Pesan Biyung

Repro: Internet

Dulu aku berpikir bahwa yang dibutuhkan manusia di dunia ini hanyalah kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Aku juga menganggap orang berpikir bahwa derajat setiap orang itu sama. Tapi satu kenyataan merubah semua pikiranku itu. Manusia tidak hanya membutuhkan kebahagiaan. Manusia juga membutuhkan rasa dihargai walaupun dia seorang yang hina sekalipun.

Aku kembali termenung mengingat bagaimana dulu aku hanyalah seonggok daging yang selalu dipandang hina. Mereka yang melihat ku seakan jijik dan ingin sekali aku menjauh dari mereka. Ya! Kejadian 8 tahun lalu tidak akan pernah aku lupakan. Kejadian yang membuatku belajar lebih keras, kejadian yang membuatku bertekad bahwa aku juga mempunyai hak untuk dihargai.

Pagi itu langkah kaki kecilku seakan tak tergoyahkan karena kerikil-kerikil kecil yang menusuk. Aku tak butuh alas kaki untuk hidup. Aku hanya butuh seseorang bisa sedikit lebih menghargaiku. Usia 10 tahun tak pernah menghalangi pikiran khas anak kecilku untuk berkembang lebih cepat dari kodratnya.

“Hei! Pergi kamu. Pagi-pagi sudah nongkrong di depan toko orang. Pergi ke lampu merah sana!” seru seorang laki-laki dengan garangnya

“Mau numpang istirahat dulu ya, Pak! Aku capek.” keluhku padanya

“Sana-sana pergi! Ada pembeli tuh!” dia tidak lagi menghiraukan ku dan malah menyuruhku pergi

“Haduhh, laper nih.” kataku saat perut ku berbunyi.

Aku melangkah menuju lampu merah. Seperti biasanya, ketika lampu menyala merah, aku akan mengamen dari satu mobil ke mobil yang lain. Ya, bisa dibilang suaraku cukup lumayan lah. Teriknya siang sangat membuatku letih, tapi rasa lapar dan juga bayangan wajah ibu selalu membuatku bertahan. Hanya akulah tumpuan ibuku.

“Ki, yuk ke lapangan. Kita main bola dulu. Ngamennya diterusin nanti aja, bro!”teriak Danu, temanku.

“Boleh deh. Lawan siapa kita?” tanyaku pada Danu

“Biasalah, anak-anak komplek ngajakin tanding. Kayaknya mereka belum kapok melawan kita. Kemarin kan mereka udah visiter le site web du posteur kalah!” seru Danu

“Hahaha. Pasti mereka masih penasaran buat ngalahin kita.” kataku bersemangat

Banyak orang bilang “Bermimpilah Setinggi Langit”, makanya aku juga berani untuk bermimpi. Karena cuma mimpi yang gratis. Aku belum pernah mendengar kalau seseorang yang ingin bermimpi itu harus membayar. Walaupun aku hanya seorang anak jalanan, aku juga mempunyai mimpi. Aku ingin menjadi seorang pemain bola hebat. Aku punya seorang idola dan dari dia aku belajar untuk menjadi kuat. Di setiap malam sebelum tidur, aku selalu menitipkan satu doa untuk Tuhan. Tuhan, semoga Engkau mengabulkan mimpiku. Itulah kata-kata yang tak pernah aku lupakan.

“Mana nih yang lain?” tanyaku pada Danu

“Paling sebentar lagi. Mungkin mereka masih kerja.” jawab Danu

Sementara itu, anak-anak komplek sudah datang dengan atribut lengkap. Baju olahraga, sarung tangan dan juga sepatu bola. Entah kapan aku bisa membeli sepatu bola.

“Mana teman-teman kalian? Apa mereka takut melawan kita!” kata salah satu anak itu dengan sombongnya.

“Sabar, bro. Kita bukan orang penakut kok. Nah itu mereka.” kata Danu sambil menunjuk ke depan.

Pertandingan pun dimulai. Aku meliuk-liuk melewati kawalan anak-anak itu, tapi sayang tendanganku masih meleset. Tidak apa-apa, masih ada kesempatan lain. Pertandingan ini seru sekali. Kelihatannya anak-anak komplek itu berlatih lebih keras lagi. 90 menit telah berlalu. Dan hasilnya sama seperti sebelum-sebelumnya. Tim kami menang 2-0. Aku menyumbang satu gol.

“Selamat kalian menang.” kata salah satu anak komplek itu

Yoi, sama-sama.” kataku sambil mengulurkan tangan dan dibalas oleh dia

Hahaha, benar-benar sore yang indah

—–88—–

Malam sudah mulai datang. Kira-kira sekarang pukul 7 malam. Aku masih setia di dekat lampu merah bersama Danu menikmati gemerlapnya malam di kota.

Loee beneran mau jadi pemain sepak bola?” tanya Danu tiba-tiba

“Ya iyalah! Gue ingin kayak Bambang Pamungkas. Bisa main di klub besar dan juga bermain di TimNas” jawabku mantab

Gue punya kenalan yang mungkin bisa membantu loee. Dia kerja di sebuah sekolah sepak bola yang tidak jauh dari sini.” kata Danu

“Apa gue bisa masuk ke sekolah itu? Disana kan pasti mahal bayarannya.!” kataku pesimis. Sungguh sebenarnya aku ingin sekali.

“Ada beasiswa kok. Loee ikut tes beasiswa itu aja.”saran Danu

“Oke deh kalau begitu. Besok anterin gue kesana.”pintaku pada Danu

“Sip boss!” Danu tersenyum lebar seakan menyemangatiku

Malam ini aku tidur dengan nyenyak. Besok usaha keras harus ku kerahkan untuk menuju masa depanku. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan sekali seumur hidup ini.

Pagi ini aku bangun awal, bahkan tak kubiarkan ayam berkokok lebih dahulu. Semangatku begitu menggebu. Sudah lama aku tak mempunyai semangat sebesar ini. Bersama dengan Danu, aku pergi ke tempat tujuan.

“Semoga sukses!” Danu memberiku semangat. Hanya motivasi kecil memang, tapi kata-kata yang Danu ucapkan seolah menyatu dengan seluruh semnagat yang kupunya.

Riski kecil mencoba untuk bertaruh dengan hidupnya. Pikiranku hanya tertuju pada sepasang mata sayu dan lelah milik Biyung. Biyung satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku menganggapnya sebagai ibuku, sampai 2 tahun lalu Biyung mengatakan semuanya. Aku hanyalah seorang bayi yang ditemukannya menangis kedinginan di samping tempatnya menjual gorengan di pasar.

“Biyung memang bukan orangtua kandungmu, tapi Biyung tak pernah bohong kalau Biyung menyayangimu sejak pertama melihatmu dulu.”

Kalimat itulah yang membuatku tak pernah lagi tertarik mencari orangtua kandungku. Mulai saat itu, seluruh hidupku hanya untuk Biyung.

Setelah berpamitan dengan Biyung, aku dan Danu menuju tempat pelatihan sepak bola itu. Gedung cukup megah terpampang di depan mataku. Beberapa baliho dengan foto pemain sepak bola anadalah Indonesia tak ketinggalan menyambutku. Danu pamit sebentar untuk menemui kenalannya.

“Riski, ini kenalkan Om Rahman namanya.” Kata Danu tiba-tiba membuatku yang sejak tadi menatap poster Bambang Pamungkas berpaling. Aku menjulurkan tangan dan orang di depanku membalas dengan senyum ramah.

“Kamu ingin menjadi pemain sepak bola?”tanyanya

“ Iya om. Aku ingin seperti dia!” ucapku sambil menunjuk gambar Bambang Pamungkas. Tawa Om Rahman lepas.

Setelah mengisi beberapa formulir, aku diajak menuju lapangan. Di sana sudah ada beberapa anak dengan pakaian olahraga lengkap.

“Mereka juga ingin mendapatkan beasiswa sepertimu.” kata Om Rahman

Aku terhenyak. Bagaimana mungkin aku bisa loeloes melawan mereka. Mereka terlihat “keren” dengan seragam lengkap itu. Aku bahkan tak membawa sepatu bola. Memang benar kemarin aku berhasil menang melawan anak komplek, tapi itu karena dukungan teman-temanku juga. Nyaliku mulai menciut. Biyung, harus menyerah sajakah aku?

“Ini nomor urut loee. Loee hanya perlu menggocek bola zig-zag dan melakukan tendangan jarak jauh sebagai tahap awal. Tahap selanjutnya, loee bakal dimasukkan ke dalam tim dan bermain di sana.”

Gue bisa nggak ya, Dan?!” suaraku sedikit bergetar.

“Idiihh. Loe takut! Ingat ya, Ki, mimpi loe ada di depan sana. Kalau loe menyerah, nggak akan pernah ada kesempatan lagi buat loe untuk membuktikan bahwa loe bisa. Ya, memang kata-kata gue terdengar sok bijak. Tapi coba loe bayangin lagi biyung yang selalu mendoakan loe.

Aku terdiam sejenak, bersamaan dengan lamunanku yang kian dalam menuju biyung. Aku tersadar saat bahuku diguncang Danu.

“Giliran loe tuh! Semangat ya.”

Langkah ku mantap menuju lapangan. Seseorang memberiku sebuah bola sebagai jembatan lolos tahap awal. Lagi-lagi wajah Biyung berkelebat.

——-888888——-

Suara kokokan ayam menganggu mimpiku. Padahal jika aku tak terbangun, mungkin saja bola itu akan masuk ke gawang dan Indonesia akan menyamakan kedudukan. Huft!

“Bangun Ki, sudah jam 07.00. kamu kan haru ikut seleksi tahap selanjutnya jam 09.00, ayo bersiap-siaplah.” teriak Biyung

Aku terperanjat. Segera aku bangkit dari kasur reot yang selalu menyuarakan melodi khasnya, kreeek.. Dua hari yang lalu, tahap awal kulalui dengan mudah. Om Rahman mengatakan nilaiku di atas yang lain. Itu berarti Aku punya kesempatan besar untuk mendapat beasiswa. Kali inipun, aku akan menghadapi tes tahap kedua dengan semangat.

“Biyung, aku berangkat dulu ya. Aku sudah janjian dengan Danu di depan halte.” pamitku pada Biyung.

“Hati-hati, Ki. Ingat pesan Biyung, gagal atau berhasil langkahmu jangan pernah patah semangat. Selalu ada jalan terbuka untuk orang yang semangat.”

Pesan biyung itu selalu diucapkan setiap aku akan keluar rumah untuk bekerja. Pesan itulah yang selalu menguatkanku.

Di persimpangan dekat halte, aku sudah melihat Danu duduk di sana. Sahabatku sejak kecil yang selalu berbagi semua hal.

“Dan. Sorry agak telat. Loe bawa kan pesanan gue?”

“Iya, ini. Sepatu ini gue pinjam dari Budi, dia bilang mungkin agak kekecilan saat loe pakai.”

“Oke tak masalah. Sudah syukur ada yang mau meminjamkan. Hahaha.” Entah mengapa tak ada beban sama sekali di hatiku. Aku seolah mengikhlaskan semua alur yang akan Tuhan buat untukku ke depannya.

Sampai di tempat tes, sudah banyak peserta yang datang. Aku langsung menuju tempat ganti. Kemarin, sudah ditentukan di tim mana aku bergabung. Aku juga sudah berkenalan dengan teman satu tim bahkan lawan tim juga. Satu saja harapanku saat ini, semoga aku beruntung.

“Semoga berhasil, Ki.” Kata Oom Rahman

Mantab sekali kaki kecilku ini melangkah. Suasana lapangan cukup ramai. Penonton berasal dari keluarga peserta dan beberapa orang yang memang senang melihat pertandingan bola. Semangat Ki, kamu hanya butuh 45 menit untuk mewujudkan semua mimpimu. Itulah kata-kata yang kutujukan untuk diri sendiri.

10 menit pertama, pertandingan berjalan santai. Tim ku maupun tim lawan masih tak banyak menyerang. Kami masih mencari-cari celah untuk melakukan penyerangan. Kesempatan itu muncul di menit ke-15. Aku melihat sebuah celah pada baris pertahanan lawan. Saat itu posisiku bebas dan tidak offside. Kemudian, aku melihat teman se timku, Ilham membawa bola. Aku memintanya untuk mengoper padaku. Seakan mengerti keinginanku, Ilham memberikan bola itu padaku. Dengan sedikit gerakan, celah kosong itu kumanfaatkan. Setelah itu, semua orang pasti bisa menebak hasilnya. Goooollllll!!!!!!! Riuh suara penonton. Aku melihat Danu mengangkat jempolnya untukku. 1-0 untuk Timku.

“Terimakasih, Ham.” kataku sambil memeluknya.

“Sama-sama bro. Hahaha.” balasnya sambil tertawa.

Sejak gol pertamaku, pertandingan mulai memanas. Tim lawan menyerang dengan membabi buta agar bisa menyamakan kedudukan. Mungkin inilah yang dirasakan Bambang Pamungkas di lapangan. Kini aku pun sedang merasakannya, Capt. Sialnya, kakiku mulai sakit. Sepatu Budi benar-benar kekecilan. Aku harus bertahan pertandingan tinggal 10 menit lagi. Sakit di kakiku membuat konsentrasiku tak utuh lagi. Aku tak menyadari bahwa di depanku sudah ada lawan yang ingin mengambil bola. Bukan hanya 1 tapi 3. Aku benar-benar terkepung. Teman satu timku berlari untuk membantu, tapi terlambat. Satu lawanku yang kuketahui bernama Doni maju. Dia melalukan sliding tackle dengan tiba-tiba. Aku tak sempat mengelak, beberapa saat kemudian hanya rasa nyeri yang kurasakan. Setelah itu semuanya seolah berkelebat. Bayangan Biyung dengan nasihatnya muncul. Bayangan Danu yang selalu merangkulku juga muncul. Aku, aku hanya bisa berteriak dengan rasa sakit yang kurasakan.

———88——–

Hari ini, tepat 8 tahun 1 bulan sejak kejadian  itu. Aku tak lagi menjadi sampah yang harus mengemis di depan emperan toko bahkan lampu merah. Bukan, semua ini bukan karena sepak bola. Semua ini bukan karena mimpiku menjadi pemain sepak bola menjadi nyata. Justru mimpi itu harus kukubur jauh-jauh hari. 8 tahun lalu, mimpi itu harus kupaksa mati.  Akibat kejadian itu, kaki kananku tak mungkin bisa kugunakan untuk bermain sepak bola. Aku masih bersikeras memaksa kakiku, namun biyung melarang. Biyung bilang, masih ada mimpi lain yang bisa kugapai.

“Biyung, sepak bola adalah mimpiku. Aku masih punya kaki yang utuh. Aku pasti bisa. Bukankah biyung selalu berkata untuk tidak patah semangat?”

“Biyung tidak pernah memintamu untuk patah semangat. Biyung hanya ingin kamu sedikit saja melepas mimpimu menjadi pemain sepak bola. Jangan hidup di alam mimpi. Kakimu tak lagi bisa untuk bermain bola. Cobalah pahami itu!” Biyung membuatku mengerti secara perlahan-lahan bahwa memang ada suatu hal yang tidak mungkin dipaksakan.

Kini setelah 8 tahun, aku masih memakai tongkat untuk menyangga sebelah kakiku. Namun, sekali lagi kutegaskan aku bukan sampah. Aku dan Danu membuka sebuah usaha alat-alat olahraga. Kami juga membuka usaha pembuatan jersey untuk beberapa cabang olahraga. Aku tak akan bisa jauh dari dunia sepakbola. Meskipun dengan tongkat, sesekali aku masih ikut bermain dengan anak-anak kecil di lapangan yang dulu.

Mungkin takdirku bukan seperti Bambang Pamungkas, dan aku harus menerima itu. Lagi, pesan biyung yang membuatku bertahan selama 8 tahun ini juga seterusnya. Asalkan ada pesan Biyung di ingatanku, semua akan baik-baik saja.

Ingat ya Ki,  “gagal atau berhasil langkahmu jangan pernah patah semangat. Selalu ada jalan terbuka untuk orang yang semangat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *