Sabtu Malam Bersama Samagata

Penulis: Nizzar Kusuma & Novitariyani Hasanah

Penampilan kawan Situbondo

Gelap menyambut ketika kami memasuki gedung PKM Sabtu, 18 Februari 2017. Melewati penjaga pemeriksaan tiket, terdapat pagar-pagar sekitar 25cm dari bambu yang dibawahnya tertutup daun-daun kering. Melangkah lebih dalam, sayup-sayup gemericik air mulai terdengar. Mengambil duduk beralaskan lantai, panggung pertunjukkan masih tak terlihat tertutup gelapnya ruangan malam itu. Tak lebih dari 10 menit menunggu, penonton mulai memasuki ruangan dan lampu sorot menyala memperlihatkan tatanan panggung. Lantai panggung tertutup daun-daun kering. Di pojok kanan belakang sebuah pohon dengan sulur-sulurnya gagah berdiri. Di sisi kiri belakang tatanan taman dihadirkan dengan air yang mengucur dari pipa.

Pertunjukan musik healing dibuka dengan penampilan dari kawan Situbondo yang terdiri dari tiga laki-laki. Ali di seruling, Jaya di alat musik organ, dan laki-laki yang menamakan dirinya Sophia Latjuba di vokal. Aliran healing atau dikenal sebagai jenis musik yang digunakan untuk pengobatan dihadirkan oleh kolaborasi kawan-kawan Jember, Situbondo, dan Majalengka. Dari kawan Situbondo mengalun lagu Tanah Airku, Beda Lokasi Beda Judul (BLBJ), Fragmen, dan Menyatulah Kita Semua.

Diiringi tepuk tangan penonton, kawan Situbondo undur diri dari panggung. Diselingi iklan berdurasi beberapa detik, penyelenggara pertunjukan membawa masuk organ dan menata letak mike. Lalu masuklah tujuh laki-laki yang langsung mengambil tempat di depan alat musik bagiannya masing-masing. Tiga dari mereka yang bertugas pada alat musik cello, flut dan gitar merupakan kawan Samagata dari Majalengka. Berkolaborasi dengan empat kawan lainnya mereka memulai dengan alunan Bebas Boleh Bebaslah Boleh (diucapkan dengan bahasa Sunda).

Kolaborasi Samagata dan kawan Jember

Di tengah pertunjukan, dari sisi kanan kiri panggung muncul dua laki-laki bertelanjang dada dengan tangan yang ditali. Dari tengah-tengah penonton juga muncul dua laki-laki dengan kondisi sama. Treatikal dimulai. Dua dari laki-laki yang ditali itu mengelilingi bendera merah putih disisi kanan panggung yang berdiri tegak namun tertali sulur-sulur pohon. Tak mampu berkibar. Dua lainnya mengelilingi burung garuda di sisi kiri panggung yang tersangkut di pohon, menggambarkan lambang negara yang hanya diartikan sebatas simbol tanpa makna. Keempatnya berekspresi sama, penuh derita.

Mereka mencoba melepas tali-tali yang mengikat dan berusaha meraih bendera merah putih serta burung garuda, namun upaya mereka sulit tercapai. Tali-tali yang mengekang tubuh  menghalangi mereka. Dalam aksi treatikal ini mereka mencoba menyampaikan tentang kondisi negara Indonesia yang carut-marut, saling berebut kepentingan masing-masing. Demo dimana-mana, pemuka agama tak pada tugasnya, politisi sibuk berkutat meraih kedudukan. Sementara eksploitasi sumber daya alam Indonesia dikeruk habis-habisan oleh negera asing.

Pertunjukan treatikal

Seseorang diantara mereka dengan lantang berseru “Bersatu kita teguh, bercerai kita porak-poranda”. Tentunya peribahasa itu tidak asing ditelingi kita. Peribahasa yang mengandung makna dan seruan untuk saling menyatu ini menjadi kekuatan besar untuk lepas dari tali-tali yang mengekang. Para pemain treatikal kembali mengobarkan semangatnya untuk mencoba melepas tali-tali yang menghalanginya meraih merah putih dan burung garuda. Terus-terus berusaha, sampai akhirnya salah satu dari mereka bisa lepas. Lalu ia membantu teman lainnya untuk terbebas juga. Aksi treatikal malam itu ditutup dengan para pemain yang akhirnya bisa meraih benda merah putih dan mengibarkannya dengan gagah.

Sepanjang pertunjukan treatikal, alunan musik setia mengalun mengiringinya. Suara syahdu dalam harmoni yang lembut menghantarkan para penonton untuk meresapi makna yang coba disampaikan dalam pertunjukan tersebut. Diiringi ucapan terima kasih kepada seluruh pendukung acara, lampu menyala terang dan berakhirlah pertunjukan yang disuguhkan oleh kawan-kawan Jember, Situbondo, dan Majalengka.

Pertunjukan sabtu malam kemarin tidak lain merupakan proyek kolaborasi antara kawan Jember dan Majalengka yang juga disupport oleh teman Situbondo. Samagata dari Majalengka sendiri sebelum sampai di Jember, mereka sudah tur dibeberapa kota. Iral, salah satu panitia penyelenggara berharap dengan adanya pertunjukan tersebut dapat menambah wacana bagi para penonton. “Wacana bisa datang dari mana saja, ketika wacananya itu pertunjukkan layaknya kita sajikan dengan pertunjukan juga biar energinya cepat sampai”tuturnya[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *