Biarkan Lentera Tetap Menyala

Beberapa pekan terakhir ini, para awak Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia (mungkin) sedang digegerkan dengan kasus pembredelan majalah milik LPM Lentera Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Persoalan yang diangkat LPM Lentera dalam majalahnya menjadi akar masalah pembredelan. Majalah yang berjudul “Salatiga Kota Merah” itu mengangkat isu PKI dalam lingkup Kota Salatiga. Momen majalah itu diterbitkan juga bertepatan dengan 50 tahun pembantaian G30S. Di Jember sendiri isu tentang PKI juga sedang marak dibicarakan setelah penangkapan mahasiswa UNEJ yang membuat graffiti palu arit  lambang dari PKI.

Sebagai sesama kubu LPM, tentu saja tidak sedikit yang memberikan dukungan. Dukungan tersebut, selama yang saya lihat terus bermunculan di berbagai media sosial, mulai dari tulisan-tulisan yang mengutuk pihak pembredel sampai poster warna-warni yang menentang pembredelan majalah Lentera. Bukan hanya dari kubu LPM saja, dukungan juga merambah sampai ke wilayah personal, dari pers umum hingga penulis lepas.

Kawan saya Agustira Rahman Ilhami juga ikut menuangkan pendapatnya melalui tulisan berjudul “Renungan untuk Kasus Lentera”. Menurut saya ada tiga poin penting yang disampaikan Agus. Kritik pertamanya muncul dengan pendapat kebebasan yang bersifat utopis, serta pada perspektif Nietzsche para pembela kebaikan sebaiknya takut kehilangan nyawa, dan terakhir mengacu pada kebebasan berpendapat yang belum tentu menghasilkan karya yang berkualitas.

Dari tulisan itu, seorang kawan LPM nun jauh di kota seberang memberikan apresiasi pada tulisan Agus. Ia membalas dengan judul tulisan “Lentera”. Pada tulisan ini sang penulis Rachmad Imam Tarecha  merasa bergidik dengan mengutip tulisan Agus “Karena jika seorang manusia memang dilahirkan sebagai pemikir sejati di era saat ini, dia hanya butuh nyawa, bukan kebebasan. Ia juga melihat bahwa Agus tidak sejalan dengan Sartre. Selanjutnya pada paragraf lain ia mengandaikan karya yang berkualitas adalah karya yang memiliki sudut pandang filsuf.

“Kebebasan telah direnggut oleh Bahasa”, tulisnya. Lalu di paragraf lain ia menganalogikan karya yang tidak berkualitas akan langsung dibegal jika ini zaman Nazi. Pada paragraf terakhir ia meragukan pendapat Agus tentang kebebasan adalah sesuatu yang utopis. Ditutup dengan kebebasan untuk memilih tunduk pada definisi bahwa kebebasan adalah fitrah.

Saya sendiri kurang sependapat dengan Agus yang seolah ingin mengatakan bahwa kebebasan seorang pemikir sejati diperoleh dengan taruhan nyawa. Apa jadinya jika seperti ini?. Mungkin bisa jadi setiap orang takut untuk merasa bebas. Bukankah negeri ini sudah merdeka? Memiliki hukum dan Komnas HAM atau barangkali ada lembaga yang sejenis. Kalau masih ada yang kehilangan nyawa gara-gara ingin bebas, saya pikir lembaga macam itu sudah harus ditinjau kembali kinerjanya. Selain itu sebagai seorang pemikir tentunya masih memiliki etika dalam berpendapat, tidak serampangan dan gegabah.

Selain itu Agus mengasumsikan kebebasan berpendapat belum tentu menghasilkan karya yang berkualitas. Tidak semua karya yang dibuat harus dilabeli berkualitas.  Bagi saya dalam setiap pembuatan suatu karya tentu ada proses yang harus dilalui. Yang terpenting adalah bagaimana cara menekuni proses yang mungkin cukup panjang dan melelahkan itu, untuk menuju karya yang memiliki kualitas lebih baik. Tentu saja kemampuan dan kualitas karya seseorang akan berkembang apabila diasah seiring berjalannya waktu, seperti hanya pisau yang semakin tajam jika diasah.

Sedangkan pada tulisan Rachmad, ia mengandaikan jika saat ini zaman Nazi, maka karya yang dilabeli tidak berkualitas sudah dibegal. Saya merasa ada konteks yang berbeda disini.

Pada era Nazi saat itu, misi utama yang dilakukan Hitler adalah memusnahkan seluruh bangsa Yahudi yang dianggap sebagai benalu bagi ras lain. Jika ia mengasumsikan Nazzi akan membantai orang, hanya karena label karya yang tidak berkualitas, maka bagi saya tolak ukur ‘berkualitas’ bagi Nazzi, itu sederhana: Asalkan anda bukan Yahudi karya anda bisa jadi karya yang berkualitas di mata Nazzi.

Di lain sisi Rachmad mengandaikan kualitas dengan membumbui karya tulis dengan pandangan-pandangan filsuf. Bagi saya membaca filsafat bukan hanya sekedar untuk dikutip ataupun menunjukkan eksistensi dengan semakin banyak rimbunan kutipan dari para filsuf.

Filsafat bukan sebagai ajang untuk narsistik dan berlomba menjunjung diri. Fungsi filsafat sendiri bagi saya sebagai pisau analisis untuk mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih spesifik. Bukankah lebih baik kalau kita tidak mengamini apalagi menyangkal suatu teori, daripada sekedar mengutip (demi dianggap “keren”). Filsafat adalah pencarian tanpa akhir, satu teori akan dipatahkan dengan teori lainnya. Seperti halya ungkapan Karl Jasper, “Ketika kita merasa sudah melihat semua, saat itu kita berhenti berfilsafat”. Bagi saya, dengan filsafat saya dapat mencium dusta sebagai dusta.

Kedua orang penulis ini sama-sama mengemukakan pendapat tentang kebebasan. Saya sendiri memang merasa kebebasan merupakan suatu hal yang sulit untuk dijangkau. Mengapa demikian? Kebebasan bukanlah suatu hal yang otentik. Ketika seseorang dengan lantang dan nyaring menderukan kebebasan, ia tidak lepas dari pengaruh dari luar dirinya yang menariknya dalam satu lingkaran jerat. Kalaupun ada yang beranggapan kebebasan adalah fitrah, itu terserah mereka. Kalau Rachmad mengatakan kebebasan direnggut oleh Bahasa, saya sedikit kurang memahami. Saya hanya melihat Bahasa sebagai alat dari penguasa untuk bekerja. Dengan adanya Bahasa kekuasaan bisa mengontrol bahkan sampai ranah pribadi seorang individu. Namun yang jelas bagi saya kebebasan itu sulit untuk dijangkau oleh siapapun yang mencoba mendapatkannya. Tetapi kebebasan tetap perlu untuk diperjuangkan, bukan malah pasrah dan berdiam diri.          Saya sendiri sebagai salah satu awak LPM, tentu saja menentang pembredelan terhadap majalah Lentera, sekaligus memberikan apresiasi kepada semua pihak atau kawan-kawan LPM yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan dukungan, entah itu dengan melakukan aksi turun ke jalan, poster, atau lewat tulisan. Saya juga berharap dukungan itu juga tidak berlebihan. Batas-batas wajar dalam dukungan ini memang abstrak, kita hanya perlu bertanya pada diri sendiri, apakah memang benar mendukung atau malah memanfaatkan momentum ini sebagai ajang untuk mendongkrak eksistensi atau popularitas.

Dukungan itu perlu, namun keputusan tetap berada pada kubu LPM Lentera.

Mungkin juga tidak sedikit pihak yang bersifat apatis. Hanya menganggap ini sekedar angin lewat yang kencang, yang lama kelamaan menjadi sejuk. Saya pikir pihak yang beranggapan acuh tak acuh, beranggapan bahwa bukan mereka yang tertimpa masalah atau bingung mengambil sikap. Padahal masalah ini cukup serius karena berkaitan dengan pembatasan informasi dan pelarangan berpendapat.

Terakhir, saya berharap lentera tetap menyala. Tidak terlalu terang dengan cahaya yang menyilaukan mata atau terlalu redup yang membuat pandangan menjadi kabur.  Kebebasan hidup ini seperti berkelana sendirian di lahan tandus yang berangin. Semakin banyak kau memanjat, semakin banyak kau akan tersandung. Semoga Lentera terus berkarya. Viva Persma!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *