Artmosphere: Gambar Bareng Anak Disabilitas

UKMS Kolang-Kaling kembali mengadakan Artmosphere 2017 dengan tajuk “Jarak Pandang Hanyalah Logika, Kontradiksi Hal Biasa”. Bertempat di gedung PKM Universitas Jember, acara ini berlangsung 2-5 September 2017. Artmosphere merupakan pameran seni rupa yang diadakan setiap satu tahun sekali oleh UKMS Kolang-Kaling. Ini sudah kali kedua pameran tersebut diselenggarakan.

Menurut Amelia Kusmina selaku ketua pelaksana, tema “Jarak Pandang Hanyalah Logika, Kontradiksi Hal Biasa,” dipilih karena setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda-beda sehingga menghasilkan premis-premis antara benar dan salah. “Jadi sebenarnya yang benar itu salah atau yang salah itu benar kita tidak tahu,” tuturnya. Sudut pandang manusia yang berbeda-beda ini akan menghasilkan suatu kontradiksi atau pertentangan-pertentangan baik kecil ataupun besar dan itu sudah hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah Opening Gate tanggal 2 September 2017, pada hari kedua dilaksanakan acara gambar bareng anak disabilitas. Bertempat di halaman samping gedung PKM, acara ini diikuti kurang lebih 50 anak tuna rungu dan autis dari SLB (Sekolah Luar Biasa) Bintoro, Jember.  Tepat jam 08.00 WIB acara dimulai dengan sambutan dari ketua umum dan ketua pelaksana kegiatan. Setelah sambutan singkat, anak-anak mulai menggambar di kertas yang disediakan panitia. Beralaskan meja lipat, mereka dengan tekun menyelesaikan karyanya. Selain menggambar, anak-anak ini juga unjuk kebolehannya dalam menjawab kuis, menyanyi, dan menari.

Beberapa anak disabilitas menyanyikan lagu “Terima Kasih Ku”

Acara ini ditujukan memberikan kesempatan pada anak-anak disabilitas untuk menampilkan karya-karyanya di depan umum. Selain untuk memberikan apresiasi terhadap karya anak disabilitas, diharapkan pula mereka dapat meningkatkan kreativitas yang dimiliki. “Mereka jarang diekspos, acara ini ada supaya kreativitas mereka berkembang,” tutur Amelia.

Gambar bareng anak-anak disabilatas ini juga mendapatkan tanggapan positif dari para orang tua. Ana, ibu dari Afka (peserta) menuturkan jika acara ini adalah kesempatan yang bagus untuk memperlihatkan potensi-potensi anak-anak disabilitas. “Baik tuna rungu atau autis menyimpam potensi-potensi, meski mereka berbeda dengan anak reguler,” ucap Ana. Menurutnya, potensi-potensi anak disabilitas belum banyak tereskpos dan terwadahi sehingga acara ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk menunjukkan kemampuan mereka.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *