Menilik Berdirinya Kedai Doeloe

Frans melayani pengunjung di bar (Foto/Endah)

Penulis: Endah Prasetyo dan Wulan Indriyani*

Kedai Doeloe merupakan kedai kopi yang bertempat di Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Kedai Doeloe didirikan 14 November 2014 oleh Frans (27). Ia merupakan perintis kedai kopi pertama di Kalisat. “Kedai itu sama seperti warung kopi biasanya, cuma ada di dalam ruangan. Gak keanginan.” ujar Frans. Pada awal berdirinya hingga berjalan satu tahun, kedai tersebut tak bernama, kemudian diberi nama A’Cafe yang artinya sebuah kafe. Nama tersebut merupakan usulan dari Hakim, salah satu teman Frans. Pada tahun 2015 nama kedai tersebut diubah menjadi Kedai Doeloe. kata “Doeloe” mengandung arti ajakan. Secara Bahasa Jawa, yaitu  “Sek” yang artinya dulu, jadi maksud dari nama “Kedai Doeloe” yaitu “Ngopi Sek” (Ngopi Dulu). Kedai Doeloe berdiri karena sulit ditemukannya kedai kopi di Kalisat. Masyarakat sekitar harus ke Jember kota terlebih dahulu untuk sekedar menikmati secangkir kopi di sebuah kedai. Saat mendirikan kedainya, Frans terinspirasi dari Kafe Kolong. “Idenya dia aku suka, pasti pada waktu itu sebelum Kafe Kolong ada, orang sak Jember pasti gak pernah terbesit sebuah kolong jembatan menjadi kafe” jelas Frans. Pandangan orang-orang menurut Frans, kafe harus ada di dalam ruangan/ruko. Kafe Kolong menjadi salah satu bukti dari ucapan Frans tersebut. Modal usaha yang harus dirogoh oleh Frans untuk mendirikan Kedai Doeloe sebesar 25 juta rupiah. Modal ini ia dapat dari penjualan kamera dan peralatan fotografi miliknya.

Bangunan yang ditempati Kedai Doeloe merupakan bangunan bekas rumah dinas Kepala Bagian Bantalan Rel, Stasiun Kalisat. Alasan Frans memilih bangunan tersebut, yang pertama dikarenakan ia gagal menyewa tempat di dalam Stasiun Kalisat. Hal itu disebabkan karena ada masalah dengan tempat tersebut. Kedua, karena tidak ditemukan tempat lain. Dahulu bangunan bekas rumah Kepala Dinas Bagian Bantalan Rel, Stasiun Kalisat sempat terbengkalai sebelum dijadikan Kedai Doeloe. Tempat tersebut sering digunakan untuk mabuk-mabukan dan prostitusi. Sejak munculnya ide dari Frans untuk mendirikan Kedai Doeloe, maka tempat tersebut berubah menjadi tempat yang lebih baik.

Kedai Doeloe nampak depan (Foto/Nikita)

Desain kedai yang diusung oleh Frans yaitu  desain interior klasik. Ide tersebut terinspirasi dari beberapa kafe yang berada di Jogja dan Malang. Bangunan Kedai Doeloe memiliki jendela berukuran besar dan kusen pintu bergaya kuno. Di Kedai Doeloe kita seperti diajak bernostalgia ke tempo dulu, di mana kita dapat menjumpai barang-barang kuno seperti sepeda onthel, piringan hitam, kamera analog, mesin ketik, radio, dan televisi jaman dahulu. Barang-barang kuno tersebut didapat oleh Frans dari door to door. “Aku nyari dari rumah kerumah. Dapat barang paling jauh dari Banyuwangi” ungkap Frans. Jika pengunjung datang ke Kedai Doeloe pada malam hari, nuansa klasik dari kedai akan lebih terasa. Efek dari lampu kedai yang temaram memberi kesan hangatnya suasana di Kedai Doeloe. “Saya suka suasana di sini, tempatnya juga nyaman. Kedai ini menggambarkan bagaimana Kalisat tempo dulu dan gambar-gambar yang ada di dinding membuat terlihat lebih unik.” ungkap Rifti salah satu pengunjung. Di Kedai Doeloe kita juga dapat menemukan koleksi buku yang bisa dibaca secara gratis baik oleh pengunjung kedai maupun warga sekitar. Buku tersebut berasal dari sumbangan Gerakan Perpustakaan Anak Nasional (GPAN).

Barang-barang kuno yang ada di kedai (Foto/Nikita)

 

Koleksi buku bacaan (Foto/Nikita)

Kedai Doeloe tidak menyediakan fasilitas WiFi karena Frans beranggapan jika terdapat fasilitas tersebut, maka kenikmatan minum kopi serta interaksi yang terjadi antar pengunjung tidak terjalin sempurna. Hal ini senada dengan yang dikatakan salah satu pengunjung, “Saya tidak masalah jika tidak ada fasilitas WiFi. Saya di sini mau ngopi bukan mau main game atau main HP. Saya cuma mau kumpul sambil ngopi tanpa main HP” ujar Zayn. Tetapi dalam hal ini Frans tidak melarang jika pengunjung ingin bermain game atau lainnya, selagi pengunjung mandiri mengggunakan data internetnya sendiri. Frans juga menyediakan fasilitas roll cable bagi pengunjung yang membutuhkannya.

Dalam menjalankan kedainya Frans dibantu salah satu rekannya, yaitu Iwan (21). Kedai Doeloe buka mulai pukul 08.00-24.00 WIB. Frans dan Iwan melayani pengunjung di kedai secara bergantian. Frans bekerja mulai pukul 08.00-16.00 WIB, sedangkan Iwan  mulai pukul 16.00-24.00 WIB. Frans melakukan berbagai cara untuk mengenalkan kedainya kepada masyarakat. Selain promosi dari mulut ke mulut, Frans juga menggunakan media sosial instagram. Ia merasa promosi usaha melalui media sosial cukup efektif dan efisien di era digital seperti saat ini.[]

 

*Penulis merupakan anggota magang UKPKM Tegalboto

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *