Perempuan-perempuan di Lingkaran Persma

ilustrasi: nyunyu.com

Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan mengawali tulisan ini dengan beberapa petunjuk bagi pembaca. Yang pertama, tulisan ini tidak mengandung tips-tips untuk menjadi perempuan yang menawan di kalangan persma. Yang kedua, tulisan ini tidak mengandung unsur provokasi agar lebih banyak lagi perempuan yang bergabung di Persma. Yang ketiga, tulisan ini juga bukan bahan ajakan bagi pembaca untuk mempelajari teori-teori feminisme yang penulis sendiri juga tak tahu banyak tentangnya. Intinya, membaca ya membaca saja. Lanjut ya silakan, berhenti sampai sini ya diperbolehkan!

Sebagai salah seorang persma, saya menyadari jika hingga hari ini angka persma perempuan meningkat dari era-era sebelumnya. Sebut saja di Jember, hampir semua LPM didominasi oleh kaum perempuan. Di forum PU (Pemimpin Umum), perempuan juga memiliki kursi lebih banyak. Bahkan ada beberapa LPM yang sama sekali tidak memiliki anggota laki-laki. Tapi mereka masih bisa berani untuk tegak berdiri, sekalipun meringis memaksakan diri saat mengusir bangkai tikus di pojokan sekret yang dibawa kucing tetangga pada suatu ketika. Atau mukanya memerah hitam saat berupaya menggeser lemari. Sekalipun tak cepat bisa digeser, toh lemari itu pada akhirnya pindah posisi juga.

Sekalipun jumlahnya mendominasi, tapi tak banyak perempuan yang menduduki kursi eksekutif di jajaran PPMI. Mayoritas sekjend dan pengurus PPMI adalah laki-laki. Lebih banyak laki-laki di dunia persma yang berani mengambil risiko untuk lulus lebih lama demi keberlanjutan organisasinya. Beberapa persma perempuan harus putus berkontribusi lebih di tengah jalan karena harus menerima lamaran. Beberapa lagi dituntut untuk fokus terhadap akademisnya sehingga takut berproses lebih di sini. Ya, perempuan masih menyimpan ketakutan sejak dalam pikiran.

Tapi juga perlu kita pertimbangkan, bahwa sekian dari mereka sudah menentukan pilihan. Pilihan untuk memperbaiki organisasi yang hampir runtuh di tengah mulai menipisnya jumlah anggota, misalnya. Atau sibuk memperbaiki portal berita yang harus diisinya secara berkala dengan sepinya meja redaksi dan harus membagi keluhannya pada divisi lainnya. Bukannya karena takut lulus lebih lama, tapi mereka menyadari bahwa fokusnya belum bisa dibagi. Organisasinya hampir mati dan dia hanya ingin memaksimalkan diri untuk menghidupinya disini. Sekali lagi ini perkara pilihan, bukan perihal ‘’karena mereka perempuan’’.

Toh sekalipun mayoritas jajaran eksekutif di Persma adalah laki-laki, tanpa adanya perempuan forum-forum diskusi akan terasa sepi. Bukan karena keberadaannya membuat suasana menjadi ramai, tapi karena suaranya lebih banyak dinanti. Perkara membuat kopi, laki-laki juga bisa. Perkara menyiapkan makanan, sudah tidak lagi mewajibkan peran perempuan. Perkara membersihkan ruangan sebelum rapat, semua bisa urun tenaga dan semangat. Stereotip bahwa perempuan hanya tepat mengerjakan tugas yang lebih memerlukan ketelitian dan kerapian harusnya sudah hilang di lingkaran ini.

Tapi kembali lagi, kita masih hidup dalam lingkungan yang mana konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat masih berlaku. Bahwa menulis, yang sekali lagi selalu identik dengan tugas utama seorang pers mahasiswa, adalah pekerjaan yang lebih memerlukan ketelitian dan ketelatenan. Mulai dari ketelatenan untuk menggali data, hingga ketelitian dalam mengedit tata bahasa serta ejaan yang digunakan. Beberapa laki-laki mengaku kurang telaten disini. Mungkin ini salah satu penyebabnya, mengapa saat ini jarang sekali mahasiswa laki-laki mau bergabung untuk aktif di pers kampus.

Meskipun menjadi jurnalis kampus lebih identik dengan perempuan, namun hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di pers umum. Menjadi jurnalis di masyarakat luas lebih merupakan profesi yang identik dengan pekerjaan laki-laki. Perempuan yang setelah menikah mendapatkan peran ganda karena diberikan kewajiban untuk menuntaskan tugas domestiknya dinilai kewalahan jika harus menyandang profesinya sebagai wartawan lapangan yang harus siap selama 24 jam. Dikutip dari hasil survey penelitian AJI (Aliansi Jurnalis Independen) yang dimuat dalam ‘’Jejak Jurnalis Perempuan’’, dari data didapatkan : saat ini jumlah jurnalis perempuan di Indonesia masih jauh dibandingkan jurnalis laki-laki, yaitu hanya sekitar 1:3 atau 1:4 di Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan: bahwa Jurnalis perempuan paling banyak bekerja di media cetak, selanjutnya televisi, radio dan paling sedikit bekerja di media online. Sekitar 56,5% jurnalis berstatus sebagai karyawan tetap sedangkan selebihnya berstatus kontrak dan freelance. Walaupun mereka telah mendapatkan berbagai pelatihan jurnalistik, namun hanya17,46% jurnalis perempuan yang mendapatkan pelatihan gender. Data juga menunjukkanhanya sekitar 33% jurnalis perempuan yang masuk di organisasi wartawan. Hanya 6% jurnalis perempuan yang menduduki posisi sebagai redaktur maupun pengambil keputusan di redaksi.

Mungkin juga ini menjadi salah satu faktor mengapa meskipun angka persma perempuan banyak, namun masih banyak yang enggan untuk totalitas di sini, karena menjadi jurnalis di masa depan bukan hal yang ramah bagi dunia mereka. Memilih melakoninya sebagai sampingan sembari menanti kelulusan, mengerjakan tugas dari pemimpin redaksi jika tugas kuliah terselesaikan, dan menanti secara pasif keputusan para eksekutif PPMI (yang kebanyakan laki-laki) dalam setiap forum.

Tapi, coba sejenak kita berjalan mundur ke belakang. Jujur, saya tak suka mengingat masa lalu. Tapi untuk hal ini, kita sepertinya perlu berbicara lebih banyak lagi tentang masa lalu. Tersebutlah Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama yang namanya diabadikan menjadi brand kripik sanjai di kampung halamannya. Selain berhasil mendirikan media berita perempuan pertama, ia juga aktif mendirikan sekolah perempuan di kampungnya. Tentu lika-liku kehidupannya tak mulus, mulai dari dilengserkan posisinya oleh murid sendiri hingga dituduh berselingkuh pernah ia dapatkan. Tapi hidup terus berjalan, dan Rohana tak mau berhenti di tengahnya.

Menjadi pers mahasiswa memang tak menjamin bahwa esok kehidupan ekonomi kita akan lebih baik. Apalagi bagi perempuan yang esok atau lusa masih harus dibebankan peran ganda setelah menemukan jodohnya. Tapi, yang perlu kita pahami disini, wadah ini semacam kawah candradimuka yang bila kita semakin lama dan total menceburkan diri di dalamnya akan menjadikan kita sebagai perempuan yang lebih berani mengekspresikan diri. Menulis dan menyuarakan pendapat menjadi salah satu solusi jika esok hari suara-suara kita tak banyak didengar lagi, atau gerak kita lebih dibatasi. Idealisme yang selama ini masih kita jaga bisa jadi bekal kelak untuk lebih memperhatikan kehidupan mereka yang tertindas. Lalu menularkannya pada anak-anak kita, bahwa ‘’Hidup bukan sekedar memikirkan isi perut kita sendiri, Nak!’’

Kita bisa duduk dimana saja posisinya, selama itu merupakan pilihan yang datang atas kesadaran. Bukan lagi paksaan, atau bahkan untuk ‘’gengsi-gengsi-an’’. Manajemen redaksi yang keras bukan lagi kita anggap sebagai tekanan, melainkan taman bermain yang esok lusa memberikan pelajaran berharga sekalipun tak melampirkan ijasah di dalamnya. Kita perlu total, belajar dengan maksimal, dan bersuara tanpa harus takut dinilai amoral. Jangan lagi ada anggapan bahwa Najwa Sihab bisa bertahan di dunia jurnalisme hanya karena kecantikannya. Dia berproses, dan pernah menjadi wartawan lapangan yang rela berpanas-panasan demi menggali berita yang mendalam. Jangan lagi berpikir, ‘’Ah, tak perlu maksimal, toh nanti aku tak bercita-cita jadi jurnalis setelah menjadi seorang istri!’’

‘’Entah menjadi wartawati atau ibu rumah tangga, persma perempuan wajib belajar maksimal mengekspresikan suara dan menghidupi organisasinya. Karena ia akan menjadi seorang ibu. Ibu yang paham akan arti kemanusiaan, akan melahirkan anak-anak yang paham pentingnya bersikap kritis dan memiliki empati dalam hidup bermasyarakat….’’

Dengan mengubah sedikit kata-kata dari Mbak Dian Sastro di atas, saya akan menutup percakapan kita kali ini. Mari ramaikan lagi kanal-kanal diskusi, atau berdiskusi di warung kopi. Tapi, jika pun Anda menolak ajakan ini, saya tidak akan memaksa, karena itu juga merupakan sebuah pilihan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *