Cerpen: Pengakuan Bagus

Sumber: hangtuahnews.co.id

Sebut saja saya Bagus, bukan nama yang sebenarnya. Saya adalah pria berdarah Jawa- Padang dan mengikuti adat Jawa. Tinggal di desa yang menganut adat istiadat jawa membuat tingkah laku saya diperhatikan tetangga. Itulah yang membuat saya sampai sekarang tak bisa jujur tentang keadaan yang sebenarnya. 

Saya pria mapan yang berprofesi sebagai General Manager  di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Surabaya. Tidak seperti masyarakat jawa pada umumnya, saya berkulit putih susu, berhidung mancung, berwajah tampan seperti bapak saya. Saya dan bapak memiliki sifat yang sama, yaitu jika sudah mencintai sesuatu akan merelakan apa saja untuk memilikinya.

Kini usia saya 32 tahun, dan sampai sekarang belum pernah membawa calon istri ke rumah. Bapak dan Ibu mulai resah karena saya tak kunjung mendapatkan jodoh. Untuk itu mereka mulai menjodohkan saya dengan beberapa wanita. Sering kali saya menolak, namun saya menyerah ketika bapak membicarakan penyakitnya. Dengan berat hati saya menyetujui menikah dengan Sri, anak dari pemilik warung Nasi Becek dekat alun-alun kota Nganjuk.

 

***

 
“Aku setuju menikah denganmu.” Ucap Sri memecah kebisuanami sama-sama membisu. Hanya ada tawa anak-anak yang sedang bermain di hadapan kami. Saya sesekali meliriknya. Sri cukup tinggi, parasnya manis, hidung mancung, bibir tipis, langsing dan sepertinya memiliki sifat keibuan.

Saya hanya diam mendengarkan.

“Aku lelah membawa calon ke rumah.” Kembali Sri memecah kediaman.

“Jumlah weton kami selalu lebih dari 4.”

Saya lahir senin paing, sedangkan Sri lahir kamis kliwon, setelah melalui penjumlahan dan pembagian, kami mendapatkan sisa 1 yang bernama wasesa segara artinya besar wibawanya, luas budinya, sabar dan pemaaf. Menurut perhitungan weton kami jodoh, itulah yang menyebabkan saya secepatnya melamar Sri, sekaligus menentukan hari pernikahan. Setelah melalui proses perhitungan weton, hari baik dan buruk, akhirnya diputuskan bahwa dua bulan lagi kami akan menikah. Perasaan saya campur aduk, antara senang bisa membahagiakan orang tua, sedih karena tidak bisa berpacaran dengan Deni dan ragu untuk melanjutkan pernikahan tanpa cinta ini atau tidak.

 

 

***

 

Hampir setiap hari Deni mengajak bertemu, namun saya selalu menolaknya dengan alasan bapak sakit dan harus mendapatkan perhatian khusus. Suatu ketika ia menelepon sambil menangis karena rindu. Saya tak tega, sehingga lima belas hari sebelum pernikahan, saya menemui Deni. Kali ini kami berada di kamar tempat kami biasa bergumul dengan hasrat yang menggebu-gebu, namun kali ini hasrat saya hilang digantikan oleh keseriusan.

“Dua minggu lagi saya menikah dengan wanita pilihan bapak.” Ucap Saya.

“Apakah kamu tidak mencintaiku?” jawabnya dengan berurai air mata.

“Aku mencintaimu, tapi aku harus memilih.” Jawab saya tanpa melihat padanya.

Fikiran saya berkecamuk. Bimbang. Saya mencintai Deni, kami berpacaran lebih dari 8 tahun. Setiap hari kami melakukan aktifitas bersama-sama. Kami tidur di ranjang yang sama, makan bersama seperti pasangan lainnya. Bagaimana mungkin saya bisa melepaskan Deni dan melupakan kenangan ini? Tetapi saya tak ingin kehilangan bapak yang telah memberikan rasa aman, apalagi setelah mempunyai pengalaman yang buruk dengan ibu.

“Aaaaarrgghh!” Saya frustasi. Tangan bergerak menarik rambut dengan kuat hingga rintihan keluar dari mulut saya.

“Kenapa cinta serumit ini?” Gumam saya.

“Apakah salah saya mencintai Deni?” Saya berteriak frustasi.

 

***

 

Delapan hari sebelum pernikahan,  saya dan Sri sedang duduk di taman melihat seja yang kemerah-merahan. Saya bertekat untuk membuat pengakuan pada Sri.

“Sri”, saya mengambil nafas.

“Sebenarnya ”

“Sebenarnya saya ”

Telepon genggam Sri tiba-tiba berbunyi.

 

 

***

 

Tujuh hari sebelum pernikahan, saya datang ke rumah calon mertua. Saya disambut baik oleh keluarga Sri.  Di ruang tamu duduklah saya, Sri, pak Yanto dan Bu Ningsih. Keheningan terjadi.

“Ketika pulang dari Surabaya, saya mendengar desahan dari kamar ibu.” Ucap saya memecah keheningan.

“Saya penasaran, siapa yang mendesah di kamar, sedangkan saya melihat bapak di jalan.” Mereka terlihat mulai tegang.

“Lalu saya mengintip dari celah pintu.”

“Apa yang terlihat?” tanya bu Ningsih tidak sabar.

“Dua pasang bra dan celana dalam yang berserakan.” Mereka tercengang. Saya terdiam sambil mengingat memori yang ingin saya hapus itu. Saya mengambil nafas panjang.

“Wanita itu adalah Ibu dan Bu Lurah.” Mereka lebih tercengang lagi saat mengetahui fakta yang sebenarnya. Senyap. Saya diam cukup lama.

“Setelah itu, saya bertemu dengan Deni, ia membantu melupakan kenangan buruk yang ingin saya lupakan.” Lanjut saya.

“Beberapa bulan kemudian, saya menjalin hubungan dengan Deni.” Mereka diam mencerna perkataan saya.

Dengan suara bergetar saya berkata, “Saya Gay.” Hening sesaat.

“Gay?” ucap Sri lirih. Kembali senyap.

Pintu ruang tamu tiba-tiba terbuka lebar. Kami melihat pria tampan berumur sekitar 29 tahunan,  gagah, berhidung macung, berkulit putih, berpakaian rapi dan tinggi hampir sama dengan saya.

“Maaf terlambat.” Ucap Deni sambil duduk disamping saya. Kembali hening.

Tiba-tiba Deni memegang tangan saya seraya tersenyum simpul. Saya membalasnya dengan senyum termanis saya.

“Dia adalah Deni, pacar saya.” Ucap saya dengan lantang.

Mereka terdiam mencerna perkataan saya. Tiba-tiba Pak Yanto berdiri, menarik kerah baju saya dan meninju bertubi-tubi. Saya tidak melawan, mungkin ini hadiah karena sudah mempermainkan dan membuat malu keluarganya. Deni, Sri dan Bu Ningsih mencoba melerai namun tidak bisa, hingga akhirnya Pak Yanto terduduk karena kehabisan tenaga. Pak Yanto memegangi dadanya, lalu teriakanpun menggema.

“Bapak!” ucap Sri dan Bu Ningsih bersamaan.

 

***

 

Saya dan Deni duduk di bawah pohon yang rindang. Kami masih diam, hanya suara nyamuk terdengar nyaring. Kami berhadapan, saling berpelukan, lalu bibir kami bertemu berpagutan.

“Aaarrggh!” teriak kami hampir bersamaan.

Tangan saya berada di dadanya, begitu pula tangannya masih di dada saya. Darah segar mengucur deras. Pisau itu masih menancap di dada kami. Senyap. Lalu kami tertawa lepas. Kami bahagia. Tak akan ada yang mengusik cinta kami. Kami tersenyum, senyum yang tak akan pernah kami lupakan, senyum terbahagia kami. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *