Singo Gendeng : Merawat Kelestarian Budaya Jawa

Berangkat dengan tekad bulat untuk ngopi, saya menuju ke daerah Talangsari. Hari masih sore pukul 20.38 WIB, saya duduk di warung kopi “Wakji” Talangsari. Kopi hitam dan tembakau lintingan menjadi penghias meja yang harus ada. Aneh , ada alunan musik tradisional yang saya dengar, bukan bunyi “welcome to mobile legend”. Tepat di seberang warung kopi ada kerumunan warga yang membuat saya penasaran. Sambil menunggu kopi, saya meneruskan melinting tembakau dan mencoba ngintip dari jauh ada apa di balik kerumunan tersebut. Rasa penasaran saya tidak terbendung lagi. Akhirnya saya seruput kopi, menyulut tembakau dan bergegas menyeberang menuju sumber alunan khas jawa tersebut.

Sekerumunan warga berkumpul menyaksikan tontonan pagelaran pinggir jalan. Semua kalangan membaur dari mulai Pak RT, anak muda, ibu rumah tangga hingga anak TK menikmati pertunjukkan yang sedang berlangsung.  Mereka semua saling berdempetan berbagi tempat agar dapat sama-sama menikmati pertunjukkan. Anak kecil-kecil di barisan paling depan agar tidak terhalangi pandangannya, para anak muda berdiri berbagi tempat dengan bapak-bapak dan ibu-ibu.

Jaranan Singo Gendeng. Sebuah tontonan yang menyajikan tarian dan atraksi tradisional. Ada dua orang penari bebas yang diiringi alat musik tradisional seperti gong, gamelan, dan lain-lain. Penari melakukan tarian-tarian otodidak dengan langgak-lenggok. Penari tidak hanya remaja atau orang dewasa tetapi anak kecil pun ikut menari secara bergiliran. Ada atraksi yang tidak boleh dilakukan tanpa ada latihan khusus, seperti makan beling,  ayam mentah, dan sesajen. Ada seorang pemegang pecut yang dapat mengendalikan roh yang masuk ke dalam tubuh penari tersebut. “Sebelum memulai acara kita sudah siapkan sesajan untuk para leluhur” ujar Joko salah satu pemain.

“Beda seperti reog yang ada ceritanya, tariannya otodidak, kita hanya ingin melestarikan budaya Jawa di tengah-tengah era modern ini” ujar Rizal yang merupakan keponakan pendiri Singo Gendeng. Ia juga menuturkan bahwa dalam pertunjukkan Singo Gendeng tidak ada tarian khusus yang ingin ditunjukkan. Ada beberapa tarian-tarian yang dilakukan hanya untuk pemanis. Namun mereka lebih menonjolkan atraksi tradisional yakni makan beling, ayam mentah, dan sesajen.

Konsistensi grup ini dalam merawat kelastarian budaya perlu diapresiasi. Bahkan mereka juga mendirikan galeri yang mempertontonkan hasil karya anak muda anggota grupnya. Mereka juga sukses dalam menghidupkan lingkungan mereka untuk mencintai kebudayaannya. “Kalau anggota sih gak sulit, sudah ada banyak malah, bibit-bibit penari kecil kayak tadi, kami tidak pernah memaksa ayo ikut kamu harus ikut tapi kami lebih membimbing bagaimana baiknya” ucap Eko salah satu anggota tim.

“Saya melaksanakan ini seperti hobi mas, tidak ada keterpaksaan, saya ingin melestarikan budaya jawa meskipun saya hanya lulusan SD, tidak gengsi untuk menunjukkan inilah budaya tradisional jawa” tegas Joko.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *