Tak Seindah Impian Markonah

 

Rambutnya tergerai hitam kemerahan. Ia menikmati makanan ringan dengan sebuah majalah di tangan. Sesekali ia lingkari berbagai moel baju yang ia sukai dari majalah yang dibacanya. Tak peduli berharga miring ataupun tidak, tak jadi masalah. Balutan make up yang menghiasi wjahnya masih tampak jelas. Siapapun yang belum mengenalnya tentu mengira dia habis menghadiri kondangan. Mungkin juga ada yang sempat menduga ia merupakan salah seorang penyanyi dangdut yang baru pulang dari pesta pernikahan. Namun dia bukanlah seorang penyanyi ataupun biduan. Ia adalah Markonah, istri dari seorang Bos Tempe Kripik paling kaya se-kabupaten Trenggalek.

Markonah atau yang biasa dipanggil Ona hidup begitu bahagia dengan kedudukannya yang sekarang. Meskipun suaminya tersebut merupakan duda beranak tiga namun ia tak begitu mempermasalahkannya. Suaminya punya banyak pembantu yang pastinya tak mempersulitkannya dengan keberadaan anak-anak tiri Ona. Ketiga anak tirinya tergolong masih kecil. Anak pertama kelas 5 SD, kedua kelas 3 SD, dan yang terakhir belum menginjak usia ekolah. Kehidupan mereka bergelimangan harta. Apapun yang diinginkannya pasti terlaksana. Kenikmatan inilah yang dulu diimpi-impikan oleh seorang Markonah.

Ketika para gadis seusianya dulu bermimpi jadi guru, dokter, perawat, pegawai bank, dan lain sebagainya, sama sekali tak terbesit harapan itu di benaknya. Ketika para gadis seusianya dulu sibuk dengan PR dan tugas sekolahnya, ia bahkan tak begitu memikirkannya. Ia justru sibuk dengan rentetan kosmetik kecantikan yang beraneka rupa. Apa yang dilakukannya tak lebih demi meraih impiannya, yaitu menjadi istri orang kaya. Prinsipnya atu, “DIPENAKNE WONG LANANG”, (dipermudahkan laki-laki). Artinya disini, ia ingin hidupnya setelah menikah nanti tidak haru suah payah eperti bapak ibunya yang miskin.

Dengan motiv itulah Ona terlahir sebagai pribadi yang malas berkreatifitas. Sekolah baginya hanya agar ia menjalani sesuatu “yang pada umumnya” terlahir di masyarakat. Sebenarnya iapun tak trlalu berminat untuk sekolah. Oleh karena itulah setelah lulus dari SMP ia bersedia menerima pinangan si Bos Tempe Kripik, duda beranak tiga yang kini menjadi suaminya. Jangan heran jika banyak orang yang tak menduga bahwa mereka merupakan pasangan suami istri. Mereka lebih Nampak seperti seorang anak dengan bapaknya.

Di tengah-tengah kebahagiaannya sebagai istri Bos Tempe kripik, tiba-tiba saja usaha suaminya mendapat sebuah bencana. Bangunan yang biasanya ipakai untuk memproduksi tempe kripik, hangus terbakar akibat keteledoran alah seorang karyawan. Semua barang dagangan dan sebagian besar hartanya ludes terbakar. Yang tersisa hanyalah rumah yang kini ditinggalinya sekeluarga. Pembantu-pembantunya memilih pulang kampong mengundurkan diri. Anak-anaknya tiap hari kerjanya hanya menangis saja. Tahukah anda apa yang terjai dengan Markonah?

Markonah masih saja belum bias menerima kenyataan yang menimpa keluarganya tersebut. Ia masih saja hobi berbelanja menghabiskan uang. Akibatnya suami Ona semakin erring marah dan tak segan membentaknya. Suaminya ingin agar Ona bias mengerti kondisinya saat ini. Betapa besar harapan suaminya agar Ona mulai mau mengurusi rumah tangga dan anak-anak mereka. Namun Ona hanya bias menangis mengurung diri di kamar. Dalam hal memasak ia sama sekali tak bias. Jangankan memasak, menanak nasi aja ia tak mampu. Apalagi dalam hal mengurusi anak, ia sama sekali tak berbakat alam hal itu.

Markonah semakin sering melamun . biar bagaimanapun usianya masih sangat muda. Sifat kelabilan dan keegoisannya masih sangat tinggi. Ditambah lagi ia terbiasa dimanjakan. Seringkali tiap pagi Markonah mengintip kawan seusianya yang berangkat sekolah berseragam putih abu-abu. Mulai terlintas di benaknya beberapa ungkapan pengandaian, “Anai aku masih bersekolah, aku bias jadi kembang desa terus dilamar pengusaha yang lebih kaya lagi…tentu aku tak perlu capek-capek ngurung diri begini sampai nunggu rumah ini kesita buat nglunasin utang…”. Sekali lagi Ona tak begitu menyesali mengapa ia tak melanjutkan sekolah. Namun yang sangat ia sesali adalah mengapa ia bias tertimpa bencana ini. “Harunya aku dulu menerima pinangannya si Ramli yang jadi Bos Alen-alen itu….”, ucap Ona pada dirinya sendiri sambil memilin rambutnya yang lama tak terurus.

“Apa katamu Ona? Kamu menyesal menikah denganku? Kurang ajar kamu…”. Tiba-tiba datang suara tak terduga , yang ternyata suaminya.

“E….e…ee….enggak….”, jawab Ona gelagapan.

“Biadap kamu…kondiiku seperti ini kamu berani-beraninya mikir sepicik itu…perempuan matre kamu…”, kata sang suami dengan emosi yang meluap-luap. Mendengar ucapan tersebut Ona tidak terima dan membalas:

“Cuma lelaki kere yang bilang perempuan itu matre. Jadi perempuan itu memang harus matre. Kalau tidak mau makan apa, cinta? Gara-gara kamu hidupku sekarang jadi susah begini…”, mendengar ucapan Ona, sang suami tak bias menahan emosinya hingga tangannya mendaratkan sebuah tamparan yang kasar ke pipi Markonah. Ona menangis dan segera meluapkan kata-kata kasar pada sang suami. “Brengsek kamu. Aku udah nggak kuat lagi hidup begini. Aku minta cerai!”, ucapnya terisak dengan berlari keluar kamar meringkasi barang-barang. Suaminya hanya diam mematung bagai tersambar petir I siang bolong. Lengkaplah suah kini penderitaannya.

Markonah resmi menjadiseorang janda. Janda cantik yang sangat miskin. Hari-harinya ia habiskan untuk tebar pesona kesana-kemari berharap aka nada pengusaha kaya yang meliriknya. Orangtua Markonah tak bias berbuat banyak. Alam hati kecil mereka merasa malu melihat putrid semata wayangnya itu. Anak yang selalu bermimpi bias hidup jadi tuan putrid yang semua kemuannya bias dituruti. Mimpi yang bias dirasakan nikmatnya selama 9 bulan lamanya dan kini menjadi petaka. Markonah pantang menyerah. Ia yakin bahwa suatu saat nanti hidupnya akan lebih baik dari ini. Ia cantik dan sangat menarik. Sebenarnya cukup banyak pemuda yang melamarnya, namun Markonah tak menerima lamaran mereka engan alas an kurang kaya.

Pucuk dicita ulampun tiba. Datanglah seorang saudagar kaya yang tinggal di ujung desa melamar Markonah. Ia mengaku masih bujang dan sudah lama mengagumi kecantikan Markonah. Tanpa berfikir panjang Markonah langsung menerima lamaran lelaki tersebut.  Ia sangat bahagia dan yakin bahwa inilah gerbang menuju impiannya yang indah. Ia akan menjadi istri seorang saudagar yang hidup serba berkecukupan. “Semua wanita pasti iri melihatku….”, fikirnya berkali-kali. Merekapun segera menentukan tanggal pernikahannya. Orangtuanya selalu menasehati Ona agar lebih hati-hati lagi dalam memilih suami. Namun Ona tak begitu peduli. Hanya mimpinyalah yang menguaai fikirannya saat ini.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, hari pernikahan Ona yang kedua. Pesta digelar besar-besaran. Berbagai orchestra disewa untuk menghibur tamu unangan. Makanan dan minuman yang dihidangkan tak kalah mewahnya.  Semua tamu undangan tak henti-hentinya memuji Markonah yang hebat mencari suami. Dengan bangganya Markonah selalu tertawa dan senantiasa menyombongkan kecantikannya. Tak sedikit pula para tetangga yang tak suka melihat gaya Markonah.

Acara digelar selama 2 hari 2 malam. Setelah acara berakhir Markonah dan sang suami ingin menikmati malam pertama mereka. Hati Markonah senantiasa berbunga melihat uang yang tertata rapi di meja kamar. Ruangan kamarnya besar dan sangat nyaman. Rupanya suaminya kali ini jauh lebih kaya dari mantan suaminya. Kesombongannya menyeruak dalam dada. Suaminya saat itu sedang buang air kecil. Ia tersenyum kecil membayangkan saat ini mantan suami beserta anak-anaknya kelaparan di kolong jembatan. Saat lagi asyiknya melamun tiba-tiba Hp uaminya bordering. Ia merasa berhak membuka pesan tersebut. Ia baca SMS itu dalam hati:

“Sayang…kapan pulang? Anak-anakmu sudah kangen ini. Cepat pulang ya. Jangan lupa tempe kripik pesananku…”, Markonah syok membaca SMS ari nomor yang diberi nama “istri ke-3” itu.

“Lantas aku istri yang keberapa?”, ucapnya meratapi nasib. Dunia seakan berubah menjai gelap. Hiasan dinding kamar seolah menjai setan-setan yang menertawakan kebodohannya. Markonah pingsan tak sadarkan diri.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *