Kisah Cacing yang Suka Menulis dan Bebek yang Hobi Berdemo

Gambar oleh: Fitri

 

Siang itu matahari bersinar terik. Angin bertiup semilir. Serombongan bebek berlalu lalang merapatkan barisan. Membawa spanduk besar bertuliskan, “Selamatkan hewan dari tawanan perburuan!”. Mereka berjalan menuju balai perkumpulan masyarakat hewan di tengah hutan.

Suara-suara mulai dipekikkan. http://www.achaten-suisse.com/ Pasukan mulai mengepakkan sayap membuat koreo sederhana bukti perlawanan. Mereka sering dikenal sebagai Komunitas BeMo (Bebek suka Demo) yang bergerak memperjuangkan hak-hak kaum hewan yang tertindas. Mereka bersatu karena sudah sekian lama mengalami kemuakan yang sama. Mengecam ketidakadilan. Mengumpat tindakan yang tidak berperikehewanan.

Di ujung barisan paling belakang, nampak seekor cacing yang berjalan begitu pelan. Ia mencatat semua yang terjadi hari itu, mengikuti jalannya kegiatan pelan-pelan dengan sesekali melemparkan beberapa pertanyaan. Ia hanya mengamati, tanpa banyak basa-basi. Lain hari ia menyebarkan tulisannya pada masyarakat hewan di hutan. Hingga aksi mereka menarik simpati, hewan-hewan yang terancam perburuan mulai berkurang. Penjaga hutan yang ganas mulai memperkuat keamanan.

Waktu terus berlalu. Perburuan kembali mengganas. Banyak hewan kecil yang tewas termakan binatang besar  yang rakus dan buas. Masyarakat mulai ketakutan. Cacing mulai mendapat banyak sindiran. Mengapa ia tak ikut melakukan perlawanan? Ia akhirnya ikut Komunitas BeMo turun aksi menyuarakan hak hewan yang tertindas. Ia gabung ke barisan. Tak lagi membawa catatan. Tak lagi melemparkan beberapa pertanyaan. Namun ikut bersuara memperjuangkan kelangsungan hidup saudaranya yang teraniaya.

Ia telah melewatkan banyak hal disana. Cacing yang terlahir bertubuh kecil dan telah diwariskan kemampuan menulis dan amanat besar dari nenek moyangnya untuk berjuang dengan pena itu telah goyah. Ia tak lagi menulis. Ia berteriak lantang hari itu, namun tak didengar lagi di lain waktu. Suaranya ketika berdemo juga hanya bisa didengar radius beberapa meter, namun saat menulis pendapatnya bisa terdengar jauh berkilo-kilo meter. Rakyat hutan merindukan tulisannya. Rakyat hutan kehilangan kesempatan mengetahui apa saja yang diperjuangkan saudara-saudaranya.

Hingga akhirnya ia menyadari, bahwa dia bukanlah bebek. Dia memang berbeda dan disitulah keunikannya. Senjata yang ia dapatkan dari nenek moyangnya adalah pena. Ia harus rajin menggunakannya dengan seksama. Mengabadikan suara yang esok lusa bisa sirna. Mengabarkan berita harian yang mungkin lebih dibutuhkan layaknya kebutuhan pakan. Ia terus menulis dan tetap menulis.

Namun sang cacing tidaklah egois. Ia masih mau bergabung dengan barisan bebek itu untuk bersuara atas nama hati nurani. Tapi tujuan utamanya tetap ia tuangkan untuk menciptakan sebuah tulisan. Karena ia sadar, pena baginya adalah perlawanan.

Jika semuanya bersuara secara kerasnya, siapa yang akan mengabadikan suara itu agar tetap didengar ratusan tahun berikutnya?

                Jika ia tak gabung memperjuangkan hak saudaranya apa bedanya ia dengan cacing yang hanya di pinggiran sibuk mengisi perut sendiri?

                Maka ia tetap menulis, sembari beraksi demi keberlangsungan hidup saudaranya sendiri.

KARENA DIA BUKAN CACING BIASA. DIA ADALAH CACING YANG BERSENJATAKAN PENA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *