulkan suara ahag-ahag-ahag yang khas.
Tepat pukul 11.10 siang nampak 2 mahasiswi berjalan beriringan. Serta merta Ochi menyenggol tanganku. Memberi tanda untuk memperhatikan salah seorang diantaranya. Perempuan manis berkerudung coklat bernama titi (bukan nama sebenarnya) itu tersenyum sangat manis. Sesaat saya sendiri dibuat sangat terpukau. Bagaimana tidak? Titi sangat cantik, manis, modern namun tetap religius secara bersamaan. Kini saya tahu mengapa Ochi sering mangkal di jembatan tiap hari. Mungkin inilah penyebabnya Titi. Seorang gadis manis, wow sekarang dia akan memiliki satu lagi penggemar rahasia.
Setelah titi dan temanya berlalu saya bertanya kepada Ochi “mas ayu yo? Seger delok’e”
“iyo le, Titi namanya” ochi berujar sambil tetap cool.
“akhir-akhir ini populasi mahasiswi berkerudung mulai bertambah yo? Kira-kira kenapa mas?” tanyaku sok imut.
“populasi gundulmu, mbok piker kewan populasi?” katanya sambil tertawa khas.
Menurutnya kecendurungan mahasiswa mulai banyak berkerudung bisa jadi merupakan pengaruh dari film Ayat-ayat cinta (AAC). Kesuksesan novel dan filmnya berdampak secara tidak langsung terhadap trend mahasiswi dalam life style mereka. Kemudaian saya berikan perbandingan dengan mahasiwi-mahasiswi berpakaian up-to-date (baca:seksi). Saya menyanggah pendapatnya tentang teorinya tentang AAC karena meski film dan novelnya sukses. Populasi mahasiwi-mahasiswi up-to-date juga menunjukan jumlah yang banyak atau jika boleh meminjam bahasa teman saya Erik. Jumlahnya meningkat secara significant.
Ia kembali menjelaskan dengan senyum manisnya, bahwa life style juga memiliki beberapa variabel-variabel pembentuknya. Seperti bacaan, dorongan kebutuhan dan apa yang kita konsumsi. Apa yang kita baca adalah apa yang membentuk pemikiran kita. Bacaan memberikan kontribusi terhadap cara kita berfikir, mengkonstruksi logika kita dan menawarkan pilihan idealisme. Ochi juga mengeluhkan penurunan kualitas buku bacaan mahasiswa saat ini yang hanya terjebak pada buku-buku self empowering dan buku-buku pembentukan kepribadian. Buku-buku semacam itu hanya buku bacaan ringan (ia mengklasifikasinyanya sendiri).
Variabel kedua adalah dorongan kebutuhan, mahasiswi-mahasiswi up-to-date tadi mungkin memiliki kebutuhan from nobody become somebody, kebutuhan menjadi pusat perhatian, kebutuhan menjadi terkenal atau dikenal dan yang terakhir kebutuhan akan pujian. Subjektifitas yang masuk akal aku menyebutnya. Wanita mempunyai kecenderungan untuk disayang dan dimanja. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi kebutuhan akan keberlangsungan sebuah eksistensi perempuan.
Variabel ketiga adalah apa yang mahasiswi-mahasiswi up-to-date tersebut konsumsi. Apa yang konsumsi akan mendefinisikan kita, begitu ochi berpendapat. Sebagai contoh mahasiswi berpakaian trendy merek dari butik terkenal, sepatu yang lagi nge-hips, make up ini itu. Mahasiswi tadi ingin mencitrakan diri sebagai seseorang yang high class. Akan sangat kontras dengan saya yang gak tau malu dan slengean. Saya ini merupakan produk-produk cuci otak TB.
Sebagai sebuah perbandingan. Teman (mesum) baik saya. Inu Basidjanardana dalam (frontman, sebuah simbolisasi bawah sadar : 2007) mengatakan bahwa sebuah proses simbolisasi bawah sadar seseorang terjadi akibat adanya factor eksternal yang kemudian tanpa disadari oleh individu itu berubah menjadi simbolisasi diri yang kemudian digunakan untuk menarik masa. Dalam kasus ini, perempuan secara tidak sadar menginternalisasi trend, buku bacaan dan apa yang mereka konsumsi menjadi bagian dari pesona yang kemudaian membuat mereka tampak sangat menarik. Simply irresistible.
Kembali lagi tentang Titi (yang senyumnya kini bikin saya panas dingin) yang cantik dan anggun dengan kerudung. Saya bertanya-tanya tentang keputusannya mennggunakan kerudung. Dengan variabel-variabel yang ditawarkan Ochi tadi saya belum mendapatkan jawabannya. Saya berpendapat bahwa kondisi social dimana Titi tinggal dan pola pendidikan yang diberikan orang tuanya, bisa jadi hal paling berpengaruh dalam pembentukan Titi saat ini. Saya sepakat dengan pemikiran dari Irmayanti Meliono dalam artikelnya perempuan dan ritual. Ia berpendapat bahwa didalam lingkungan social budaya, perempuan melakukan interaksi, dan berdialong dengan berbagai orang. Melalui dialog tersebut terjadi hubungan yang akrab dan harmonis, karena masing-masing dapat menerima dan menghargai berbagai pendapat sejauh didukung dengan argument yang logis dan rasional. Dengan memberikan pemahaman demokratis akan pentingnya pemakaian kerudung dan segala hal yang akan mengikutinya. Merupakan sebuah doktrinisasi ritual agama yang tidak memaksa malah mengajak dengan lembut dan efektif.
Soeharto,paranoid dan post colonial
Hari itu makin panas saja. Pantat dan tenggorokanku terasa perih. Tapi sekali lagi manfaat olahraga menjadikan Ochi tahan banting di segala situasi dan kondisi. Dia tetap tenang-tenang saja meski memakai jaket, dan gurat lelah apalagi panas tak tampak diwajahnya. Tiba-tiba saya melihat teman saya Indra sedang bersama temannya yang berasal dari luar jawa. Terbersit sebuah pertanyaan ringan yang hendak saya lontarkan pada pria (yang katanya manis) disebelah saya ini.
“mas opo’o yoh kok arek-arek ****ng iku senengane kumpul karo arek sak daerah’e?” aku bertanya sambil menyeka keringat dijidatku.
“yoh mergane mungkin mereka merasa nyaman saja dengan teman-teman sesamanya” katanya tetap saja dengan wajah (sok) cool yang membuatku bikin merinding.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa sikap ekslusifitas itu merupakan bentuk dari upaya menjaga identitas cultural yang mereka punyai. Jauh dari rumah dimana kita biasa tinggal, berbahasa berbudaya dan berperilaku. Semua itu membuat mereka merasakan ketakutan akan terkikisnya sebuah identitas yang dibangun dari mana kita berasal. Dengan ekslusifitas dari sesama daerah, yang biasanya dipayungi oleh organisasi-organisasi permordial. Mereka mahasiswa-mahasiswa daerah tidak perlu merubah bahasa dan perilaku khas daerah masing-masing. Ochi juga berpendapat bahwa sikap tersebut bisa jadi juga disebabkan oleh inferioritas berada di tempat yang jauh dari rumah. Ia membuat teori menarik tentang kosnpirasi Soeharto dengan usaha jawanisasi Indonesia. Ia berpendapat bahwa, dulu saat orde baru masih berkuasa Soeharto berusaha memarginalkan orang luar daerah dengan segala cara. Seperti pembatasan kekuasaan jabatan yang biasanya hanya dipegang oleh militer atau orang jawa saja. Ia kemudian menguatkan teori konspirasi Soeharto (saya menyebutnya begitu) dengan program transmigrasi. Ia mempertanyakan kenapa harus orang jawa yang harus pergi keluar? Jika ingin memajukan kenapa tidak melakukan pendidikan putra-putra daerah luar jawa, dan memandirikan mereka. Dan jika masalahnya adalah jumlah penduduk jawa yang luarbiasa meningkat, mengapa program KB tidak dioptimalkan? (Dua peryantaan terakhir adalah kesimpulan saya sendiri)
Saat panas yang tidak tertahankan mulai merambat naik, omongan ngelantur tadi mulai makin ngealntur. Sambil menikmati kwaci hasil curian teman saya anak AN, pembicaraan kami ngelantur soal apa itu inferior. Berhubung saya metaok saya pikir inferior itu interior. Jadinya dalam pikiran otak saya yang segede upil gajah ini mempertanyakan antara interior dengan teori konspirasi Soeharto. Namun jawaban pertanyaan tersebut terjawab saat ia mengatakan post-kolonial. Post-kolonial melahirkan sikap inferioritas, yaitu sikap rendah diri akibat terlalu lama dijajah. Setidaknya itu arti yang dijelaskan Dyah (orang suku papua, mantan pimred TB) pada saya. Inferioritas akhirnya melahirkan ketidak percayaan diri, menganggap apa yang dilaur dirinya lebih baik dan lebih indah. Sehingga orang—orang inferior cendrung menjadi rendah diri dan menutup mata atas potensi yang ada.
Arti Pergerakan
Panas sudah sangat kurang ajar, membakar setiap lemak dari selulit tubuh saya. Saya minum tegukan terakhir pocary sweat saya. Sesaat mata usil saya melihat teman-teman ekstra dari I kuadrat. Kemudian iseng-iseng saya bertanya pendapatnya tentang teman-teman ekstra.
“mas sampean ngerti ceritone PSM tah?” kataku.
“sing endi? Oh iyo aku tau rungu” ia menjawab.
“konyol gak sih, mereka mempermasalahkan hal-hal yang gak penting!” kataku.
Untuk kalian yang belum mengerti ada apa dengan PSM fisip, ijinkan saya untuk menceritakannya. PSM adalah sebuah UKM yang sulit terlacak keberadaanya di fisip. UKM yang memiliki anggota namun tidak memiliki kesekretariatan. UKM yang kemudian pada kongres Fisip dipermasalahkan izin, keberadaan dan struktur pengurusnya. Yang menjadi masalah adalah mereka UKM PSM dalam keikutsertaanya mengikuti kongres tidak mengikuti AD/ART kongres. Disinyalir keberatan diajukan oleh teman-teman ekstra –yang kita sama ngerti tabiatnya- yang duduk dalam kepengurusan HMJ dan BEM.
Menurutnya organisasi ekstra kampus (ekstra) yang memproklamirkan dirinya organisasi pergerakan hanya sebuah organisasi kosong saja. Menurut Ochi, ekstra hanya terjebak pada wacana internal organisasi dan berhenti disitu saja. Tidak ada tindak lanjut dari wacana yang didiskusikan. Berbagai hal mendasari fenomena tersebut. Seperti : doktrinasi dari anggota senior dari organisasi ekstra tersebut. Adanya kepentingan dari tiap individu dalam keanggotaan ekstra tersebut. Dan yang paling parah adalah, mereka hanya bisa menilai orang lain tanpa ada kemauan dan kemampuan untuk introspeksi diri. Hal ini berdasarkan pengalamanya saat menjadi mahasiswa baru nan culun dimana ia mendengar penghinaan dan cibiran dari salah satu ekstra yang merasa superior dan mengiferiorkan ekstra lain. Dengan gagah berani kemudian ia menjawab “heh asal kamu tahu saya ini anggota organisasi ekstra **** (sensor untuk melindungi korban), kami ini malam berwacana, pagi langsung aksi!” kemudian dia melanjutkan. “dari pada kamu **** (sensor untuk melindungi pelaku) hanya bisa berwacana kosong tanpa ada implementasi nyata” katanya berapi-api mirip pak karno (tetangga saya .red) saat hendak buang hajat.
Rafli mantan PU (penyakit udun) saya sebelumnya pernah berteori. Mereka (anak-anak ekstra) hanya terjebak pada kepentingan saja. Mereka terjebak pada ekslusifitas dari kelompoknya sendiri sehingga gagal membangun citra baik keluar. Ochi juga berasumsi bahwa setiap ekstra memiliki pelindung dibelakangnya. Ekstra merupakan produk terusan dari partai kelompok-kelompok tertentu yang bertopeng pergerakan. Ekstra hanya sebuah produk perpanjangan tangan partai dalam melakukan kaderisasi di ranah kampus, yang seharusnya bebas dari partai politik!.
Ochi juga mengkritisi salah satu ekstra yang menawarkan kemapanan matrealisme melalui kedok penelitian lapangan, survey, dan beasiswa. Apa korelasi dari sebuah pergerakan dan hal-hal tadi? Tidak ada, semua itu hanya sebuah umpan dalam menarik keanggotaan dalam organisasi munafik yang berkedok pergerakan. Jika dengan dibandingkan dengan tegal boto, yang dengan sangat kejam dan brutal mendidik anggotanya dalam bereksistensi. Eksistensi diukur dari karya, mending diam. Anda diam daripada bicara namun tanpa karya. Jika anda berkarya kebebasan mutlak bisa anda peroleh di tegalboto. Karya bukan hanya sekedar karya, namun karya yang setidaknya bisa membuat anggota tegalboto lainnya menjadi berdecak. Atau sekedar berkata juancok opo iki?
Pergerakan mahasiswa telah kehilangan arah tujuannya. Mahasiswa bukan lagi agent of change. Mahasiswa terjebak pada euphoria hedonistis, kepentingan kelompok dan ranah private pribadi (pacar maksudnya). Apa jadinya jika mahasiswa hanya bisa berwacana, tidur, nonton bokep trus bikin anak? Jika boleh meminjam kata-kata anak rekruitemen “cuapek deh!!” mending masuk neraka sajalah anda! (nuran wibisono:2007). Apa yang bisa diharapkan dari mahasiswa kualitas tempe mendoan yang lembek seperti ini? Begitulah setidaknya apa yang bisa saya petakan tentang pemikiran cowok macho nan gemesin (hueeek) bernama lengkap Moehammad Roesidyn (sudarmaji hehehe). Selanjutnya saya akan terus meneror setiap anggota tegalboto lainya dan membuat otobiografi (asal-asalan) mereka.
Saat menulis ini saya berharap bisa membuat teman-teman tegalboto mengumpat tidak terima, dan mensomasi saya. Kemudian dituntut menikahi Sandra Dewi sebagai pengganti perusakan citra tegalboto oleh tulisan ini (amien!!). dimanakah karya anda?[]
Imperium kerajaan musik ahmad dhani
May 14th, 2010
-Arman Dhani Bustomi-
Musik bisa jadi menjadi kebutuhan primer manusia setelah makan minum dan tempat tinggal. Memang hal ini belum terbukti, tapi coba tanyakan sebagian besar teman-teman terdekat anda. Siapa yang bisa hidup tanpa musik? Setiap jengkal ingatan hidup kita, saat-saat terpenting dalam hidup kita bisa saja dikenang melalui sebuah musik atau lagu. Di Indonesia siapa yang tidak kenal Ahmad Dhani, dia yang hampir setiap hari muncul di infotaiment berikut gossip-gosip dan permasalahan rumah tangganya. Namun bukan karena itu saya membahasnya. Namun kejeniusan karya-karyanya dan sense of bussines dalam bermusik.
Dewa 19, Dewi-Dewi, Ahmad Band, dan The Rock adalah nama-nama besar yang dihasilkan oleh tangan dingin Ahmad Dhani. Musik yang pada awalnya adalah sebagai bentuk luapan ekspresi dan bentuk idealisme dalam berkarya. Pada perkembanganya menjadi sebuah komoditi bisnis bernilai milyaran rupiah. Musik sepertinya tidak hanya menjadi sebuah hiburan semata namun seperti yang telah saya katakan di awal, kini lebih menjadi sebuah kebutuhan. Karena pada sebuah penelitian Stefan Koelsch di Institut Kognitif dan Neurosains Max Planck di Universitas Leipzig, Jerman, diperoleh hasil rekaman respon elektrik otak terhadap berbagai akor[1]. Dimana hasilnya berisi bahwa orang yang tidak mengenal tangga nada pun akan dapat menikmati musik dan membentuk kesadaran yang ”tak disengaja” terhadap suatu tangga nada.
Ahmad Dhani kemudian dengan cerdik menangkap fenomena ”kebutuhan” akan musik ini. Dengan membentuk manajemen Republik Cinta. Diakui atau tidak langkah ini sungguh jenius, karena dengan sendirinya Ahmad Dhani menjadi pemimpin dari sebuah manajemen musisi besar. Tidak kurang dari empat nama group band yang bernaung dibawah manajemen republik cinta, seperti The Rock[2], Andra And The Backbone, Dewi-Dewi, Mulan Jameela dan Dewa 19 sendiri.
Sebenarnya ia bukan orang pertama yang memanfaatkan nama besar yang dimiliki, untuk kepentingan materi. Banyak artis-artis dunia yang terlebih dahulu memanfaatkan nama besar dan karisma yang dimiliki untuk memperoleh kemapanan finansial. Oprah Winfrey dan Ozzy Osbourne contohnya, dengan bermodal nama saja. Mereka bisa meraup uang hingga jutaan dolar. Oprah yang memiliki jaringan radio, majalah, website, dan rumah produksi[3] yang hampir semua berlabel namanya. Sehingga Winfrey, dengan nilai kekayaan sekitar US$1,5 miliar, dengan mudah bertengger di puncak daftar Forbes.com. Ozzy Osbourne rocker uzur yang membuat festival musik legendaris yang bernama Ozzt fest, yang konon pemasukan dari acara ini bisa mencapai puluhan juta dolar.
Ahmad dhani bisa dikatakan hanya ”sedikit” saja berkeringat dalam usahanya membangun kerajaan republik cinta. Kerja keras selama bersama dewa 19 telah memberinya banyak jaringan bisnis yang kemudian memuluskan jalannya mengembangkan artis-artis Republik Cinta. Hal ini sah-sah saja, karena tipikal orang indonesia yang mudah fanatik terhadap suatu hal yang dianggap sedang tren atau biar dikata gaul.
Di Indonesia eksistensi artis dan musisi memiliki dominasi kekuatan sosial yang lebih hebat daripada tokoh agamawan dan politikus. Hal ini bisa kita lihat dari presentase kehadiran penonton konser, ceramah agama dan seminar-seminar. Contoh yang lebih parah lagi kita bisa melihatnya saat pemilu, dimana masing-masing calon akan berusaha menggaet artis-artis dan band-band terkenal untuk memeriahkan kampanye mereka. Penggunaan artis-artis dan musisi terkenal dalam kampanye pada awalnya ditujukan untuk menghibur saja, namun pada perkembangnya menjadikan dirinya sebagai kekuatan hegemoni dalam mengkonstruk bangunan kognitif dan tindakan sosial masyarakat.
Musik memiliki daya magis sangat luar biasa dalam menggerakan, mengkontrol, dan membangun masa. Hanya butuh sebuah nama besar dan karya-karya sederhana yang mudah dinikmati, akan membuat seseorang lebih berkuasa dari seorang pemimpin. Contoh nyata adalah pada malam tahun baru 2008, tercatat dalam semalam pantai ancol dipenuhi lebih dari seratus ribu orang. Pada saat itu manajemen republik cinta menampilkan artis-artis mereka. Mulai dari dewa 19, dewi-dewi, dan andra and the backbone tampil menghibur pada malam pergantian tahun. Dalam semalam seorang ahmad dhani bisa mendapatkan pemnghasilan lebih dari 3 milyar rupiah. Sebuah angka fantastis dimana kondisi ekonomi masyarakat kita begitu terpuruk.
seorang artis bisa memiliki penghasilan lebih besar daripada APBD sebuah kabupaten di indonesia bagian timur. Bayangkan apabila pemerintah bisa memanfaatkan fenomena ini dan menggunakannya sebagai sarana pembangunan dan mensejahterakan rakyat. Memang terdengar konyol, pemerintah menjadi sebuah koordinator acara. Namun jika kita bisa berpikir lebih bijak, masyarakat kita sudah terjebak dalam sebuah budaya konsumeris dan pengkultusan seorang idola. Apabila hal ini bisa kita manfaatkan, bukan tidak mungkin indonesia akan keluar dari keterpurukan yang ada.[]
[1] Djohan, Psikologi Musik, Penerbit Buku Baik Yogyakarta.
[2] Ahmad dhani dalam penggarapan band ini bekerjasama dengan band hardcore dari Australia The Hospital
[3] kecuali rumah produksi yang bernama Harpo.
Permission to Land: Album Penyelamat Rock N Roll
May 14th, 2010
-Nuran Wibisono-
Kapan terakhir kali anda melihat ada sebuah band keren dengan anggota bersaudara? Saya masih menganggap The Black Crowes adalah generasi terakhir band keren dengan anggota bersaudara. Oasis? Mereka lebih banyak membual, bertengkar, dan membacot ketimbang bermain musik dengan benar setelah album terbaik mereka (What’s The Story) Morning Glory. Jonas Brother? Ayolah, jangan membuat saya tertawa.
Tapi pada tahun 2003, siapa sangka di tengah gemuruh musik aneh bertajuk pop punk, ada sebuah band ugal-ugalan muncul, dengan attitude rock n roll, dan suara gitar yang padat meraung. Vokalis dan gitaris mereka ternyata bersaudara.
Sambutlah The Darkness, sebuah band hard rock yang langsung menendang pantat para anak bau kencur yang doyan pamer boxer. Entah kebetulan atau tidak, mereka berasal dari Inggris, negeri para dewa musik macam The Beatles, Rolling Stones, the Who, dan Led Zeppelin.
Perkenalan awal saya dengan The Darkness berawal dari keping mp3 bajakan seharga 5 ribu rupiah. Saya lupa kenapa saya membeli cd bajakan itu, seingat saya karena di cd itu ada album milik The White Stripes. Saya sama sekali tak kenal The Darkness sebelumnya.
Tapi pada suatu malam, ketika saya memutar acak cd itu, ada satu buah lagu yang langsung membuat mata saya terbelalak. Lagu itu adalah Black Shuck. Sebuah lagu yang diawali dengan suara gitar yang meraung dengan kasar. Belum kaget keterkejutan saya, telinga saya langsung dibombardir dengan suara falsetto melengking sang vokalis. Gila! Malam itu saya tak jadi tidur, terus mengulang album berjudul Permission to Land itu hingga cd bajakan itu tak lagi bisa diputar.
Permission to Land adalah album penyelamat bagi music rock. Kalau saja album ini tak pernah dirilis, maka seluruh genre music rock akan mati, digilas oleh musik pop punk. Album ini seakan menjadi pembenaran bahwa musik rock tak pernah mati.
Bagaimana tidak, semua tentang rock n roll ada di dalam album ini. Mulai suara gitar yang galak menyalak, suara falsetto sang vokalis, hingga rhythm section yang padu antara bass dan drum. Disaat semua anak band kemaren sore berlomba-lomba ingin terlihat keren dengan memakai celana pensil dan kaos hitam, para anggota The Darkness masih setia dengan celana baggy dan ham cerah press body. Hal ini masih ditambah pula dengan tingkah absurd para personilnya, terutama Justin Hawkins sang vokalis cum gitaris.
Di saat band lain hobi memperlihatkan boxer, Justin malah lebih memilih untuk telanjang sekalian. Kalau di video klip para band pop punk, berseliweran para gadis dengan buah dada besar nan artificial, maka The Darkness dengan gilanya membuat video klip yang menceritakan kalau mereka adalah manusia hasil dari persetubuhan naga hijau dengan pesawat luar angkasa (dimana naganya terlihat sangat buruk). Video absurd ini dibuat untuk single Growing on Me.
Di video klip ini pula anda akan melihat betapa eksebisionisnya Justin. Beberapa kali tampak video menyorot Justin tampil telanjang. Yang lebih seru lagi adalah melihat bagaimana cara Justin bermain gitar. Kalau Chuck Berry terkenal dengan duck walking-nya, maka saya meramalkan Justin akan melegenda dengan gaya Ass Shaking-nya.
Lagu-lagu dalam album ini adalah sebuah contoh yang sangat baik tentang bagaimana musik rock n roll dimainkan. Tak perlu berpanjang-panjang tanpa makna dan tak perlu pula shredding. Yang penting adalah bagaimana membuat hook yang mantap, tingkah polah absurd, dan attitude yang bisa membuat wanita menjerit.
Untuk pembuka, coba dengar lagu terbaik mereka di album ini, “I Believe in a Thing Called Love.” Sebuah lagu dengan hook gitar yang seketika akan menampar anda bolak-balik. Lalu lagu berjalan perlahan dengan suara gitar yang masih menyalak. Lalu pada bagian bridge, anda akan menemukan suara falsetto Justin yang berakrobat dengan indahnya. Lantas pada bagian reff-nya, anda akan terhenyak kaget begitu mengetahui suara falsetto bisa melengking dan jadi indah secara bersamaan. Pada solo gitar, anda pasti akan tersedu sedan setelah mendengar melodi yang pendek, indah, namun meraung-raung.
Video klip untuk lagu ini pun bisa dibilang sangat absurd. Saya tak tahu apa obsesi The Darkness pada pesawat luar angkasa dan mahluk buatan yang aneh nan buruk rupa. Namun video klip ini dibuka oleh pesawat luar angkasa, dan lantas menyorot Justin yang baru mandi, dan telanjang pastinya. Cara berpakaian Justin, cara bernyanyinya, anatomi gigi dan bibir, hingga raut muka, mengingatkan saya pada Freddy Mercury. Bagian solo gitar dari Dan mungkin adalah salah satu adegan paling keren dalam video klip ini. Dan memainkan gitar Les Paul hitamnya dengan latar belakang amplifier Marshall yang berjumlah ratusan. Di bagian solo akhir yang dimainkan oleh Justin, muncullah laser-laser dari ujung gitarnya, lantas menghancurkan kaki-kaki gurita luar angkasa yang menghinggapi pesawat mereka. Brengsek, surrealis sekaligus absurd bukan?
Lagu lain yang harus anda dengarkan adalah lagu berjudul “Friday Night.” Lagu ini mungkin adalah lagu terindah sepanjang masa mengenai secret admirer dan ekstra kurikuler. Friday Night bercerita mengenai seorang pria nerd yang jatuh cinta dengan seorang wanita yang dikenalnya dari beberapa kegiatan ekstra kurikuler, mulai dari memanah, gymnastic, bridge club, hingga badminton.
Sepertinya hampir semua rocker sejati bisa menulis lagu romantis yang tidak cengeng. “Friday Night” adalah satu bukti tak terbantahkan. Dengan gaya bahasa yang sederhana, Justin menyebut sang wanita idaman sebagai Lady, bukan dengan sebutan pussy yang biasa ditulis oleh banyak rocker kacangan. Justin juga menyebut perasaannya sebagai adoring bukan hanya loving atau caring. Dan perhatikanlah, bagian solo gitar di bagian akhir lagu. Sumpah, mungkin anda akan terduduk tersimpuh, menyesali kenapa bukan anda yang menciptakan melodi seindah ini.
Tapi lagu romantis terbaik menurut saya ada pada lagu berjudul Love Is Only A Feeling. Lagu ini dibuka dengan drum yang berkelindan dengan solo gitar yang merintih lirih tapi dilapisi oleh rhythm yang tebal. Liriknya pun sederhana, namun seperti mempertanyakan kebenaran cinta. Lirik macam Love is only a feeling// (Drifting away)// When I’m in your arms I start believing// (It’s here to stay) But love is only a feeling//Anyway/ / adalah sebuah lirik yang memuja cinta sekaligus mempertegas bahwa cinta itu hanyalah sebuah perasaan, tak lebih.
Lagi-lagi solo gitar di lagu ini akan membuat anda berani membuat perjanjian dengan setan agar bisa mahir bermain gitar. Dengarkan secara menjiwai solo gitar di akhir lagu. Solo gitarnya mengalir begitu lembut, garang, meraung, mendesah, dan berlari pada saat yang bersamaan. Bisa jadi solo gitar ini adalah bagian solo gitar terbaik pada album Permission To Land ini.
Apa anda berpikir kalau saya membual? Sebuah penghargaan bertajuk BRIT Awards diberikan pada The Darkness pada tahun 2004 untuk kategori Best Group, Best Rock Group dan Best Album untuk Permission to Land. Mungkin para petinggi BRIT Awards sudah muak dengan segala macam band British yang mengekor Oasis dan The Smiths. Masih belum cukup? Majalah musik terkenal, Kerrang!, memberikan penghargaan Best Live Act dan Best British Band bagi The Darkness. Pada tahun 2003 majalah Metal Hammer memberikan penghargaan ‘Golden God’ untuk Best Single (Get Your Hands Off My Woman). Lagu ini sendiri penuh dengan liukan akrobatik suara falsetto Justin yang liar. Mungkin yang paling unik adalah penghargaan Elle Style Award sebagai Most Stylish Band. Dan ya, saya dari tadi tidak membual bukan?
Band ini merilis album kedua mereka, One Way Ticket to Hell… And Back pada November 2005. Sayang, album ini tak bisa menyamai kehebatan album pertamanya. Di album kedua ini pula, sang bassis Frankie Poullain keluar karena perbedaan visi bermusik. Dia digantikan oleh Richie Edwards, mantan tekhnisi gitar Dan.
Meskipun tak segarang album pertama, album kedua ini masih menyimpan beberapa lagu dahsyat seperti “One Way Ticket to Hell… And Back” yang garang dan sedikit bernuansa timur tengah. Ada juga Girlfriend yang bernuansa rock 80-an lengkap dengan video klip ala pecinta disko 80-an. “Hazel Eyes” juga menjadi lagu yang mantap di album ini. Di album kedua ini, The Darkness masih suka omong besar. Pada video klip One Way Ticket, ada narrator yang membacakan teks “The year is 2005, the absence of significant rock-based music of exceptional quality has resulted in the unthinkable… hell has frozen over.” Video klip ini juga lucu sekaligus unik. Seakan menyindir para rocker kacangan yang sok jago. Mungkin Justin mengamini kutipan Nietszche “Hell is full of amateur musician”.
Pada tahun 2006, sampailah titik henti bagi band ini. Justin Hawkins memutuskan untuk mundur dari band sensasional ini. Dia lebih memilih untuk mengikuti rehabilitasi alkohol dan narkoba. Dan Hawkins memutuskan untuk meneruskan band ini dengan Richie sebagai front man. Tapi saya berpikir, tanpa Justin, band ini hanya akan menjadi band hard rock biasa yang bisa ditemui di bar manapun di Inggris.
Tapi pada Mei 2009, Justin dan Dan sempat manggung bersama membawakan I Believe in a Thing Called Love. Rumor mengatakan bahwa The Darkness akan terbentuk kembali dengan Justin sebagai vokalis utama.
Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa Is This It dari The Strokes adalah album penyelamat rock n roll. Saya jelas tidak setuju. The Strokes jelas terlalu “manis” dan rapi untuk sebuah agama bernama rock n roll. Menurut saya, ada dua alasan mengapa mereka berkata The Strokes adalah penyelamat rock n roll. Satu: mereka tidak pernah mendengarkan The Darkness. Yang kedua adalah mereka sepertinya bukanlah hamba rock n roll.[]
KAWAH IJEN: PESONA BELERANG DI TIMUR PULAU JAWA
May 10th, 2010
-Nuran Wibisono-
Kawah Ijen selalu menjadi magnet yang kuat bagi para fotografer. Semenjak James Natchwey, sang fotografer legendaries pernah mengunjungi Ijen, sontak tempat ini menjadi jujugan utama para fotografer ketika berada di Jawa Timur.
Kalau melihat kontur, Ijen jelas berbeda dengan Bromo. Meski sama-sama objek wisata, keduanya memiliki ciri khas yang berbeda di setiap lekuk tubuhnya. Bromo dengan lautan pasir yang eksotis, para manusia suku tengger yang bersahaja dan tentu saja sunrise yang memikat. Ijen unggul di dalam medan. Jika para fotografer yang juga petualang merasa sedikit bosan dengan medan Bromo yang kurang menantang, cobalah pergi ke Kawah Ijen. Dijamin anda akan puas dengan agenda trekking yang lumayan menguras tenaga. Perjalanan menuju kaki Kawah Ijen juga cukup menyenangkan. Sejak melewati desa terakhir, anda akan disuguhi pepohonan besar di kanan kiri. Tampak masih belum dijamah tangan usil manusia. Akan lebih terasa menantang jika anda menaiki sepeda motor di malam hari. Bukan suasana mistis yang terasa, melainkan ketenangan yang kadang-kadang dirindukan oleh orang-orang yang sudah muak dengan hingar bingar perkotaan.
***
Malam itu sama dengan malam-malam yang lain. Dingin, tapi tidak menusuk tulang. Tapi hawa berubah drastis saat kita sudah melewati desa terakhir menuju Kawah Ijen. Di kanan kiri terlihat pohon berukuran raksasa yang dirambati oleh semak belukar yang jelas bisa menghalangi sinar matahari jika pagi. Aku menebak, sebelum roda zaman memasuki area ini, pastilah area ini adalah hutan belantara yang lebat tak ketulungan. Ada aura yang berbeda di hutan ini. Seakan ada banyak “penunggu” yang bersemayam di tempat ini sambil mengawasi para pendatang.
Terakhir aku pergi ke Ijen, kalau gak salah pertengahan tahun 2005. Ya, sudah 4 tahun lamanya aku tak mengunjungi tempat ini. Saat itu aku dan teman-teman seangkatanku mengantarkan adik-adik calon anggota Hega’s Wana (Organisasi Pecinta Alamku pas SMA) untuk sekedar hiking. Aku sempat kaget dengan permukaan jalan yang berubah drastis. Terlihat lubang besar menganga di kanan kiri bahkan di tengah jalan. Aspal terkelupas karena setiap hari harus bergesekan dengan roda truk yang besar dan angkuh yang menggilas aspal tanpa ampun. Akibatnya aspal harus terkelupas, meninggalkan lubang besar yang siap menjatuhkan kita kalau kita lengah.
Berapa kali kita harus bermanuver untuk menghindari lubang keparat itu. Oh ya, kali ini yang berangkat ke Ijen ada 4 orang. Ada si Miko yang tetap setia dengan sepeda Kawasaki blitznya sambil membonceng Mas Mamuk dan Aku yang membawa sepeda Supra si Aris yang harus menggonceng seorang pemuda yang lebih mirip om lemah syahwat bernama Inu. Berangkat dari Jember jam setengah delapan malam, seharusnya kita bisa sampai di Ijen jam sepuluh malam lebih sedikit. Namun karena kondisi jalanan yang becek gak ada ojek (jangan ucapakan dengan pelafalan ala Cinta Laura atau saya cekik anda!) dan hancur gak karuan, kami baru bisa sampai dengan selamat di kaki Kawah Ijen saat jarum jam digital di handphone menunjuk angka sebelas malam lebih sedikit. Setelah sedikit berbasa-basi dengan penjaga wisma di Ijen, kami memutuskan untuk menyewa 1 kamar saja. Bukan karena duit gak ada, tapi karena memang hanya tersisa satu kamar untuk disewakan.
“ lagi banyak turis datang mas, kamar pada diborong semua” kata pak tua penjaga losmen yang masih tampak gagah di usianya yang aku taksir sudah mencapai angka kepala enam.
“ya udah pak, kita sewa 1 kamar aja pak. Berapa tarifnya sekarang” kata si Miko menimpali.
“sekarang tarif kamarnya 75 ribu dik” jawab pak tua itu sambil membuka buku penyewaan.
Setelah membayar ongkos losmen, kami yang menggigil kedinginan langsung diantar menuju kamar. Kamar itu kecil, hanya berukuran 4X3 meter. Hanya ada 1 ranjang dan satu selimut serta 1 meja sebagai penghias ruangan berdiri kedinginan di pojokan kamar. Kami yang kelelahan langsung saja rebah di atas kasur sambil tetap memakai jaket dan berselimut. Hawa di Ijen memang dingin gak ketulungan. Waktu aku SMA dulu, seingatku hawa disini pernah mencapai 12 derajat celcius. Entah berapa temperaturnya sekarang. Bisa jadi lebih sedikit hangat karena efek dari global warming. Saat aku menuju tidur, pikiranku melayang di masa SMA ketika kami bahkan mencandu dengan hawa gunung yang dingin. Tak perlu menyewa losmen, cukup membawa tenda dome dan jaket, jadilah kita kemping di Ijen dan bersenang-senang sambil memandang bintang yang selalu tampak jauh lebih indah dibandingkan jika kita melihat dari kota. Gak percaya? Silahkan coba sendiri. Dan ingatan itu membawaku pada tahun 2003, masa awal aku mencandu hawa gunung.
***
Pertengahan Tahun 2003. Aku, Fahmi, Gokong dan Umbar berdiri seperti orang tolol di depan sekolahku. Dengan memanggul carrier yang berisi aneka macam peralatan naik gunung, kami sedang menunggu seseorang. Namanya Fauzan. Orang yang kami tunggu itu adalah senior pecinta alam di sekolahanku. Dia berjanji akan mengantar kami ke Kawah Ijen. selang setengah jam kami menunggu, tampak seorang berbadan kecil turun dari angkot. Dia Fauzan. Tapi satu yang membuat kita bertanya-tanya, kenapa dia tidak membawa perlengkapan apa-apa? tas punggung saja dia tak bawa. Kenapa ini?
Pertanyaan itu terjawab ketika dia dengan sedikit berlari menghampiri kami.
“aku gak sido melu rek, ono urusan mendadak” katanya sambil tersenyum seakan tak punya dosa. Kami Cuma bisa melongo, terdiam tak tahu harus ngomong apa. bukannya apa, kami berempat sama sekali belum pernah naik gunung sebelumnya. Kami hanya anak-anak liar yang suka bermain di alam bebas. Telanjang mandi di sungai, mencuri tebu atau degan adalah hobi kami, tapi jelas, naik gunung merupakan suatu yang asing bagi kami. Semenjak SD, saat aku tahu seorang bernama Soe Hok Gie tewas di gunung Semeru, aku yakin bahwa gunung bukanlah tempat yang bisa dibuat main-main. Ya betul, saat itu aku takut dengan gunung. Tapi saat melihat foto ayahku yang gagah, dengan rambut gondrongnya, memanggul carrier dan berdiri gagah di Semeru, aku juga yakin bahwa gunung sebenarnya bisa dijadikan sahabat. Dan saat itu pula aku yakin, menjadi seorang pendaki gunung itu keren.
Tapi kembali, nyali kami diuji. Kami dilepas tanpa seorang leader di perjalanan pertama kami. Di bayangan kami, Ijen itu tempat yang liar, penuh pepohonan yang lebat dan bahkan mungkin ada macan yang berkeliaran. Terlihat tolol memang tapi itulah akibatnya kalau tidak pernah observasi sebelum mengadakan perjalanan. Oh, andai saja saat itu aku tahu bahwa Ijen itu adalah objek wisata. Andai saja aku tahu bahwa jalanan menuju Ijen teraspal dengan baik. Tapi akhirnya dengan tekad membaja dan semangat 45 yang berbeda tipis dengan nekad, kami memutuskan untuk berangkat. Persetan dengan senior yang tidak bisa mengantar, persetan dengan macan, persetan dengan rektorat (lho?!)
Dengan langkah yang sok gagah, kami berempat menaiki sebuah bus reot antar kota. Kita akan menuju Bondowoso, kota tempat lokasi Kawah Ijen berada. Sepanjang perjalanan kami tak henti bercanda. Kebetulan teman seperjalananku adalah 3 orang yang cukup gila.
Fahmi yang sampai saat ini tetap menjadi partner in crimeku adalah sesosok anak bertubuh sedang, tinggi badannya hampir sama denganku. Namun yang membedakan adalah kulitnya yang hitam legam dan rambut dicukur pendek. Omongannya penuh sarkasme, sama saja dengan aku dan banyak alumni SMA ku yang hobi ngomong kasar. Anak hitam ini sering menjadi objek hinaan yang paling pas, entah karena kulitnya yang gelap atau sifatnya yang kadang sedikit narsis yang bikin orang serasa pengen mencekiknya.
Yang satu lagi, Gokong , anak yang berbibir seksi, bahkan cenderung terlalu seksi. Nama aslinya Septian, namun dia lebih akrab dipanggil Gokong. Aku tak perlu lah menjelaskan asal usul nama tolol itu. Namun kalo kalian tahu cerita biksu Tong Sam Chong yang berkelana mencari kitab suci, kalian pasti tahu siapa Go Kong itu.
Namun manusia paling aneh dalam rombongan ini adalah seorang mahluk dari Mars bernama Umbar. Entah apa maksud orang tuanya mengasih nama dia Umbar. Yang pasti nama itu benar-benar mencerminkan orangnya. Dia suka mengUmbar dirinya kesana kemari, hehehe. Yang unik dari mahluk ini adalah rambutnya. Perpaduan antara botak dan belah pinggir ekstrim yang dengan gagahnya menampilkan dahinya yang seksi. Ditambah bentuk bibir yang melebar kesamping terlalu ekstrim, jadilah manusia satu ini sebagai maskot angkatan kami.
Tololnya anak ini juga gak ketulungan. Yang paling parah adalah saat dia diserahi tugas membawa pisau lapangan. Tahu apa yang dibawanya? Pisau dapur! Ya, PISAU DAPUR! Pisau yang bahkan untuk dibuat mengiris kue aja kadang kesulitan. Pisau dapur yang dibawanya itu kecil, imut dan bentuknya sudah tidak simetris, bengkok kesana kemari. Jelas sudah pisau itu telah mengkhianati teori presisi ala Newton. Mungkin kalau pisau itu ditusukkan ke macan, macannya mungkin hanya akan tertawa geli serasa digelitik…
Setelah sampai di terminal Bondowoso, kami harus 2 kali menaiki angkot. 1 angkot dan 1 bison tepatnya. Bison ini kendaraan serupa minibus yang berukuran besar, yang khusus dipakai di daerah pegunungan seperti di daerah Ranu Pane, kaki gunung Semeru atau di daerah kaki Kawah Ijen ini. Biasanya kendaraan ini dipakai untuk mengangkut orang dan hasil pertanian. Kapasitas kendaraan ini sebenarnya cukup untuk 12 orang. Namun ditangan orang yang tepat, kapasitasnya bisa bertambah sampai 17 orang, bahkan 20 orang. Tentu dengan memaksa orang untuk masuk ke dalam. Gak peduli orangnya duduk di muka penumpang lain, ato berdiri sambil membawa sayur. Yang penting masuk aja.
Setelah sampai di camp, kami cuma bisa bengong. Tempatnya gak seseram yang kami bayangkan. Camp di kaki gunung Ijen itu berupa kumpulan dari beberapa bangunan, mulai wisma hingga rumah makan sederhana. Begitu terang dan sama sekali tidak menunjukkan kesan angker. Sesekali terlihat beberapa pasangan berseliweran naik sepeda motor dan tentunya mereka berpelukan erat. Langsung saja kami menggelar tenda, menaruh matras di dalam tenda dan leyeh-leyeh. Sementara Gokong dan Umbar mengambil air, rupanya Fahmi punya rencana lain.
“Munggah disek ta ran?” tanyanya padaku meminta persetujuan untuk naik terlebih dahulu menuju kawah.
“Lha arek-arek piye?” tanyaku menanyakan nasib 2 orang mahluk aneh itu.
“gak popo, wis tuek le, mosok wedi ditinggal (gak apa-apa lah, mereka sudah tua, masa takut ditinggal)” jawab si Fahmi licik sambil memasang muka mesum.
“oh yo wis, ayo munggah wis!” jawabku semangat
Jadilah sore itu kami berdua trekking menuju puncak Ijen yang kawahnya terkenal di seluruh dunia itu. Papan plang menunjukkan angka 3 km untuk menuju puncak. Namun rupanya itu hanya bualan para pengelola tempat ini agar para wisatawan masih mau trekking menuju puncak. Namun ada satu plang yang luput kami baca, disana rupanya tertulis “dilarang mendaki diatas jam 4 sore”.
Kami mendaki dengan semangat 45. Meski kami tak tahu medan. Kami bahkan tidak membawa air. Sombong sekali kami! Dan tuhan akan menghukum orang-orang yang sombong. Ternyata medan menuju puncak tidak seenteng yang kami bayangkan. Pada awalnya, jalan masih datar sambil sesekali diselingi tanjakan kecil. Namun setengah jam setelah itu, jalanan menanjak tajam. Tajam, tajam hingga beberapa kilometer. Dan jelas, hal itu membuat kami kelelahan. Ditambah pula dengan tinggi permukaan laut yang menyebabkan udara semakin menipis, lengkap sudah penderitaan kami. Kami tergeletak di tengah jalan, kehausan.
Fahmi yang sedikit tolol terus-terusan berteriak panik “DEHIDRASI, DEHIDRASI!” berkali-kali. Aku yang baik hati ini mencoba menghibur diri dengan beberapa kali memukul kepalanya dengan batang kayu. Saat maut hampir menjemput (hiperbola!!) datanglah dari kejauhan seorang tua memanggul pikulan dan benda berwarna kuning didalamnya. Beliau dengan senyum bersahaja bertanya
“kenapa dik?”
“uhhh, uhhhh, uhhh…” kami tak bisa menjawab , hanya merintih. Sebenarnya rintihan kami berusaha menunjukkan kalau kami sedang kehausan. Namun rintihan kami lebih mirip rintihan kambing yang sedang berhubungan seks. Sejenak bapak tua itu bingung. Namun saat kami berpantomim menunjukkan gerakan orang yang butuh air, barulah pak tua itu paham.
“ini diminum dulu dik” jawabnya tersenyum sambil mengulurkan botol berisi air putih.
Bagaikan orang Afrika yang jarang melihat air, kami kalap. Buas. Beringas menyerbu botol air itu. Kami minum sepuas-puasnya sampai lupa kalau bapak tua itu mungkin juga butuh minum. Setelah kami lega karena kerongkongan telah basah tersiram air, barulah kami dengan tololnya mengucapkan terima kasih pada bapak tua bersahaja itu.
“makasih ya pak. Mungkin kalau tidak ada bapak, kami akan mati merana” kata si Fahmi hiperbola. Aku Cuma menimpali saja.
“iya dik. Kok adik-adik gak bawa minum?” Tanya beliau ramah
“kami kira jarak ke puncak itu dekat pak. Jadi kami merasa tak perlu membawa air” jawabku penuk kesotoyan.
“lho. Adik belum pernah kesini ta? Wah, ada baiknya kalo mau naik gunung itu…….” Meluncurlah kata-kata bijak dari bapak tua itu. Bagaimana kita seharusnya tidak boleh meremehkan gunung. Bagaimana kita harus menganggap gunung sebagai teman yang harus diakrabi bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan.
“karena bagaimanapun, kita tak akan bisa menang melawan alam, dik” kata bapak tua itu penuh petuah. Wajahnya keras. Dengan tulang rahang yang menonjol pula. Jelas sekali bahwa bapak ini telah ditempa oleh kerasnya hidup. Tampak keras dari luar, namun ternyata hatinya lembut bagai salju. Beliau yang telah banyak makan asam garam kehidupan itu merupakan sosok yang sederhana. Yang rela menolong 2 anak tolol yang sedang kehausan. Kalian tahu siapa bapak tua itu? Bapak tua itu adalah salah satu dari puluhan penambang belerang yang setiap kali bekerja, harus bangun jam 3 pagi lalu pergi ke puncak, turun ke kawah, menambang belerang. Naik dari kawah sambil membawa puluhan kilo belerang. Berhenti sejenak di pos penambang untuk sekedar melepas lelah dan menimbang belerang. Tahukah kalian kalau sekali pikul belerang, mereka membawa lebih dari 60 kg belerang. Bahkan ada yang lebih dari 70 kg. Ironisnya, harga belerang saat ini Cuma Rp.700 / kg. Namun mereka tak pernah mengeluh terhadap garis takdir yang mengharuskan mereka berada di Kawah Ijen dan hidup sebagai penambang belerang. Mereka adalah sosok antithesis dari mitos para pribumi malas. Di mataku mereka adalah sosok manusia sederhana yang nrimo yang juga merupakan pekerja keras. Sosok punggung bapak tua itu yang berjalan meninggalkan kami masih membekas di otakku sampai sekarang…
***
Kami sampai di puncak saat keadaan sudah sepi sama sekali. Tidak terlihat orang dimanapun. Hanya kami berdua yang merasa bangga karena merasa telah berkawan dengan Kawah Ijen, hingga kami diperbolehkan berdiri di puncaknya.
Kawah Ijen memang menyimpan sejuta pesona yang tak pernah pudar. Air kawah yang berwarna hijau tua seakaan merupakan refleksi dari warna biru langit. Asap belerang yang mengepul terus menerus juga menambah eksotis pemandangan di puncak Ijen ini. Hawa dingin yang menusuk tulang menjadi tak terasa karena badan sudah menjadi hangat karena berjalan tadi. Setelah beberapa saat menikmati pemandangan puncak Ijen, kami memutuskan turun. Ternyata akan ada kehebohan yang menunggu kami di bawah…
Ternyata 2 orang aneh bernama Gokong dan Umbar panik melihat tenda kosong melompong. Dengan panik pula mereka melapor ke petugas jaga, dengan tololnya mereka melaporkan kalau kami hilang. Jadilah petugas jaga juga panik mencari kami yang disangka hilang sementara kami berdua dengan geblek berjalan santai sambil memetik kembang yang kami kira edelweiss. Begitu Gokong, Umbar dan petugas jaga melihat kami berjalan dengan santai, langsung saja 2 orang teman aneh kami itu berlari menghampiri kami dan “menghajar” kami… kepala kami dijadikan sansak hidup oleh 2 orang monster dari Taman Nasional Meru Betiri itu. Pak petugas jaga hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan 4 orang anak ajaib ini.
Malamnya sambil memandang bintang mirip orang homo, kami tidur-tiduran. Si Umbar dengan pongahnya beli sebotol anggur cap orang tua, “untuk menghangatkan tubuh” katanya sok imut sambil lupa kalau wajahnya mirip Alien. Jadilah 3 orang itu, minus aku, menghangatkan tubuh dengan minum sebotol anggur. Namun sebotol anggur itu menjadi bencana saat malam tiba. Di puncak hawa dingin yang semakin menggigit, kaki Umbar tanpa sepengetahuan kami menyenggol botol yang tidak ditutup dengan rapat. Jadilah anggur yang masih banyak itu tumpah dan membasahi tenda kami. Dan anggurnya itu dingin!! Jadilah kami geger di tengah malam gara-gara anggur keparat itu. Dan tak lupa, kami bertiga mendaratkan bogeman sayang ke kepala Umbar, hehehe.
Paginya, aku dan fahmi ternyata masih kecanduan oleh indahnya puncak Kawah Ijen. jadilah kami naik lagi dibarengi Gokong. Umbar? Jangan Tanya. Mahluk Mars unik itu lebih memilih untuk diam di tenda. Rencana awal kami akan pulang 2 hari kemudian. Tapi muncullah satu lagi ketololan Umbar.
“rek, mulih yuk” ajak si Umbar.
“laopo mulih saiki cuk? Rencanane kan 2 dino maneh baru mulih. Kesuk kan sik raportan. Kan sing ngapek wong tueke awake dewe (ngapain pulang sekarang cuk? Kan rencananya 2 hari lagi baru pulang. Besok kan masih pembagian raport. Yang ngambil kan orang tua kita)” jawab si Gokong seakan mengingatkan aku kalau besok adalah hari pembagian raport.
“lah iku masalahe (nah, itu dia masalahnya)” kata si Umbar dengan muka anehnya.
“opoo cuk?” sahutku sarkas.
“aku durung ngumpulno raport, hehehe (aku belum ngumpulin raport)” jawab si Umbar dengan goblok.
“hah!!! Jancuk koen! Sing genah cuk! Trus yo opo iki??” sahut si Fahmi panik.
Itulah Umbar, mahluk mars yang menjadi sahabat kami. Mahluk aneh yang terkesan sebagai mahluk planet daripada manusia bumi. Dengan gobloknya dia belum mengumpulkan raport sementara besok adalah hari pembagian raport. Dia kira sekolahan nenek moyangnya apa? dia kira si wali kelas punya cadangan buku rapor jadi Umbar gak perlu mengumpulkan rapor? Masalahnya Umbar gak paham dengan hal seperti itu. Jadilah dia dengan tolol masih menyimpan raportnya di laci mejanya. Akhirnya dengan tergopoh-gopoh diselingi dengan mengeplaki kepala si Umbar, kami pulang siang itu juga. Untuk Jalur pulang kami mencoba mengambil jalur Banyuwangi.
Aku rasa tidak perlu lah aku menceritakan perjalanan pulang kami yang penuh dengan ketololan dan kemelaratan. Intinya perjalanan pulang kami penuh dengan cerita. Mungkin lebih enak jika diceritakan langsung. Sampai Jember setelah isya, kami bertiga pulang kerumah masing-masing dan Umbar pulang kerumahnya untuk ngambil raport untuk kemudian diserahkan ke Wali Kelasnya.
Esoknya, hari pembagian raport… nilaiku 78, Fahmi 78, Gokong 79 dan Umbar 78. Asal tahu saja, batas nilai minimal untuk syarat agar bisa naik kelas adalah 78. Dan kami dengan tololnya bernilai pas-pasan. Dan aku mencatatkan nilai 4 di raportku untuk mata pelajaran Geografi karena kebanyakan bolos… si Umbar yang tolol sedikit berfalsafah bilang:
“ibarat masakan, bumbu harus pas. Kalau kurang bumbu, rasa gak mantep. Kalau kelebihan malah gak enak. Begitu juga nilai raport. Harus pas. Kalau pas-nya itu 78, gak perlu lah kita lebihin. 78 saja sudah cukup. Sudah lezat” kata dia sotoy. Mungkin karena menganut falsafah itu, nilai raport Umbar tak pernah mencapai 80. Selalu berkutat di angka 78 atau 79.
Hummmm, nice philosophy guy.
***
Aku terbangun gara-gara The SIGIT menjerit meneriakkan Clove Doper. Lagu itu memang menjadi suara alarm di Hpku. Dan memang lagu itu ampuh untuk membangunkan orang. Jam sudah menunjukkan pukul 02.55 pagi. Kami bangun dengan sedikit malas. Hawa dingin yang dilawan dengan hangatnya selimut seakan membikin kami malas bahkan untuk sekedar membuka mata. Tapi dengan bantuan The SIGIT yang tanpa lelah berteriak, akhirnya kami bangun juga.
“He smokes super fine clove cigarettes!” Jerit Rekti mantap.
Setelah sadar, kami pun bersiap-siap. Memakai sepatu, mengecek peralatan, memanggul tripod dan tak lupa bekal untuk perjalanan. Dan kami pun keluar dari kamar berukuran 3X4 meter itu untuk menuju puncak Ijen.
Kami berjalan perlahan. Jalanan setapak gelap. Bulan tampaknya sedikit malu untuk muncul malam ini. Untunglah ada senter yang dengan setia menuntun jalan kami. Pada awalnya kami berempat, Aku, Inu, Miko dan mas Mamuk dengan gagah berjalan. Tapi selang setengah jam, saat tanjakan mulai menunjukkan tajinya, kelihatan siapa yang berfisik seperti om-om lemah syahwat. Dua laki-laki terseok-seok berjalan seakan tak punya tenaga. Berjalan 10 meter, istirahat 5 menit. Berjalan lagi, namun terkapar setelah 10 meter berikut. Benar-benar mirip om-om impoten.
Saat bulan sudah sedikit mau menunjukkan sinarnya, terlihatlah dua orang laki-laki mirip pasangan gay itu. Olala, ternyata 2 orang itu adalah Inu dan… Aku sendiri. Beugh! Kami benar-benar payah saat itu. Aku yang suka dan kuat mendaki gunung adalah sosok masa lalu. Aku yang sekarang tak lebih dari pria berumur 20 tahun yang lebih mirip om berumur 40 tahun yang kelebihan lemak di bagian perut. Ditambah pula dengan gaya hidup tak sehat – begadang, tak pernah olahraga- lengkaplah syarat menjadi pendaki gunung yang lemah syahwat. Inu sendiri lebih mirip aktor porno di film bokep jepang, dengan wajah lucunya dan kacamata, dia benar-benar mirip kolega Miyabi atau Nana Chunk. Dan dia juga ngos-ngosan, tak jauh beda dengan keadaanku. Benar-benar menyedihkan! Tak jarang kami bahkan tergeletak di tengah jalan sambil kehabisan napas dan lutut bergetar, itulah efek jangka panjang onani kawan. Kita yang sudah mencandu onani semenjak SMP akhirnya kena batunya, lutut bergetar bagai dildo dan kami seakan tak sanggup untuk berdiri. Untung kami berjalan pada dini hari, dimana jalanan masih sepi. Jadi tak ada orang yang melihat kami terkapar di tengah jalan.
Mas Mamuk dan Miko sendiri meski sama-sama lelah tapi sampai lebih dulu di puncak. Aku dan Inu yang letoy berhasil sampai di puncak setengah jam kemudian. Dengan gobloknya kami berteriak “YEESSS!!! PUNCAK!!!”. Sambil duduk di bibir kawah , kami menunggu hari sedikit terang. Mungkin banyak orang berharap bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit seperti di Bromo. Tapi di Ijen ini, hal itu merupakan hal yang sulit. Matahari terbit seakan menjadi pemandangan yang langka.
Setelah hari sedikit terang, barulah Miko dan mas Mamuk beraksi. Si Inu? Ternyata baterai kameranya habis, efek dari suhu yang dingin. Entah gimana ceritanya, aku dan Inu terpisah dari Mas Mamuk dan Miko. Aku dan Inu menerapkan “wisata gay ceria 2008”. Aku mengantar Inu ke tempat yang sedikit melipir ke arah kanan kawah untuk bisa melihat Kawah Ijen secara penuh. Dari tempat ini juga akan terlihat kota Banyuwangi dan Selat Bali yang anggun. Gunung Raung yang terletak di Banyuwangi juga seakan menyapa dari tempat ini.
Saat kita lagi duduk manis melepas lelah, terlihat 2 orang bule berjalan ke arah kami. Aku mencoba sok ramah dan menyapanya
“good morning” sahutku sok tahu, padahal gak tau artinya.
“good morning” bule cowok menyahut dengan ramah.
“Where are you come from?” tanyaku lagi.
“we’re from Czech Republic” jawab sang bule cewek.
Wew. Mungkin mereka tetangganya Pavel Nedved pikirku tolol. Aku dan Inu juga baru nyadar kalau mereka naik keatas Cuma memakai kaos oblong dan celana pendek saja. Sangat kontras dengan pakaianku dan Inu yang lebih cocok saat naik Semeru misalnya. Kami jadi berpikir, pantas saja Ras Kaukasia bisa menjajah kita hampir 350 tahun lamanya, mereka kuat-kuat. Aku juga lalu berpikir, pantas saja bangsa kita dijajah 350 tahun +3,5 tahun, kita saja gak tahan dingin, hehehehe.
Aku dan Inu berjalan lebih jauh, menuju tempat yang aku bilang tadi. Dan 2 orang pasangan dari Ceko itu menatap kami dengan aneh. Entah kenapa. Setelah sampai di tempat yang kami maksud, kami sedikit berfoto-foto lalu kembali lagi. Dan saat aku balik, ketemulah kami dengan 2 orang bule tadi. Dan pandangannya tetap aneh.
Kenapa bule ini tiba-tiba jadi aneh begini? Pikirku bingung.
Kami baru sadar ketika kami sudah sampai kamar losmen di bawah sana. Resleting kami sama-sama terbuka! Ya, RESLETING KAMI TERBUKA! Uooohhhhhh!!!!! Tolol! Mungkin mereka mengira kami adalah 2 orang gay yang sedang bulan madu. Dan saat kami berjalan menuju tempat yang aku maksud, mungkin mereka mengira kami mencari tempat untuk have sex. Arrrrggghhhh!!!!! Kalo di inget-inget, kami emang beneran kayak orang tolol. Contohnya: kami mendirikan tripod di tengah jalan, mengeset timer kamera, lalu kami dengan gebleknya naik ke atas pohon Cuma untuk foto-fotoan. Benar-benar wisata gay ceria 2008! Mas Mamuk dan Miko sendiri benar-benar melaksakan misi mereka untuk benar-benar motret. Mereka berdua turun menuju kawah untuk memotret kegiatan penambang dengan lebih jelas. Aku sendiri pernah turun kesana dan aku berjanji gak akan turun ke kawah lagi. Asap belerang sangat membuat perih mata dan membikin gatal tenggorokan. Belum lagi jalanan yang curam yang seakan bisa saja menjadi pengantar kita menuju akhirat. Mas Mamuk sendiri juga bilang “wis, cukup sepisan wae mudun, gak kapene maneh” katanya menegaskan cukup sekali saja turun ke kawah dan tidak akan turun kesana lagi.
Aku dan Inu turun lebih dulu. Dalam perjalanan pulang, jalanan menurun menukik tajam, kebalikan dari saat berangkat. Tapi jangan mengira bahwa perjalanan turun lebih mudah ketimbang berangkat. Dengan jalan menurun, seluruh berat badan kita tertumpu pada kaki kita. Yang lebih parah adalah sepatu kami bukan sepatu khusus untuk trekking. Aku setia dengan sepatu Converse tuaku dan Inu dengan sepatu Macbeth hadiah dari sang pacar. Jadilah kami berdua berjalan seperti penguin menstruasi, tertatih-tatih mencoba bertahan agar tidak terpeleset. Setelah sampai kamar, kami langsung melemparkan tubuh keatas kasur. Benar-benar tampak sebagai om-om lemah syahwat yang tak punya tenaga. Memalukan! 1 jam kemudian Mas Mamuk dan Miko datang, dan kami langsung packing untuk langsung pulang menuju Jember tercinta.
Kawah Ijen memang menjadi suatu pesona alami bagi para petualang. Kawahnya yang eksotis, penambang belerangnya yang bersahaja, dinginnya yang menusuk tulang, bau belerang yang menyengat seakan menjadi daya tarik bagi semua orang yang mengaku dirinya seorang petualang. Dan perjalanan kali ini tentu tak akan bisa aku lupakan. Masa dimana aku mengingat bahwa aku bukan lagi seorang pendaki gunung. Bahwa aku bukan harus banyak merubah pola hidupku untuk dapat kembali ke masa itu. Masa dimana aku memanggul carrier dan bercumbu dengan sejuknya udara gunung…
Ayo, “Menuntut” Ilmu!
May 10th, 2010
Arys ‘Si Berang-berang’ Aditya
Saya Ingin (di)Sekolah(kan)
Komitmen untuk memperlakukan individu
sebagai partisipan potensial dalam wacana mengandaikan
komitmen universal pada kesetaraan, otonomi, dan rasionalitas potensial individu
(Jurgen Habermas, dalam “A reply to my critics”, 1982)
Sila ke-2 Pancasila yang menyebutkan tentang, ”Kemanusiaan yang adil dan beradab” sudah mengamanatkan pada setiap rejim pemerintahan untuk membangun pendidikan yang baik dan benar dengan dan untuk semua lapisan masyarakat di negeri ini. Karena disadari atau tidak, pendidikanlah yang mampu menggapai cita-cita pada sila ke-2 tersebut. Sisi kemanusiaan yang pada dasarnya sudah inheren pada setiap manusia akan sedemikian rupa terpoles hingga menemukan ke”adil”an dan ke“beradab”annya.
Tentu bukan sembarang pendidikan, namun seperti yang telah lama diperbincangkan ialah pendidikan yang partisipatif dan kritis. Kritis disini tentu juga harus dimaknai yang konstruktif, demi kebaikan bersama. Supaya fungsi pendidikan untuk membentuk manusia yang beradab dalam setiap melihat permasalahan dan adil dalam memecahkannya dapat terwujud. Jika boleh dituliskan dalam satu kalimat, manusia berpendidikan harus adil dalam keberadabannya dan beradab dalam keadilannya.
Negara mempunyai kewajiban untuk mencerdaskan semua anak bangsa, dan anak bangsa mempunyai hak untuk menuntut itu. Pasal UUD yang paling tajam mengingatkan hal itu mungkin adalah pasal 31, terutama ayat 2 “Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya” dan mengenai pembiayaannya terdapatnya pada ayat 4 “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja Negara, serta dari anggaran pendapatan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan nasional”. Sungguh sangat jelas dan gamblang.
Namun realitas objektifnya tidak berkata demikian, di setiap tempat keramaian pusat kota, masih banyak anak usia sekolah membuka kepalan tangannya, meminta-minta hanya untuk membeli hari itu juga. Sungguh ironis. Tidak usah terlalu jauh dahulu untuk menjadi negara dengan predikat paling demokratis atau paling cepat pertumbuhan ekonominya, tapi yang harus dicapai adalah sebagai Negara yang paling mampu memenuhi hak-hak dasar warganya, apa contohnya? Makan dan pendidikan.
Sebenarnya apa yang salah? Mungkin entitas yang selalu dapat mengisi pertanyaan itu adalah Negara. Yap, ketika dikembalikan lagi pada esensi manusia bernegara adalah penyerahan kedaulatan manusia-manusia tersebut pada sebuah lembaga agar dapat hidup berdampingan dan mendapatkan kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud dalam konteks ini tentu saja pendidikan yang layak dan mencerdaskan, tidak sekedar memintarkan. Namun seperti apakah pendidikan yang diharapkan?
Character Building or Character Blocking?
Intelligence plus character, that is the goal of true education.
(Martin Luther King Jr.)
Mungkin sudah menjadi kata klise (atau jargon?) bahwa pendidikan adalah penanggung jawab bagi pembentukan karakter anak bangsa. Meskipun tidak semata hanya pendidikan formal, informal juga. Sekalipun makna pembentukan karakter pada konteks ini masih menimbulkan sisi problematis dalam implementasinya. Problem-problem yang muncul karena kesalahan pemaknaan terhadap setiap prosedur pendidikan, yaitu ketika pendidikan itu sendiri dimaknai sebagai hasil dan bukan proses. Proses pembentukan karakter, karater manusia Indonesia tentunya.
Namun bukan seperti itulah yang terjadi sekarang, sistem pendidikan nyaris tidak bisa melakukan tugasnya di segi tersebut, penguatan pendidikan nasional hanya mengorientasikan dirinya pada sisi akademis semata, yang itupun cara melakukannya juga banyak yang tidak terpuji. Kasus-kasus aktual seperti para kepala sekolah yang mengerjakan soal Unas untuk muridnya dan banyaknya joki soal merepresentasikan hal tersebut. Segala cara dihalalkan demi “kesuksesan” prosedur pendidikan, tanpa kesuksesan yang lebih penting, yaitu kesuksesan substansif. Lebih dalam lagi, seperti yang dituliskan di atas, karakter manusia Indonesia bukannya terbentuk, tapi terblokir.
Sistem pendidikan konvensional (terutama sekolah dasar & menengah) yang masih berhaluan one-way traffic melegitimasi pemblokiran karakter tersebut. Tuntutan akan partisipasi siswa masih sangat minim. Guru masih sebatas mengajarkan, bukan mendidik. Siswa hanya dating ke sekolah, duduk, mencatat perkataan guru, pulang dan mengerjakan tugas, selesai sudah sistem pendidikan. Dua belas tahun lamanya kita terepresi dan teralienasi dengan sistem pendidikan seperti itu, partisipasi inovatif dan imaginatif terpenjara. Pembentukan karakter? Omong kosong!!
Sudah bisa terandaikan apabila terjadi perubahan drastis (tidak perlu dramatis) pada sistem pendidikan sehingga character building dapat terlaksana sesuai ke-Indonesiaan yang proporsional. Masalah-masalah pada segala lini akan menjadi mudah untuk dimanajemen. Permasalahan pada sistem demokrasi politik akan menjadi sederhana dan sangat mengakomodir semua warga negara. Seperti ujar salah satu adagium demokrasi–liberal yaitu “The success of democracy is correlated most closely with the level of education”, yang memang menemukan keniscayaannya dalam proses demokratisasi sebuah dan sejumlah struktur negara. Karena yang lebih penting bukannya demokrasi ranah prosedural, melainkan substansi, norma dan sikap demokratis, dan itu hanya bisa dicapai dengan karakter manusia bangsa Indonesia yang ke-Indonesiaannya mapan dan mantap. Sehingga cita-cita demokrasi sebagai manajemen konflik, kran aspirasi, dan pelaksanaan kesejahteraan seluruh warga negara dapat tercapai.
Sungguhpun, begitu pentingnya pendidikan. Hampir seluruh ujung pangkal permasalahan di negeri ini selalu bersinggungan dengan pendidikan. Begitu pula dengan penyelesaiannya, dunia pendidikan menyediakan solusi-solusi dinamis yang harusnya dienyam oleh setiap anak bangsa. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, permasalahan pendidikan juga membutuhkan perhatian dari seluruh lapisan masyarakat, pemerintiah dan yang diperntah harus bahu-membahu melaksanakan amanat Pancasila dan UUD tersebut. Sementara tugas sebagai checker & balancer sudah kami emban sekuat tenaga, maka tinggallah Negara sekarang yang memegang kunci. Jika Negara tidak mau untuk long-term investment ke dunia pendidikan, maka jangan salahkan ketika nanti bangsa Indonesia akan semakin jauh tertinggal dengan negara-negara lainnya, di segala aspek kehidupan. Tabik.
Peacebuilding/Peacemaking
May 10th, 2010
Arys ‘Si Berang-berang’ Aditya
Peacebuilding atau seringkali juga disebut peacemaking secara konseptual memiliki dua makna. Sama seperti konsep “peace”, yang menurut Barry Buzan adalah konsep yang secara esensial dikontestasikan.[1] Pun demikian satu hal penting lainnya ialah spektrum kajian peacebuilding/peacemaking sendiri yang tidak hanya bergerak di ranah hubungan internasional, namun juga sosiologi internasional.[2]
Hal tersebut diatas menyebabkan peacebuilding/peacemaking dipahami secara berbeda oleh teoritisi dan praktisi hubungan internasional. Pandangan yang pertama adalah ‘damai negatif’, yang menganggap bahwa pembentukan perdamaian adalah sama dengan pengurangan perang. Artinya dalam perspektif ini, teori-teori deterrence adalah bagian dari kajian perdamaian karena mereka ikut andil dalam mencegah pecahnya perang.[3]
Sedangkan di lain pihak, ada pula pandangan yang menolak simplifikasi semacam itu, pihak ini menganggap bahwa harus ada keadilan yang tercapai jika menginginkan adanya perdamaian.[4] Pandangan ini sangat meyakini bahwa perdamaian akan muncul jika ada upaya-upaya seperti kebijakan yang adil dan pembentukan perdamaian tanpa kekerasan. Implikasi akan kestabilan yang terjadi dari kebijkan yang muncul itulah yang akan membentuk perdamaian. Hal ini juga sejalan dengan yang dikatakan oleh John Galtung, bahwa ‘Perdamaian adalah transformasi konflik yang kreatif dan tanpa kekerasan.’
Peacebuilding/peacemaking seperti yang disebut oleh Lilach Gilady dan Bruce Russet adalah ‘perhatian khusus dengan kondisi dengan jalan penyelesaian sengketa/konflik yang disetujui dan dilakukan oleh pihak-pihak yang berseteru’.[5] Hal ini juga terkait dengan terlibatnya pihak ketiga dalam menilai, menengahi dan memberikan resolusi terhadap konflik antar pihak-pihak tersebut. Metode pihak ketiga dalam memberikan resolusi tersebut akan membentuk semacam tatanan secara normatif dan institusional, dan yang paling mungkin melakukannya adalah organisasi internasional, tentunya dengan didukung oleh negara yang mengalami konflik. Serta untuk tujuan yang lebih tinggi, yaitu ‘damai yang positif’.
Dalam perspektif Kantian, penekanan peacebuilding/peacemaking terarah pada demokrasi dan cara-cara tanpa kekerasan terhadap penyelesaian konflik. Sebab, negara-negara penengah (pihak ketiga) yang demokratis akan mengakomodir praktek-praktek budaya tanpa kekerasan dan memiliki institusi untuk memfasilitasi penyelesaian konflik kepentingan dengan damai, dalam hubungan eksternal sebaik politik domestiknya.
Mediasi
Mediasi, yang dipahami secara umum sebagai cara dalam peacebuilding/peacemaking mempunyai lebih dari satu arti. Menurut Jacob Bercovitch dan Allison Houston mediasi adalah ‘proses manajemen konflik, yang terkait tapi terpisah dari usaha-usaha pihak yang terlibat itu sendiri, dengan jalan pihak-pihak yang bertikai mencari bantuan, atau menerima tawaran bantuan dari individu, kelompok, negara atau organisasi untuk merubah dan mempengaruhi persepsi dan perilaku mereka, tanpa menggunakan kekuatan militer, atau menaati otoritas hukum.’[6]
Sedangkan bagi Saadia Touval dan William Zartman mediasi adalah, ‘sebuah campur tangan yang dilakukan oleh pihak ketiga, yang dapat diterima dan secara diplomatis membuka ruang kerjasama dengan pihak yang bertikai… hal ini tidak berdasarkan pada penggunaan secara langsung kekuatan militer dan tidak bertujuan untuk menolong salah satu pihak saja untuk memenangkan pertikaian tersebut…’[7]
Dengan menggunakan dua perspektif di atas, dapat dipahami bahwa mediasi sangat membutuhkan sense dari pihak yang bertikai. Karena keefektifan sebuah mediasi yang dilakukan pihak ketiga sangat tergantung pada ketaatan pihak-pihak yang bertikai. Seberapa jauh tingkat kepercayaan pihak yang bertikai terhadap mediator akan sangat mempengaruhi pemikiran dan perilaku dalam melaksanakan resolusi-resolusi yang ditawarkan.
Pun demikian dengan pihak ketiga yang dipercaya menilai, menengahi, dan memberikan resolusi, harus dapat dengan hati-hati mengukur seberapa jauh ‘nilai-nilai’ atau ‘sumber daya’ yang ‘diperebutkan’ oleh pihak yang bertikai. Karena semakin tinggi sumber daya yang diperebutkan, maka akan semakin sulit dan rumit konflik itu dapat dimediasi dan diselesaikan. Mediator juga harus sangat berhati-hati terhadap ‘hambatan’ politik domestik pada kepemimpinan negara-negara yang bertikai. Singkatnya, mungkin akan ada perlakuan yang berbeda pada negara yang menganut otoriarianisme, oligarki, atau demokrasi.
Akan sangat besar kemungkinan terjadinya negosiasi antara kedua pihak yang bertikai (tentunya lewat mediator). Di titik ini juga sangat dibutuhkan kecerdikan mediator dalam memisahkan antara ‘what is the states needs’ dengan ‘what is the states wants’. Hal ini penting karena negara-negara yang bertikai sudah pasti tidak akan ‘begitu saja’ menerima resolusi yang ditawarkan, apalagi seperti yang telah diulas diatas, apabila nilai-nilai atau sumber daya yang diperebutkan sangat penting dan sangat besar artinya bagi pihak-pihak yang bertikai.[8]
Catatan Akhir
[1] Buzan, Barry. People, States, and Fear: An Agenda for International Security Studies in Post Cold War Era, 2nd edn. New York: Harvester Wheatsheaf; dan Boulder: Lynne Rienner. 1991.
[2] Sargent, Wendy. Peace Building in International Relations. Sambutan yang dipresentasikan pada saat Australasian Political Studies Association Conference. 2003.
[3] Gilady, Lilach dan Russet, Bruce. Peacemaking and Conflict Resolution dalam Walter Carlsnaes, Thomas Risse, and Beth A.Simmons. Handbook of International Relations. London: Sage Publications, 2002.
[4] Ibid. halaman 444.
[5] Ibid. halaman 446.
[6] Bercovitch, Jacob dan Houston, Allison. Why Do They Do It Like This? An Analysis of the Factors Influencing Mediation Behavior in International Conflict, dalam Journal of Conflict Resolution vol. 44 no. (2) 2000.
[7] Touval, Saadia dan Zartman, William. Mediation in International Conflict, dalam Kenneth Kressel dan Dean Pruitt (ed.). Mediation Research: The Process and Effectiveness of Third-Party Intervention. San Francisco: Jossey-Bass. 1989.
[8] Op. cit. Gilady, Lilach dan Russet, Bruce, … halaman 458.
Sihir ala Messi(as)
May 10th, 2010
Para pecandu sepak bola yang tidak menyaksikan tontonan seru, berkelas dunia pada perempat final liga champion antara Barcelona vs Arsenal, Serta tidak kalah menarik pertandingan el classico dua tim besar liga spanyol yaitu Real Madrid vs Barcelona patutlah menyesal. Bukan maksud mau mengolok-olok mereka yang tidak menyaksikan kedua pertandingan tersebut, tetapi keduanya merupakan pertandingan sakral yang tidak boleh dilewati oleh semua penikmat sepakbola. Bahkan jika saya dipaksa memilih menonton pertandingan tersebut atau tidak makan 3x sehari, jelas saya memilih menonton pertandingan (emang biasanya makan 2x sehari).
Pasalnya, pada dua pertandingan tersebut para penonton bisa melihat bagaimana keperkasaan Barcelona menghempaskan rival-rival mereka. Pada pertandingan liga champion, tim gudang peluru (Arsenal) dihantam Barcelona dengan skor 4-1 di New Camp. Empat hari berselang, pertandingan lebih prestice lagi harus diemban oleh anak-anak asuh Josep Guardiola dengan bertandang ke kandang Real Madrid, Santiago Berneabau. Dan diluar dugaan, pasukan Catalan tersebut berhasil memutar balikkan prediksi di pasar taruhan yang saat itu ramai-ramai menjagokan Real Madrid sebagai jawara pertandingan. Alhasil, para pemegang bursa taruhan dan pendukung Real Madrid harus menerima kenyataan klub yang dijagokannya ditumbangkan dengan skor akhir 0-2 bagi keunggulan Barcelona.
Satu kata terukir dalam benak saya, “Sensasional”. Barcelona yang pada awal periode tahun 2000-2003 minim gelar, bahkan sempat didaulat memiliki banyak hutang, sekarang tumbuh dan berkembang menjadi suatu tim sepakbola terbaik di dunia. Entah bagaimana para manajemen klub dan pemain dapat meramu tim sehingga dapat sukses seperti sekarang ini. Dua hal yang patut dicermati adalah Barcelona sebagai tim dengan efisiensi dan efektivitas pembelanjaan pemain yang tepat guna, serta pengelolaan sumber daya manusia yang baik sehingga dapat menghasilkan para pemain akademi didikan Barcelona yang mumpuni.
Menyinggung sedikit mengenai akademik didikan Barcelona, tidak dapat dipungkiri dan jelas haram bila kita lupakan bahwa Andres Lionel Messi merupakan salah satu produk terbaik Barcelona. Pemain mungil asal Argentina ini bukan tanpa kekurangan, tinggi yang hanya mencapai 169 cm bukan hanya tidak cocok dengan postur pesepakbola eropa, namun juga membuat klub-klub sepakbola tidak ada yang tertarik untuk meminangnya. Tetapi Barcelona sebagai klub yang sudah memiliki reputasi dan nama besar, bak malaikat penolong berani menanggung resiko dengan menarik messi kecil (11 tahun) ke sekolah akademinya. Padahal saat itu Messi divonis memiliki kekurangan hormon pertumbuhan.
Seiring berjalannya waktu, Messi kecil saat ini menjelma menjadi kekuatan besar di persepakbolaan eropa bahkan dunia dalam tubuh Barcelona. Kelincahan, dribble memukau, serta visinya di tengah pertandingan telah membuat seluruh punggawa tim bersyukur memiliki Messi didalam timnya. Sedangkan setiap tim yang menjadi lawan Barcelona dibuat ketar-ketir olehnya. Bukan tanpa sebab saya berani berbicara seperti ini, hasilnya dapat pengamat sepakbola saksikan sendiri ketika Barcelona menghadapi Arsenal dan Real Madrid.
Datang dengan kepercayaan diri dengan menahan imbang juara bertahan liga champion 2-2 dikandangnya, tidak cukup untuk meladeni Barcelona dengan Messi sebagai ujung tombak dan Xavi Hernandez sebagai poros tengahnya. Berulang kali gawang arsenal dibombardir oleh anak-anak Catalan. Nicklas Bendtner memang sempat membuat Arsenal diatas angin sejenak dengan keunggulan 0-1 buat Arsenal. Namun, baru tiga menit Arsenal bernafas lega, si mungil langsung menghantamnya dengan tendangan dari luar kotak penalti yang tidak mampu diredam oleh penjaga gawang utama Arsenal Manuel Almunia. Untuk selanjutnya, Messi secara terus-menerus menceploskan 2 gol selanjutnya yang akhirnya menutup pertandingan babak pertama dengan hattricknya yang mengubah skor menjadi 3-1 bagi keunggulan Barcelona.
Tidak berhenti sampai disitu, ternyata Messidona menambah satu gol lagi pada babak kedua yang menutup pertandingan dengan skor 4-1. Seusai pertandingan, tidak terhitung banyaknya pujian ditujukan pada striker argentina berusia 22 tahun ini. Dan selanjutnya, gawang Iker Casillas yang siap dihujani tendangan Messi. Dan benar saja, pada pertandingan El Classico yang ke-160 tersebut kembali Messi menjadi momok menakutkan bagi lawannya. Messi yang saat itu diprediksi berada pada posisi sayap, tiba-tiba saja dirotasi oleh Guardiola menjadi striker tengah. Kerja samanya dengan Xavi berhasil membuka skor pertandingan untuk keunggulan Barcelona menjadi 0-1.
Diawali dari umpan Messi kepada Xavi yang kemudian langsung dimanjakan dengan sebuah terobosan balik lagi kepada Messi untuk menceploskan bola ke gawang Casillas. Entah dari mana Messi muncul saat itu, bahkan saya yang saat itu menyaksikan langsung pertandingan sangat kaget melihat Messi setelah mengumpan tiba-tiba berada diantara bek lawan dan berhadapan dengan Casillas. Ia berlari bagaikan setan kecil yang membuat bek Raul Albiol terhenyak dibuatnya. Sungguh bila ditelaah baik-baik, terjadinya gol merupakan sebuah proses panjang dari hasil latihan intens dari para awak Catalan. Dan diakhiri dengan gol Pedro Rodriguez yang lagi-lagi diawali dari umpan Xavi sehingga menutup pertandingan dengan skor 0-2.
Hasil ini bukan saja menggeser Real Madrid dari singgasana klasemen, melainkan dari segi prestice hal ini juga representasi dari masyarakat proletar yang berhasil mengalahkan masyarakat borjuis. Sebab jika menilik dari sejarah kedua tim, Barcelona dan Real Madrid memang berdiri dari situasi dan kondisi yang berbeda di daerahnya. Kota Barcelona atau Catalan dulunya memang didominasi oleh para kelas pekerja buruh rendahan yang identik disebut dengan masyarakat proletar. Barcelona dulunya adalah kota yang tertinggal jika dibandingkan dengan kota Madrid. Sebaliknya Madrid merupakan sebuah kota yang ditinggali oleh para pengusaha, pengacara, dan pembesar-pembesar lainnya. Sehingga patut kita klaim bahwa kemenangan Barcelona adalah kemenangan masyarakat proletar atas borjuis. Tentu saja kemenangan lewat aspek olahraga bukan aspek ekonomi yang seperti selama ini di gembor-gemborkan oleh para penganut Marxis.
Gelar bintang lapangan tentu patut kita berikan kepada Messi sebagai pencetak gol tersubur di tim Catalan saat ini. Di samping juga tidak dapat menampik kontribusi pemain lainnya, namun diluar itu semua Messi sekarang telah menjelma menjadi juru selamat (messias) bagi klub di saat-saat genting. Gol-gol penting, akselerasi, serta kecerdasannya di tengah pertandingan sulit untuk dihentikan oleh pemain manapun. Bahkan untuk menjaga seorang messi) tidak cukup hanya dengan satu atau dua pemain, mungkin tiga telah menjadi suatu determinan untuk mengatasi pemain satu ini. Oleh karena itu, sihir ala messi(as) di seluruh kompetisi eropa rasanya tidak dapat dipungkiri. Dibuktikan pula dari keberhasilan dirinya memperoleh gelar pemain terbaik dunia tahun 2009 lalu.
Fenomena tersebut seharusnya dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat kita, khususnya PSSI sebagai organisasi yang membawahi dunia persepakbolaan tanah air. Fisik tidak lagi menjadi kendala bagi seorang pemain sepakbola untuk melanggengkan prestasi, hal ini sudah dibuktikan Messi. Sehingga stigma bahwa menjadi pesepakbola handal harus ditopang dengan fisik yang sempurna haruslah disingkirkan jauh-jauh. Xavi, Iniesta, Messi, Marradona merupakan pemain sepakbola yang tidak ditunjang dengan fisik atau bentuk tubuh yang proporsional. Namun mereka dapat membuktikan pada dunia bahwa segalanya dapat diwujudkan dengan kerja keras.
Begitu pun dengan PSSI sebagai wadah sepakbola Indonesia. Dari sekarang sebaiknya mulai melakukan pembenahan baik dari segi infra struktur maupun supra strukturnya. Karena faktor ini juga menjadi penentu guna menghasilkan bibit-bibit pesepakbola yang dapat diakui dikancah dunia. Pembinaan sejak dini, fasilitas serba tercukupi, dana yang cukup besar merupakan indikator-indikator guna menyukseskan iklim kompetisi sepakbola tanah air. Dan utamanya, oknum-oknum seperti kerah putih (Nurdin Halid) harus segera dibasmi karena berpotensi menjadi penyakit akut dijajaran PSSI.[]
Sebelum Pena Berkarat, dan Menolak Kembali Terisi : Sedikit Jejak Tegalboto
February 22nd, 2010
Dhani Oleh: Arman Dhani Bustomi
Memori Telah Terekam,
Refleksi,… Sebuah Evaluasi Dalam Perjuangan Untuk Kemajuan…
Terus Bergerak, Bergerak Terus.
Untukmu negeri kutorehkan kata di dinding sejarahmu… Read the rest of this entry »
Nasionalisme dalam Negara – Bangsa (Sebuah Refleksi Kritis Terhadap Kapabilitas Simbol Negara Indonesia)
February 15th, 2010
Oleh: Arys Aditya
Nasionalisme, satu kata yang mungkin mengingatkan kita pada perjuangan pahlawan – pahlawan pra kemerdekaan dulu, bagaimana mereka dengan gagah berani menghadapi musuh negara, penjajah. Mulai dari jaman VOC, tentara kolonial Belanda, Inggris, sampai Jepang. Hanya untuk satu tujuan, yaitu memerdekakan negara ini dari kolonialisme para kolonialis. Sungguh trenyuh apabila mengingatnya. Tetapi, apa sebenarnya yang disebut Negara itu? Dan kenapa Negara itu identik dengan Nasionalisme? Lalu apa implikasinya pada Politik Kebangsaan Indonesia? Read the rest of this entry »
Sudah Men”damai”kankah Obama?
February 15th, 2010
Oleh: Devi Dwiki Wulandari
Sudah selayaknya tiap prestasi yang dilakukan seseorang mendapatkan penghormatan berupa hadiah maupun penghargaan. Apalagi bagi mereka yang mengukir prestasi yang bermanfaat bagi orang lain bahkan masyarakat luas. Mungkin prinsip inilah yang dulu diyakini oleh Alfred Nobel, si jenius penemu dinamit. Pada tahun 1895 ia menulis dalam surat wasiatnya agar parlemen Norwegia membentuk suatu komite untuk memberikan hadiah tahunan bagi individu ataupun organisasi yang telah memberikan kontribusi berarti bagi perdamaian dunia. Bentuk penghargaan yang kemudian dikenal dengan nama Nobel Perdamaian ini merupakan award bergengsi tingkat Internasional yang pastinya tidak diberikan pada sembarang orang. Read the rest of this entry »
RSS Feed