Istirahatlah Kata-Kata : Berpuisi dalam Pelarian

 

Selasa malam (20/02/2018), acara pemutaran dan diskusi film Istirahatlah Kata-Kata yang berlangsung di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember berhasil menarik antusiasme penonton . Hal ini bisa dilihat dari banyaknya penonton yang hampir memenuhi gedung PKM tersebut. Gedung yang menjadi tempat terselenggaranya banyak kegiatan mahasiswa tersebut, malam ini di desain dengan serba gelap dengan layar lebarnya yang menjadi pusat perhatian  penonton.

Film Istirahatlah Kata-Kata disutradarai oleh Yosep Anggi Noen yang rilis pada tahun 2017. Film ini mengkisahkan seorang Wiji Thukul yang sedang dalam masa pelariannya. Pada masa orde baru tahun 1996, Partai Rakyat Demokrasi dianggap sebagai partai yang terlarang karena tujuannya ingin menggulingkan pemerintah. Saat itu Thukul melarikan diri ke Pontianak. Seorang Wiji Thukul dalam film tersebut digambarkan sebagai seniman sederhana yang gemar membaca dan menulis puisi. Kalimat dan sajak-sajaknya yang sarkas mengkritik pemerintahan orde baru menyebabkan ia tidak dapat pulang ke rumah sederhananya yang padat dengan buku untuk bertemu keluarganya. Mengutip kata-kata Thukul terhadap rezim orde baru “Rezim ini bangsat, tapi takut dengan kata-kata” ujarnya.

Bagi orang-orang yang sudah mengenal Wiji Thukul dari beberapa bacaan ataupun mengetahui rekam jejaknya mungkin merasa aneh. Pada film tersebut jiwa pemberontak seorang Wiji Thukul seperti diredam. Hal itu bisa dilihat saat adegan ketika Wiji Thukul hendak potong rambut, dia terpaksa bergeser dan mengalah kepada aparat yang tiba-tiba datang. Thukul tidak banyak bicara dan tidak banyak menjawab ketika ditanya oleh aparat yang ia sebut “kacang ijo”. Kata-kata Thukul beristirahat pada tempat potong rambut tersebut. Thukul tampak bersembunyi dalam bayang-bayang ketakutan.

Kelembutan hati Thukul lebih banyak ditampakkan. Saat adegan ia melihat seorang wanita sedang menggendong bayinya yang menangis, Thukul termangu mengingat nasib keluarganya dikampung. Thukul memutuskan untuk pulang, ia bertemu istrinya di sebuah hotel dengan membawakan oleh-oleh rok mini yang dibeli di tempat baju bekas. Pertemuan itu membuat istrinya menangis dan meluapkan emosinya, Thukul hanya bisa diam dan menunggu istrinya berhenti berbicara. Thukul mengambil segelas teh dan diberikannya kepada sang istri.

Meskipun dalam pelarian ia tidak berhenti membaca dan menulis. Thukul terus membuat puisi dengan kalimat-kalimat sarkasnya. Thukul tetap berpuisi dalam pelariannya. Bahkan Thukul berterimakasih kepada aparat atas pemberedelan buku-buku yang ada dirumahnya dengan kalimat sarkasnya,“Kalian telah mengajar anak-anakku, membentuk makna penindasan sejak dini.[]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *