Resensi Novel “2”

sumber : 1bp.blogspot.com

 

Novel  “2” karya Donny Dhirgantoro menceritakan tentang seorang perempuan Indonesia yang berjuang dalam kehidupannya. Cerita berawal dari proses kelahiran seorang bayi yang bernama Gusni Annisa Puspita yang menjadi tokoh utama pada novel ini. Gusni, begitulah ia dipanggil adalah sosok seorang perempuan yang ceria. Sama seperti manusia yang lain, dia juga mempunyai sebuah kekurangan. “Kelebihan” yang ia miliki justru menjadi kekurangannya. Sejak lahir, Gusni memiliki kelainan genetik. Berat badannya selalu bertambah seiring bertambahnya usia. Beruntung, keluarganya menerima Gusni apa adanya. Papa, Mama dan kakaknya, Gita sangat menyayangi Gusni. Layaknya juga seorang manusia yang hidup dan bermimpi, Gusni juga memiliki sebuah impian yang ingin ia capai. Gusni mempunyai impian menjadi seorang pemain bulutangkis. Sebuah impian yang di atas kertas adalah tidak mungkin bagi Gusni. Impian itu berawal ketika ia melihat kedua orangtuanya dan Gita sangat bersemangat menonton pertandingan bulutangkis. Bulutangkis adalah salah satu olahraga yang bagaimanapun keadaannya sekarang, mampu membuat Indonesia berjaya. Akhirnya, Gusni kecil berusaha mewujudkan impiannya dengan berlatih bulutangkis mengikuti sang kakak yang sudah lebih dulu berlatih. Tapi sebuah kejadian yang memilukan membuat Gusni kecil menyerah.

Seiring berjalannya waktu, Gusni tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat dan ceria. Berat badannya yang terus bertambah tidak menghalangi semua aktifitasnya. Dia belum mengetahui penyakit yang ada di tubuhnya itu. Suatu ketika, Gusni bertemu dengan Harry. Harry adalah teman masa kecil Gusni dulu. Mereka begitu akrab karena sama-sama menyukai onde-onde. Namun, peristiwa Mei 1998 memisahkan mereka. Harry terpaksa pindah bersama keluarganya. Kini, setelah sekian lama akhirnya mereka bertemu kembali. Perasaan Harry dan Gusni ikut tumbuh seperti umur mereka. Sebuah perasaan yang wajar dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Tepat saat usia Gusni 18 tahun, papa Gusni memberanikan diri mengatakan kejujuran itu. Papa, Mama, dan juga Gita sebenarnya berat untuk mengatakan itu. Mereka takut Gusni akan terpukul dengan kenyataan  tersebut.

Gusni adalah seorang manusia biasa yang juga mempunyai perasaan. Dia sangatlah terkejut dengan kondisi yang dialaminya. Membayangkan penyakit yang mungkin sewaktu-waktu dapat membuatnya menyerah dan meninggal. Penyakit yang juga membuat kakek buyut dan neneknya meninggal pada usia yang tidak lebih dari 25 tahun. Namun inilah kekuatan manusia dengan segala kekurangannya. Gusni memutuskan tidak menyerah dan akan melawan penyakitnya itu. Dia justru yang meyakinkan papa, mama, kakak bahkan dokter yang merawatnya untuk tidak menyerah juga. Akhirnya dia memutuskan untuk berlari setiap subuh dari rumahnya sampai ke Gelanggang olah raga, tempat kakaknya yang seorang atlet bulutangkis biasa berlatih. Gusni juga memutuskan untuk kembali mengejar cita-citanya menjadi seorang pemain bulutangkis. Gusni sangat beruntung karena pelatih yang biasa melatih kakaknya mau untuk membimbingnya juga. Seorang mantan pemain Tim Nasional dengan segala prestasi yang membuat Indonesia Berjaya. Seorang pelatih yang juga mampu membuat Gita menjadi seorang pemain bulutangkis yang hebat.

“Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah”.  Itulah kalimat yang selalu membuat Gusni semangat dan pantang menyerah. Dia begitu gigih berlatih bulutangkis hingga membuat orangtua dan pelatihnya bangga. Setelah lama berlatih, Gusni akhirnya melakukan pertandingan bulutangkis pertamanya. Beberapa pertandingan dimenangkannya dengan mudah. Namun, penyakit itu lagi-lagi harus membuat Gusni menyerah di pertandingan terakhirnya. Ia roboh di tengah lapangan.

Kembali lagi, inilah sosok perempuan Indonesia yang pantang menyerah. Sekali lagi, Gusni membuktikan bahwa ia mencintai bulutangkis dan tak akan menyerah karena penyakit itu. Setelah melewati banyak perjuangan, akhirnya Gusni masuk Tim Nasional dan mengikuti pertandingan. Tim putri Indonesia yang tidak diunggulkan pada pertandingan itu justru membuat kejutan dengan masuk final. Pada final itu mereka harus melawan Malaysia. Bagi Gita, pertandingan ini begitu menguras emosi. Sedangkan bagi Gusni, pertandingan ini adalah pertandingan penentu impiannya. Pada akhir cerita digambarkan Tim Putri Indonesia memenangkan kejuaraan Khatulistiwa Terbuka setelah mengalahkan Tim Putri Malaysia secara dramatis.

Setelah pertandingan itu dan mungkin sampai sekarang, Gusni masih terus berlari untuk melawan penyakitnya. Papa, Mama, Gita, dan Harry juga kedua sahabatnya Nuni dan Ani selalu memberikan semangat untuk Gusni agar terus bertahan melawan penyakitnya.[]

-sekli anjar-

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *