Petani Kendeng Masih Tegak Berdiri

Sumber : http://update.ahloo.com/
Sumber : http://update.ahloo.com/

Sulit sekali tidur nyenyak di negeri ini. Sekalipun sedikit ada kebahagiaan saat mendengar timnas kita masuk final AFF setelah mampu mengalahkan Vietnam tempo hari. Selebihnya, masih banyak yang mengganggu ketenangan dan membuat pikiran tidak nyaman. Riuh sekali orang berdemo atas nama penistaan. Semua berteriak merasa benar, dan menuntut adanya keadilan.

Mendung kesedihan di Aceh tempo hari tak begitu terdengar. Tanah itu kembali tertimpa bencana dan korban mulai berjatuhan. Tapi kawan saya sebelah kamar masih bertanya-tanya ,”Memang di Aceh terjadi apa?”. Berita aksi damai yang membuat dunia ramai itu lebih terasa gemparnya daripada bencana di tanah saudara kita. Bukan di Palestina, tapi di Aceh yang masih satu negara.

Sementara itu, diam-diam ada ratusan petani yang mayoritas adalah perempuan sedang berusaha memperjuangkan tanahnya. Mereka berjalan kaki sepanjang 150 km untuk tujuan yang menyentuh kesadaran nurani.  Ini bukan hanya perkara berjuang melawan sakit hati merasa dianiaya dengan kata-kata. Lebih dari itu, kelestarian lingkungan dan masa depan pertanian dipertaruhkan disana. Profesi kaum tani terancam, kerusakan lingkungan sudah membayang di pikiran.

Kita tidak bisa melupakan apa yang dikatakan Soekarno kala itu. Bahwa pangan adalah hidup mati bangsa ini. Tapi sekarang, profesi petani terlihat menyedihkan. Tingkat pendapatan yang rendah, produktivitas yang menurun, penguasaan para tengkulak yang mengambil keuntungan begitu tinggi,  perubahan cuaca yang mengganggu siklus tanam dan meningkatnya resiko gagal panen, produk impor yang merebak dimana-mana, dan beberapa permasalahan lainnya. Belum lagi kasus agraria yang entah sampai kapan akan terselesaikan. Petani harus berhadapan dengan si pemilik modal, aparat, bahkan para birokrat yang seharusnya melindungi hak-hak rakyat dalam memperjuangkan tanahnya. Dan besok, ibu-ibu di Kendeng kembali beraksi. Setelah nekat menyemen kaki, mereka sudah berjalan kaki sepanjang 150 km dari Rembang ke Semarang untuk mengawal putusan PK Mahkamah Agung atas kasus PT. Semen di Rembang dari tanggal 5-9 Desember 2016 dan akan bersuara di depan kantor gubernur Jawa Tengah.

Kaki-kaki baja penuh kapal yang kini mungkin lecet-lecet itu sudah ditempa bertahun-tahun lamanya. Mereka sudah bersekolah di sepetak sawah tanpa sepatu. Beratapkan langit, dengan hamparan tanaman yang siap memenuhi kebutuhan umat manusia di bumi ini. Panas terik kadang begitu mencekik, dan hujan deras tak membuat mereka menjadi malas. Perjalanan 150 km itu jadi saksi betapa kuat kaki itu berpijak di bumi demi menopang kebutuhan pangan kaum di negeri ini.

Tapi suara mereka bertahun-tahun lamanya sulit sekali mendapatkan tempat. Anggota dewan yang suaranya lebih didengar itu sudah tak terlalu bisa diyakini bisa mewakili rakyat. Kita memang butuh semen, tapi kita jauh lebih membutuhkan air. Sumber air di sana terancam. Mengalihkan profesi petani ke sektor lain juga bukan solusi yang menggiurkan. Menjadi petani di negeri ini bukan sekedar profesi untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Budaya warisan para leluhur masih mengendap kuat di dalamnya. Ketahanan pangan dan regenerasi petani juga dipertaruhkan disana.

Kita sudah terlalu sering berkoar-koar tersulut hatinya karena kata-kata yang menyangkut agama. Tapi pura-pura tak peduli saat saudaranya sendiri harus berjuang mati-matian memperjuangkan tanahnya sendiri. Biar bagaimanapun juga, makanan yang ada dalam perut kita adalah hasil dari kerja para petani.

Kaki-kaki yang penuh luka itu menjadi saksi betapa kuatnya keinginan petani-petani Kendeng untuk mempertahankan hak-haknya. Menyelamatkan apa-apa yang bisa jadi bermanfaat bagi kehidupan banyak orang, bukan hanya dirinya saja. Berapa kali suara mereka ditolak, dan mereka masih tetap berdiri di atas kaki sendiri.

Kami memelukmu dari sini, petani-petani Kendeng dan siapa saja yang turut berjuang membantu mereka. Semoga tanahmu bisa kembali kau tanami, dan alam tetap ramah untuk masa depan anak cucu kita nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *