RAKARA : Sebuah Konsepsi Pencarian Jati Diri dalam Pertunjukan Teater Dari Tanah Madura

Pawonc Artspace merupakan salah satu tempat yang sering dijadikan mahasiswa berkumpul untuk sekadar berdiskusi, berbincang, ngopi sampai mengadakan pertunjukkan sastra dan seni. Malam itu, (21/02/2018) suasana di Pawonc Artspace lebih ramai dari hari-hari biasanya. Hal tersebut dikarenakan di Pawonc Artspace sedang berlangsung pertunjukan teater antropologi berjudul “Rakara”.

Konsepsi teater Rakara merupakan sebuah asal-usul sehingga termasuk ke dalam Teater Antropologi. Istilah teater antropologi itu sendiri merupakan sebuah konsepsi daripada sang sutrada yaitu Anwari, seorang pemuda kelahiran Sumenep yang menamatkan pendidikannya di jurusan Drama, Sendratasik (Seni, Drama, Tari, dan Musik) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 2014 lalu. Anwari juga merupakan anggota kelompok Padepokan Seni Madura. Anwari berfokus pada drama dan mengambil tugas akhir atau skripsi mengenai teater antropologi. “Awalnya dulu saya skripsi tentang teater antropologi kemudian tanpa sengaja terus-menerus konsepsi awal dicantumkan di pamflet tau-tau di ‘image’ kan dan dicap sebagai teater antropologi,” tuturnya.

Anwari mengadaptasi teater antropologi dari seorang seniman teater Eropa sejak 2013 ketika masih menjadi mahasiswa. Mulai saat itu Anwari mulai menggeluti teater antropologi. “Awal tertarik ya awalnya terjerumus, tapi dinikmati aja,” kata Anwari. Mengambil jurusan Drama di Sendratasik UNESA membuat tugas akhirnya harus ada suatu konsepsi yang dibawakan untuk sebuah pertunjukan, maka dia disarankan untuk ke teater antropologi yang kemudian menjadi kebiasaan. Dari situlah dia mulai dikenal dengan teater antropologinya.

Perjalanannya menggandrungi teater antropologi tak lepas dari seorang yang menjadi inspiratornya yaitu bapak Otar Abdillah, seorang doktor di UNESA. Selain itu Anwari juga mengambil dari buku-buku luar yang berbahasa Inggris kemudian di translate ke Indonesia untuk dipelajari.

Tujuan dari teater antropologi sendiri menurut Anwari agar kita menyadari betul asal-usul kita. Teater merupakan kebudayaan manusia mulai dari kultur manusianya, warna kulit, kebiasaan yang dibentuk oleh histori dan geografis. “Dari historis kita bisa melihat kenapa orang itu keras, kaku, kenapa orang itu sifatnya lembek, feminism,” tuturnya. Bagi Anwari histori dan momen-momen dalam hidupnyalah yang membentuk dirinya sekarang, sehingga untuk memulai sebuah pementasan ia akan  mencari momen-momen yang dapat menginspirasi.

Anwari memulai pementasan awalnya di UNESA kemudian di Cak Durasim, lalu Solo. “Tur awalnya itu di Surabaya, Solo, Madura. Awalnya ada tiga tempat itu kemudian dikenallah teater antropologi,” katanya.

Ferik Sahid Persi, salah seorang pengunjung asal Banyuwangi yang juga merupakan lulusan Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia (PBSI) Universitas Jember (UJ) pada 2016 lalu merasa tertarik dengan pertunjukan teater antropologi ini. Dia berkata bahwa teater antroplogi menarik “Menarik dalam artian ruang-ruang yang dibangun itu cukup kaya hanya saja tidak diolah dengan ajeg”. Menurutnya, di dalam sebuah pertunjukan itu ada ruang yang berlapis-lapis, hanya saja ruang-ruang yang berlapis itu tidak dijaga dengan baik. Ferik juga menuturkan bahwa teater antropologi mencoba menggali kebudayaan yang ada di dalam tubuh aktor itu sendiri sehingga aktor itu tidak melakukan akting. “Aktor tidak mencoba untuk menjadi siapa-siapa, mereka menjadi dirinya sendiri di dalam pertunjukan,” tuturnya. Bagi Ferik hal tersebut menjadi sebuah tawaran yang cukup menarik di luar dari teater-teater mainstream yang dikenalnya selama ini. Sebagai penonton dan penggiat seni teater, Ferik merasakan bahwa pertunjukan semacam inilah yang membuatnya harus datang dan menikmatinya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *