Dunia Begitu Bising, Bu!

sumber : http://riverpost.id/

 

Pagi ini aku ingin menyapamu Bu. Dunia begitu https://www.acheterviagrafr24.com/acheter-viagra-pfizer-tarif/ bising akhir-akhir ini. Betapa orang suka sekali membesar-besarkan sesuatu. Merasa paling benar, berteriak keras dengan mata nanar. Yang satu beropini demi apa yang ia yakini, satunya lagi menimpali dengan alasan yang tak kalah berapi-api. Sakit rasanya kuping ini Bu. Mungkin mereka kurang ngopi, atau mungkin waktu kecil belum diimunisasi. Kekebalan tubuh mereka buruk sekali. Betapa mudah dimasuki penyakit hati dari sana-sini.

Bu, begitu banyak manusia di sini yang tak peduli pada kemanusiaan itu sendiri. Tanah saudaranya dikuasai, hak-haknya dirampas tanpa basa-basi. Kisah petani dalam dongeng Si Kancil yang sering Ibu ceritakan waktu kecil begitu mengenaskan nasibnya kini. Mereka tak lagi dibodohi kancil yang cerdik itu Bu. Mereka dibodohi kawannya sendiri dengan upah yang begitu murah. Tanahnya disita, demi mendirikan pabrik-pabrik hingga bandara. Belum lagi produk-produknya seringkali dibeli murah. Produk impor merajai, hingga yang lokal harus rela menahan diri. Hujan kini juga turun semaunya saja, hingga musim tanam mereka tak tentu arahnya. Ah…begitu banyak kegelisahan tentang nasib petani Bu.

Bu,  orang-orang disini sepertinya memang butuh hiburan. Berteriak ‘’Om Telolet Om’’ dengan senyum yang lebar. Aku tak begitu paham tentang euforia ini Bu. Tapi yang jelas mereka nampak bahagia dalam sorotan kamera yang telah disetting sebelumnya. Entah karena pelarian kesedihan setelah kekalahan Timnas Indonesia dengan Thailand, atau mungkin karena memang mereka sudah muak dengan isu kebencian yang dibesar-besarkan.

Bu, semoga Kau masih kuat membaca suratku. Maaf, jika ceritaku tak banyak bisa membahagiakanmu. Tapi memang sulit sekali hidup tenang di negeri ini. Begitu banyak penindasan, begitu banyak ketidakadilan yang semakin merajai bumi. Banyak media-media pers mahasiswa yang dibredel, dibekukan oleh birokrasi di beberapa perguruan tinggi. kebebasan berpendapat masih sering dibatasi. Suara-suara mereka sering ditutupi layaknya tayangan pornografi. Yang harus diungkap menjadi tabu, menguap ke langit seperti bait-bait di masalalu.

Bu, hari ini adalah harimu. Kaum yang hingga saat ini masih kuat untuk terus melawan. Dari berani menyemen kaki sendiri, hingga berjalan kaki 150 km demi menyelamatkan tanahnya yang dikuasai industri dan birokrasi. Kaum ibu masih mencuri perhatian kami. Bekerja demi membantu suami dan masih dibebani urusan anak dan pekerjaan rumah tangganya sendiri. Darimu lahirlah generasi, dipundaknya kami panjatkan harapan untuk pembebasan belenggu di negeri ini.

Bu, maaf jika masih ada generasi perempuan kami masih sering melemahkan dirinya sendiri. Deretan kosmetik dan balutan lipstik lebih mendominasi daripada kebebasan berpikir mereka sendiri. Beberapa lagi sibuk mengomentari saudarinya yang memilih untuk tak menutupi rambutnya sendiri. Sibuk mengecilkan hati saudarinya sendiri hanya karena punya gaya berbeda, atau karena busananya belum memenuhi tuntutan agama. Beberapa buku diharamkan, hingga berdampak pada sempitnya wawasan kaum perempuan. Hingga akhirnya bukan hanya budaya patriarki, tapi merekalah yang ikut andil dalam melemahkan dirinya sendiri.

Bu, sudah dulu ya. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan. Lain waktu kita sambung lagi. Aku takut mengganggu ketenangan hatimu. Semoga kesehatan tetap menyertaimu.

 

Dari anakmu yang gelisah di hari ibu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *