AJI Jember Adakan Diskusi Melawan Hoax

Mahbub dan Ika selaku pemateri diskusi

 

Minggu (29/01),  AJI (Aliansi Jurnalistik Indonesia) Jember mengadakan acara diskusi dengan tema Melawan Hoax di Warung Ndalung. Tujuan dari acara ini yaitu untuk mengajak masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang banyak beredar di media sosial. Acara diskusi tersebut mengundang beberapa kalangan mulai dari pegawai pemkab, pers mahasiswa, Anshor, dll.

Mahbub, Komisaris Informasi Jawa Timur dan Ika, Ketua Aliansi Jurnalistik Jember hadir sebagai pemateri. Menurut Mahbub, terdapat dua institusi yang harus dikawal terkait berita hoax, yaitu institusi media dan pemerintah. Hal ini dikarenakan tidak jarang berita hoax yang banyak beredar di masyarakat datang dari dua institusi tersebut.

Berita hoax yang banyak beredar di media massa seringkali berupa pemutar balikkan fakta dan penghilangan beberapa data dengan judul yang dibuat secara provokatif. Hal ini menyebabkan perubahan informasi yang harusnya didapatkan oleh masyarakat. Pemerintah memiliki peran penting dalam mengawal isu-isu yang beredar menurut UU no 14 pasal 6 tahun 2008  tentang keterbukaan informasi publik bahwa lembaga publik (pemerintah) berkewajiban memberikan serta menyediakan informasi yang benar dan tidak menyesatkan.

“Kita gosip, kita ngerasani begitu kan, itu menjadi budaya sehari-sehari kita” ucap Ika. Namun dulu berita hanya beredar melalui mulut ke mulut yang mengakibatkan informasi berjalan secara lamban. Sedangkan transformasi media saat ini bergerak lebih cepat dengan adanya internet. Menurut data yang didapatkan dari ce connectivity per 2015, 48% masyarakat di dunia sudah menggunakan internet. Sedangkan di Indonesia sendiri 53% masayarakatnya sudah menggunakan internet. “Teknologi media ini sangat berpengaruh, dan juga menjadi salah satu hal kenapa berita hoax begitu cepat menjadi viral” ungkap Ika.

Motif dari berita hoax yang beredar berbagai macam, seperti propaganda hingga untuk mencari uang. Dibalik semua berita itu terdapat industri yang menjadikan berita hoax sebagai sumber penghasilan dari kelompok tertentu.Berita hoax atau tidak benar memang tidak akan pernah ada habisnya. Hal ini sudah terjadi sejak manusia diciptkan, karena berita hoax Nabi Adam harus turun ke bumi dan menerima hukuman, ucap salah seorang peserta diskusi.

Saat ini publik sudah dihadapkan pada beberapa pilihan dalam menentukan informasi yang akan mereka terima. Yang perlu dilakukan oleh publik adalah untuk terus bersikap skeptis sehingga mereka akan mengetahui mana berita yang berupa fake (palsu), dan mana yang berupa fact (sesuai).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *