Mahasiswa sebagai kaum intelektual diharapkan menjadi motor penggerak perubahan nasib bangsa. Masa 1990 adalah masa memantapkan arah gerakan mahasiswa. Dalam oposisi dengan kekuasaan, gerakan mahasiswa yang dipenuhi idealisme harus berhadapan dengan rejim otoriter. Kekuasaan menancapkan senjata untuk mengendalikan dan memasung gerak demokrasi. Read the rest of this entry »
Sebelum Pena Berkarat, dan Menolak Kembali Terisi : Sedikit Jejak Tegalboto
February 22nd, 2010
Dhani Oleh: Arman Dhani Bustomi
Memori Telah Terekam,
Refleksi,… Sebuah Evaluasi Dalam Perjuangan Untuk Kemajuan…
Terus Bergerak, Bergerak Terus.
Untukmu negeri kutorehkan kata di dinding sejarahmu… Read the rest of this entry »
Nasionalisme dalam Negara – Bangsa (Sebuah Refleksi Kritis Terhadap Kapabilitas Simbol Negara Indonesia)
February 15th, 2010
Oleh: Arys Aditya
Nasionalisme, satu kata yang mungkin mengingatkan kita pada perjuangan pahlawan – pahlawan pra kemerdekaan dulu, bagaimana mereka dengan gagah berani menghadapi musuh negara, penjajah. Mulai dari jaman VOC, tentara kolonial Belanda, Inggris, sampai Jepang. Hanya untuk satu tujuan, yaitu memerdekakan negara ini dari kolonialisme para kolonialis. Sungguh trenyuh apabila mengingatnya. Tetapi, apa sebenarnya yang disebut Negara itu? Dan kenapa Negara itu identik dengan Nasionalisme? Lalu apa implikasinya pada Politik Kebangsaan Indonesia? Read the rest of this entry »
Sudah Men”damai”kankah Obama?
February 15th, 2010
Oleh: Devi Dwiki Wulandari
Sudah selayaknya tiap prestasi yang dilakukan seseorang mendapatkan penghormatan berupa hadiah maupun penghargaan. Apalagi bagi mereka yang mengukir prestasi yang bermanfaat bagi orang lain bahkan masyarakat luas. Mungkin prinsip inilah yang dulu diyakini oleh Alfred Nobel, si jenius penemu dinamit. Pada tahun 1895 ia menulis dalam surat wasiatnya agar parlemen Norwegia membentuk suatu komite untuk memberikan hadiah tahunan bagi individu ataupun organisasi yang telah memberikan kontribusi berarti bagi perdamaian dunia. Bentuk penghargaan yang kemudian dikenal dengan nama Nobel Perdamaian ini merupakan award bergengsi tingkat Internasional yang pastinya tidak diberikan pada sembarang orang. Read the rest of this entry »
Titik Sunjani, Pejuang Devisa Yang Menjadi Pahlawan Untuk Dirinya Sendiri
February 15th, 2010
Oleh: Riskaning Dianti
“Mereka tidak akan dapat mengambil rasa harga diri kita, jika kita tidak memberikannya pada mereka”.
(Mahatma Gandhi)
Di media massa cetak maupun elektronik, kita sering disuguhi berita-berita mengenai TKI (Tenega Kerja Indonesia) asal Jember yang mendapat masalah di Negara tempatnya bekerja. Dan tak banyak dari kasus-kasus itu yang mendapatkan penanganan dari Pemerintah Daerah maupun aparat hukum. Banyaknya kasus TKI yang dibiarkan menguap tersebut ternyata tak membuat surut niat para calon TKI untuk berangkat ke luar negeri. Terbukti dari hasil riset SBMI dan Institute for Ecosoc Rights, sedikitnya tiap bulan, 15 hingga 20 orang warga Kabupaten Jember-Jawa Timur berangkat keluar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Mereka adalah warga masyarakat yang berasal dari 247 desa yang tersebar di 31 kecamatan di wilayah Kabupaten Jember. Read the rest of this entry »
Mencoba Menolak Cover Both Side
February 13th, 2010
Oleh: Arys Aditya
Sembilan elemen jurnalisme (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel) nampaknya sudah sangat dipahami di kalangan pekerja media, media umum dan media mahasiswa. Salah satu elemen yang dapat dipakai sebagai kaidah sekaligus norma, menurut kedua orang tersebut adalah (pada poin ke-8) “kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif” atau singaktnya, cover both side.
Jika diartikan secara harfiah, cover both side atau mencakup kedua sisi sangat jelas mengkonstrain dan bahkan mewajibkan kita sebagai pekerja media untuk selalu proposional. Jelas karena kata “both” dalam berita baru dapat sah ketika ada konfirmasi atau paling tidak pernyataan dari “side” yang lain. Read the rest of this entry »
Ditengah kepulan Asap Belerang
February 12th, 2010
Gudeg Dari Jogja; Sebuah Catatan Perjalanan Orang Ganteng
February 12th, 2010
Dhani Oleh: Arman Dhani Bustomi
Berjalan melewati peradaban dengan segala euforia dan daya tariknya seakan tak pernah usai. 100 tahun kebangkitan nasional sudah membuktikan bahwa kita masih terus bangkit. Belum mampu berdiri diatas 2 kaki kita sendiri. Begitu juga dengan pergerakan persma satu dekade terakhir. Gerakan yang mandeg dan kerja berkutat pada tataran pembenahan sudah waktu dihentikan. Sudah saat nya kita melakukan ebuah aksi nyata. Aksi sederhana, gak perlu bergerak masif yang cuma buat gaya-gayaan. Read the rest of this entry »
RSS Feed




