Aku Fingerprint, Maka Aku (Belum Tentu) Ada

Mesin fingerprint (Foto: Rizaldi/TB)

Fingerprint adalah sebuah sistem presensi secara online melalui pembacaan sidik jari lewat sebuah alat. Sistem presensi ini menggeser keberlakuan absen manual melalui tanda tangan dikertas. Hal ini sudah berlaku lima minggu di Fakultas Hukum Universitas Jember. Fakultas Hukum menjadi pelopor pertama yang menjalankan fingerprint. ”Wakil Rektor I menganggap sarana dan prasarana yang ada memadai dan ada” ujar Dr. Dyah Ochtorina Susanti, S.H, M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum. Dyah juga menambahkan ide fingerprint ini dipadukan dengan konsep E learning dengan tujuan sebagai arsip pembelajaran yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa dan melihat kejujuran mahasiswa.

Alur presensi melalui fingerprint ini tentunya berbeda dengan presensi manual. Ketika manual mahasiswa hanya menandatangani daftar presensi yang sudah disediakan. Sedangkan pada fingerprint mereka menempelkan sidik jari pada alat pembaca sidik jari yang ada di kelas. “Fingerprint bisa dilakukan lima menit sebelum kelas dimulai misalnya, kelas dimulai pada 10.50 kita sudah bisa fingerprint pada pukul 10.45” ujar Edi pelayanan kelas. Beda halnya dengan sistem manual, normalnya mahasiswa bisa melakukan tandatangan ketika daftar presensi disebarkan di kelas oleh dosen.

“Adanya sistem ini merugikan mahasiswa yang rajin masuk kuliah karena ada yang datang ke kampus hanya fingerprint setelah itu keluar tidak mengikuti perkuliahan” ujar Dhimas mahasiswa Fakultas Hukum. Kecemburuan tersebut karena banyak terjadinya mahasiswa yang hanya fingerprint lalu pulang, tidak ada di kelas mengikuti perkuliahan. Permasalahan ini muncul karena adanya waktu lima menit sebelum mata kuliah dimulai, mahasiswa bisa melakukan absen. “Setiap mahasiswa bisa melakukan fingerprint setelah itu meninggalkan kelas karena fingerprint hanya dilakukan diawal perkuliahan tidak di awal dan di akhir” ujar Dutya mahasiswa Fakultas Hukum.

“Secara pengawasan kita tidak dapat mengawasi secara all out, kita tahu manusia pun bisa diawasi oleh malaikat. Maksudnya moral mahasiswa yang namanya maha pasti lebih segala-galanya” jelas Dyah menanggapi masalah yang tersebut. Dyah juga menambahkan bahwa terkadang ketika hendak masuk kelas sering melihat mahasiwa yang melakukan hal tersebut, maka akan langsung dia hapus presensinya.

Masalah lain muncul saat mahasiswa sudah melakukan fingerprint, namun sistem tidak dapat membacanya. Hal ini salah satunya dialami oleh Dhimas. Saat itu Dhimas mengikuti mata kuliah praktek perdata, dia sudah melalukan fingerprint tapi tidak terbaca pada sistem. “Ngurusinnya ribet, laporan pada ketua angkatan lalu diarahkan ke akademik diberi beberapa pertanyaan dan disuruh menjelaskan kenapa kok bisa, finger jam berapa? Ribet!” ujar Dhimas. Ternyata ketika fingerprint dan mengikuti perkuliahan terkadang tidak terinput di presensi. Tentunya hal ini lagi-lagi merugikan mahasiswa.

“Biasanya hal tersebut disebabkan karena mahasiswa melakukan fingerprint sebelum waktunya, kurang sedetik pun sistem tidak bisa menerima atau membaca fingerprint tersebut” ujar Edi. Terkait kerumitan yang terjadi, Edi berpendapat bahwa hal tersebut mungkin disebabkan mahasiswa tidak datang pada saat sosialisasi tentang fingerprint “Saya sudah sampaikan pada sosialisasi adanya pemutihan hingga tanggal 29 Maret, jadi jika memang dia sudah fingerprint tidak usah diurus akan otomatis masuk. Sosialisasi terkait fingerprint ini yang datang malah dibawah 100 orang, siapa yang salah kalau seperti ini?” ujar Dyah. Dyah juga berkata bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan antara presensi manual dan fingerprint, hanya saja fingerprint secara online sedangkan manual offline. Permasalahan perijinan, dispensasi dan surat lain-lain sama saja seperti manual.

“Terkadang sistemnya error, mati lampu juga sering karena dayanya kurang dan fasilitas AC terlalu banyak, biasanya hal ini membuat dosen harus login dari awal lagi” ujar Edi ketika ditanya kekurangan fingerprint.

Namun mahasiswa juga memberikan apresiasi terkait berlakunya fingerprint ini. “kita sebagai manusia harus update, ini salah satu bentuk ke updatean fakultas kita” ujar Abdan mahasiswa Fakultas hukum. Terkait keupdatean ini Dyah menghimbau kita untuk berbangga hati. “Apa yang kita lakukan diapresiasi oleh Ristekdikti, bisa kita buka webnya. Informasi lebih lengkapnya silahkan konfirmasi ke UPTTI”.

Dyah juga mengungkapkan jika semester depan semua fakultas di Universitas Jember wajib menggunakan presensi fingerprint. Dia juga berharap dengan adanya sistem fingerprint ini bisa mendidik moralitas utamanya kejujuran mahasiswa karena melihat semakin rendahnya nilai kejujuran mahasiswa saat ini. “Tidak ada sistem yang 100% bagus, setiap Jumat pagi kami Wakil Dekan I melakukan evaluasi terkait berjalannya sistem fingerprint ini bersama Wakil Rektor I” ujarnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *