Pemilu Raya UJ 2017: Antrian Panjang di FISIP

Antrian panjang pemilih di E-TPS Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP)

Sekitar jam 13.30, pelataran gedung baru Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) ramai dengan barisan antrian mahasiswa yang cukup panjang (2/11/2017). Tempat tersebut menjadi Tempat Pemungutan Suara Elektronik (E-TPS) untuk Pemilu Raya BEM dan BPM Universitas Jember. E-TPS mulai buka pada jam 08.00 sampai 16.00 WIB. Meskipun telah dibuka sejak jam 08.00 WIB, pihak Panitia Pemungutan Suara (PPS) belum bisa memberikan pelayanan karena terjadi trouble dari komputer yang digunakan.

Menurut Alvi Indraswari selaku koordinator wilayah FISIP dan FIB, pada awal E-TPS dibuka, alamat IP belum dimasukkan ke masing-masing fakultas sehingga pihak panitia masih harus mencari petugas Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi (UPTTI) untuk mengatasi masalah tersebut. “IP masih belum dimasukkan ke masing-masing fakultas, nggak cuma di FIB dan FISIP doang, fakultas lain juga kendala seperti itu,” tuturnya. Akibat dari trouble ini E-TPS baru bisa melayani proses pencoblosan sekitar jam 10.00 WIB.

Masalah lain muncul dikarenakan fasilitas yang kurang memadai. Banyak mahasiswa yang harus mengantri di luar ruangan untuk mengisi daftar hadir. Setelah mengisi daftar hadir, pemilih memasuki ruangan pencoblosan. Di dalam sana pemilih masih harus mengantri lagi untuk bisa menggunakan hak pilihnya di bilik suara yang tersedia. Salah satu pemilih, Paramita dari angakatan 2017 jurusan Ilmu Administrasi Bisnis mengungkapkan jika komputer sebanyak lima buah yang disediakan panitia masih belum cukup untuk memfasilitasi seluruh mahasiswa FISIP yang akan menggunakan hak suaranya. “Pelayanannya kurang, antrian panjang, seharusnya setiap angkatan disendirikan biar lebih rapi, apalagi komputernya hanya lima untuk satu fakultas,” ungkapnya. Paramita juga menuturkan jika dia yang masih Mahasiswa Baru (Maba) belum mengetahui seluruh visi misi setiap pasangan calon BEM sehingga mengalami kebingungan dalam menentukan hak suaranya akan diberikan kepada siapa. “Sudah pernah dengar sosialisasi calonnya, tapi tidak semua, jadi bingung mana yang layak dipilih,” tuturnya.

Terkait dengan fasilitas yang masih kurang, hal senada diungkapkan oleh Bani dari Ilmu Administrasi Negara angkatan 2015. “Sarana prasarana masih kurang efektif kalau kayak gini, di dalam kita masih harus nunggu lagi, komputernya kurang, antriannya jadi panjang,” keluhnya.

Antrian yang panjang tersebut juga membuat panitia sedikit kualahan. Alvi menuturkan jika hanya ada satu ruangan yang dipakai tidak sebanding dengan banyaknya jumlah mahasiswa. “Panitia kualahan kadang mengatasi ini (antrian) karena tingkat kenyamanan harus dipertimbangkan, diutamakan, cuma keadaannya seperti ini ya sudah apa adanya,”[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *