Yang Bernafaskan Keberagaman

Kaum Nasrani di Wonosobo merayakan Natal tanpa ada riak. Kiai dan pendeta aktif menebarkan kerukunan. Kidung menyusup senja di lereng Gunung Mbeser. Tiga ratusan orang bersenandung memuja kebesaran Tuhan di depan altar. Jemaat mengikuti kebaktian Natal di Gereja Pantekosta Dusun Kaliputih, Desa Kaliputih, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Bondowoso, Rabu, 25 Desember lalu.

Cemara Natal berdiri di dekat altar. Pucuk cemara hampir menyentuh langit-langit gereja. Kelap-kelip lampu serta rangkaian kembang mawar dan melati mempercantik cemara. Gereja Pantekosta Kaliputih ini berdiri damai di tengah mayoritas umat Islam. Jemaat yang beribadah petang itu datang dari berbagai penjuru Wonosobo.

Koran Tempo, Jumat 27 Desember 2013

 

Media jurnalistik menjadi cerminan dari masyarakat pembacanya. Masyarakat yang lebih suka membaca berita buruk memicu wartawan untuk lebih banyak menuliskan tentang berita buruk. Tak heran jika istilah ‘’bad news is a good news’’ masih melekat di beberapa wartawan. Dari judul yang provokatif, berita yang menyudutkan pihak minoritas, tidak berimbang hingga memicu adanya perpecahan. Bandingkan saat kita membaca tulisan di atas dengan membaca berita ini: “Pemkot Bekasi menyegel masjid Al Misbah milik jemaah aliran sesat Ahmadiyah di Pondok Gede, Bekasi, Jumat (5/4).” REPUBLIKA. Istilah sesat pada kalimat ini sudah memicu pembaca untuk menolak Ahmadiyah. Sedangkan tulisan sebelumnya, lebih banyak menebarkan kesejukan dari arti toleransi itu sendiri. Bahwa kiai dan pendeta jalan beriringan menebar kerukunan saat natal di Wonosobo. Berbeda masih bisa jalan bersama, tetap rukun sekalipun keyakinannya tidak sama.

Media jurnalistik bisa memicu konflik, namun juga bisa berlaku sebaliknya. Media bukanlah cermin statis. Seorang jurnalis yang intoleran bisa saja menyelipkan opininya begitu banyak sekaligus sebagai hakim keyakinan pada berita yang ditulis. Disinilah perlu adanya pemahaman tentang jurnalisme keberagaman. Indonesia yang merupakan negara plural dengan adanya suku, agama, ras gender yang beraneka rupa harusnya bisa saling menghargai satu sama lain. Mengingkari perbedaan seperti melawan hukum alam itu sendiri. Disinilah, seorang jurnalis harus punya perspektif yang menyejukkan. Pemahaman saya tentang jurnalisme yang ‘sejuk’ dan ‘menyejukkan’ ini diawali dari Bogor.

Bogor yang dingin. Manusia berlalu lalang dan masih sibuk dengan aktivitasnya. Bersama seorang teman dari Manifest, saya mengakhirkan perjalanan yang begitu panjang. Kereta yang kami lalui selama kurang lebih 20 jam itu menyisakan sedikit pegal-pegal di leher. Perjalanan kami bukan tanpa alasan. Demi memenuhi undangan workshop komunitas yang menamakan dirinya SEJUK (Serikat Jurnalis Keberagaman), kami menyempatkan diri untuk hadir sebagai salah satu peserta yang (katanya) terseleksi. Hingga sampailah pada diskusi tentang jurnalisme keberagaman. Malam ini, beberapa ingin saya bagi. Selebihnya, mari kita saling diskusi!

Jurnalisme keberagaman ditandai dengan beberapa karakteristik seperti berpihak pada keberagaman dan perbedaan; berpihak pada korban; berpihak pada minoritas; sensitif gender; menjunjung HAM; dan berperspektif jurnalisme damai. Melalui inilah seorang jurnalis diharapkan bisa lebih menghargai perbedaan suku, agama, ras, gender dan orientasi seksual. Selain itu juga untuk menolak diskriminasi, tidak menghakimi, serta melawan radikalisme, intoleransi dan eksklusivisme.

Jurnalisme keberagaman memiliki perspektif yang mendorong perdamaian. Hal pertama bisa dilihat dari judul. Judul yang provokatif dengan nada mengklaim suatu keyakinan tertentu ‘sesat’ misalnya, bisa menjadi pemicu penolakan pada masyarakat yang membaca tulisan tersebut. Seringkali media online memanfaatkan penulisan judul ini dengan begitu strategis untuk menambah trafik (pengunjung) di situs webnya. Penulisan judul yang baik pada jurnalisme keberagaman mencerminkan isi dari tulisan itu sendiri. Demikian halnya dengan diksi yang digunakan pada penulisan berita. Diksi atau pilihan kata yang digunakan pada jurnalisme keberagaman tidak menyudutkan pihak tertentu serta tidak mengandung kata-kata yang bersifat diskriminatif, seperti sesat, tobat, dan sebagainya.

Narasumber yang dipilih juga yang tidak menyulut/mempertajam konflik dan mendorong perdamaian. Jurnalisme keberagaman memberikan kesempatan semua pihak untuk bersuara, dengan pihak minoritas dan yang menjadi korban memiliki porsi yang lebih besar. Beberapa wartawan yang tidak berperspektif keberagaman justru semakin memojokkan korban di tengah permasalahan yang dihadapi. Jurnalisme keberagaman lebih memberikan perhatian yang besar terkait dampak yang dihadapi dari kasus dan mengapa hal itu terjadi (diskriminasi yang dihadapi korban) daripada hanya memberitakan pertikaian antara kedua belah pihak (korban dan tersangka). Narasumber pelengkap yang dipilih juga merupakan pihak yang mempunyai pandangan yang mengarah pada toleransi.

Dalam menulis berita keberagaman, jurnalis juga tidak diperkenankan melibatkan keyakinan pribadi dalam menampilkan fakta. Tidak serta merta karena jurnalis beragama islam maka penganut keyakinan lain dianggap sesat. Perlu ditekankan bahwa untuk kaum minoritas yang memiliki keyakinan berbeda dari mereka kebanyakan lebih patut disebut berbeda daripada sesat. Nada pemberitaan juga tidak boleh ada unsur menghina, menampilkan stereotip hingga menebarkan prasangka yang berpotensi merendahkan suatu kelompok.

Isu keberagaman yang ditulis juga memiliki kedekatan dengan pembaca dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Tulisan yang berperspektif keberagaman biasanya dituangkan dalam bentuk features. Hal ini dikarenakan tulisan features berbeda dengan tulisan jenis hard news  yang memberitakan kejadian, latar belakang yang hanya disampaikan secara sekilas. Features dapat mengungkapkan cerita dibalik kejadian dan membantu mengungkap hal-hal yang sifatnya sensitif. Perspektif yang perlu dikembangkan juga lebih pada prinsip voice of voiceless atau membantu menyuarakan mereka yang selama ini kurang mendapatkan porsi lebih untuk bersuara/minoritas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat akan menulis features keberagaman:

  • Mulai dengan kesadaran akan perbedaan
  • Open your mind , buang prasangka jauhkan stigma
  • bangun empati
  • pelajari subyek/obyek tulisanmu, observasi
  • himpun informasi sebanyak mngkin
  • wawancara tanpa menyudutkan
  • perdebatan teologis , pro, kontra, hindari?
  • Perspektif korban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *