Akademisi dan Buruh Migran

Migrant Care bekerjasama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Universitas Jember, dan Tanoker Ledokombo Jember mengadakan Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia yang diadakan di Gedung Soetardjo, Universitas Jember. Acara ini dilakukan selama tiga hari sejak 23 hingga 25 November.

1600 peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang merupakan perwakilan dari buruh migran Indonesia dan anggota keluarganya, komunitas, kepala desa, organisasi, akademisi, dll.

Acar ini juga serangkaian dengan Festival Tegalboto, acara tahunan Unej saat memperingati Dies Natalies. Tahun ini, Universitas Jember pada ulang tahunnya yang ke-51 mendalami tema “Membangun Desa”. Kabag Humas Jember, Agung Purwanto mengaku prihatin pada keadaan desa di Jember. Kenyataannya penduduk desa banyak yang bermigrasi.

Dalam acara ini, Agung mengaku bahwa Universitas Jember mendapat masukan dari pihak Migrant Care untuk membuat kajian-kajian tentang buruh migran yang dapat di terapkan dalam kebijakan-kebijakan di masa mendatang. Menurutnya, peran akademisi melalui penelitian mendalam juga diperlukan untuk membantu mengatasi masalah buruh migran. Ini merupakan jalan lain untuk peduli pada buruh migran selain melalui jalan advokasi yang selama ini digeluti oleh Migrant Care.

Sebagai tindak lanjut dari masukan migrant CARE, Universitas Jember akan mengadakan Pusat Kajian Migrasi yang bisa diterpakan di multi jurusan, namun saat ini belum diiskusikan lebih lanjut tentang konsentrasi jurusan yang di ambil. Selain itu kemungkinan besar terjadinya colaboration research yang melibatkan mahasiswa maupun dosen Universitas Jember.

Terlepas dari acara Jambore Buruh Migran, Agung mengatakan bahwa Universitas Jember telah bekerja sama dengan Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) untuk memberikan 248 website gratis untuk desa-desa yang ada di Jember. Dia juga mengatakan bahwa Unej siap meluncurkan relawan-relawan yang konsen di bidang TI (teknologi informasi) untuk membantu mengembangkan website milik desa tersebut.

Relawan tersebut akan bekerja sama dengan pemerintah cialis generique daerah. Namun, hal itu belum terlaksana dikarenakan pemerintah belum serius menanggapinya, seperti yang dikatakan oleh, “sayangnya pemkab masih ogah-ogahan,” katanya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *