Budak Jam Enam Pagi

Pertunjukan Keinginan Membunuh Keinginan (Foto: Aliva/TB)

Kita adalah budak-budak jam enam pagi. Jam tujuh, kemanusiaan kita mulai menghilang. Kita menjadi sekolah. Kita menjadi kurikulum. Menjadi pengetahuan. Kita menjadi negara. Jam delapan, kita benar-benar hilang. 

Sepotong monolog di atas menjadi salah satu pembuka pertunjukan Keinginan Membunuh Keinginan yang dimainkan komunitas Gelanggang pada 24 Maret 2018. Bertempat di Ruang Kuliah Bersama (RKB) Politeknik Negeri Jember, teater tersebut dimainkan oleh dua aktor, Yuda dan Prasta. Lampu yang menyorot panggung berpendar terang. Iringan gitar dan erhu (salah satu alat musik gesek dari Cina) mengalun lembut. Sembari membawa pengeras suara, Yuda bermonolog menggambarkan hari-hari yang terkungkung oleh rutinitas. Di bagian kiri panggung, Prasta mulai membongkar isi tas ranselnya yang penuh dengan baju. Ia mulai mengganti baju dan celananya. Berkali-kali.

Bagi Yuda, pertunjukan Keinginan Membunuh Keinginan itu sudah dimulai sejak penonton mengantri di pintu masuk, termasuk saat tim artistik masih hilir mudik di area panggung. Mereka membiarkan penonton melihat persiapan yang dilakukan para kru. Saat pertunjukan sedang berlangsung, gerak tim artistik yang mempersiapkan perlengkapan juga bisa dilihat jelas karena lampu sorot tetap menyala terang.

Awal-awal pertunjukan, para penonton bisa saja memahami apa yang ingin disampaikan oleh Keinginan Membunuh Keinginan. Mereka masih dibantu oleh monolog yang dilakukan bergantian oleh kedua aktor. Monolog itu menggambarkan rutinitas mayoritas orang yang mengawali paginya dengan harapan. Mereka menjalani rutinitas yang sama dari jam enam pagi hingga enam sore. Petang datang dengan harapan yang dirajut saat jam enam pagi. Ada yang terkabul, ada yang tidak. Petang juga masih saja membawa rutinitas yang lain. Entah itu bertemu dengan kekasih, bercengkrama dengan teman atau menghabiskan waktu bersama kekasih teman, rutinitas itu sama-sama membosankan.

Lalu pertunjukan beranjak ke adegan selanjutnya yang menurut saya setiap penonton bisa menafsirkan berbeda. Lampu sorot mulai meredup. Erhu kembali mengalun. Yuda mengambil karung dan menumpahkan isinya di lantai panggung. Botol-botol bekas air minum mineral berhamburan. 1 karung, 2 karung, lantai panggung berlapis botol-botol itu. Diantara timbunan botol, Yuda mengambil posisi berdiri di tengah-tengah, membuka kaosnya, membaliknya, lalu memakainya kembali. Ia berjongkok, bersimpuh, lalu tangannya mulai melakukan gerakan-gerakan.

“Dunia kini di dalam pelukannya yang dingin” ucap Prasta. Kaleng-kaleng bekas biskuit dilemparkan oleh tim artistik ke arahnya. Sementara itu, Yuda yang telah menyelesaikan gerakannya, mulai menata kembali botol-botol menjadi gundukan. Ia bergerak ke segala arah dengan posisi tubuh seperti orang yang akan meluncur ke dalam kolam renang.

Adegan berlanjut di mana kedua aktor tersebut duduk di atas sebuah sepeda. Pada adegan inilah dialog keduanya dimulai. “Kebebasanlah yang penting, bukan uang” ucap Yuda sembari mengayuh sepeda yang tidak bergerak sejengkal pun. Dialog terus mengalir tentang kebebasan dan masa depan yang selalu abu-abu. Tidak pasti. Dialog kedua aktor ini membawa banyak tawa penonton karena banyolannya yang lucu namun penuh kritik. Sang sutradara sepertinya ingin mengemas kritik terhadap sikap manusia yang selalu mengejar masa depannya yang penuh kenyamanan, uang melimpah, dan segala kemudahan hidup dengan humor elegan.

Kedua aktor berdialog tentang kebebasan dan masa depan (Foto: Aliva/TB)

Ada satu adegan di mana para aktor menggunakan mesin gerinda. Mesin tersebut diadukan dengan sebuah lempengan besi sehingga menimbulkan percik api. Saat itu lampu sorot dimatikan sehingga panggung gelap gulita, percikan api tersebut menimbulkan efek kemeriahan tersendiri.

Percikan api yang ditimbulkan dari beradunya mesin gerinda dan lempengan besi (Foto: Aliva/TB)

Adegan kembali berganti, di mana Prasta memakai sebuah helm yang diatasnya melekat sebuah senapan. Ia merangkak dari sisi kiri panggung. Sementara itu, Yuda dari sisi kanan panggung berjalan pelan dengan kedua tangan membawa sebuah galon yang menjadi vas bagi bunga botol.

Foto: Aliva/ TB

“Apa kau tidak akan membantuku dalam perang?” tanya Prasta

“Aku sedang berperang,” jawab Yuda sembari menerjunkan kaleng-kaleng bekas melewati seluncuran yang sudah ia buat ke bawah panggung. Galon yang menjadi vas bagi bunga botol pun meluncur bebas. Saat disinggung tentang adegan ini saat apresiasi, Yuda menjelaskan jika hal tersebut bertujuan untuk membuat keramaian dan itu berasal dari luar panggung. “Bagaimana jika kaleng itu aku kembalikan dari atas ke bawah? Sama ketika kita membalik sesuatu, misal jam enam kita baru mau tidur” tutur Yuda.

Keingininan Membunuh Keinginan menjadi produksi ke enam dari komunitas Gelanggang ini dirancang sejak akhir Desember 2017. Saat pertunjukkan menjelang akhir, kedua tokoh tersebut akhirnya saling membunuh keinginan masing-masing. Mereka berhadapan, tangan bersedekap, dan mata saling memandang. Bagaimana cara mereka membunuh? Yaitu dengan saling bergantian memanggul aktor lainnya sambil berlari kecil. Berkali-kali, sampai kedua aktor tersebut kelelahan, lalu berpelukan, berciuman, dan ditutup dengan teriakan histeris para penonton.

Ide awal pembuatan pertunjukan ini dimulai saat Yuda mempertanyakan kesulitan-kesulitan ketika harus dipaksa bangun jam enam pagi, memaksa diri untuk mandi untuk berangkat kuliah. “Jam enam mengkonstruksi kita menjadi bagian di hal-hal jam itu. Kalau kita bisa lepas di jam-jam tersebut, tentu kita bisa menjadi sesuatu yang lain” tuturnya. Di panggung mereka mencoba membuat jarak antara diri, masa depan, keseharian, harapan, kebebasan, waktu. Mengawali mimpi dari kekacauan, ketidakstabilan, sesuatu yang selalu goyah, lalu membuat struktur dari kegoyahan itu. Setelah struktur dibuat, mereka mematahkan struktur itu dalam pertunjukan. “Kita menempatkan hal itu semua di akhir bahwa tidak ada yang benar-benar pasti. Hoax-hoax saja” pungkas sang sutradara.[]

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *