Panggung Solidaritas Untuk Petani Temon

Aninditya Ardana*

“Panggung Solidaritas Perjuangan Petani Temon” oleh Aliansi Perpustakaan Jalanan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kampus (DKK) berlangsung Senin (23/04/2018) bertempat di depan halaman gedung Ki Hajar Dewantara Fakultas Ilmu Budaya. Acara ini sempat tertunda sekitar 40 menit dikarenakan ada beberapa mahasiswa yang masih mempunyai jam kuliah meminta panitia untuk menunda dimulainya acara “Panggung Solidaritas Perjuangan Petani Temon” ini akan diisi dengan pemutaran film dan diskusi, pembacaan puisi serta musik akustik. Ada tiga film yang akan diputar yaitu HAM Aku Neng Kene, Kinjeng Wesi, dan Tanah Istimewa.

Sadam selaku ketua panitia menuturkan bahwa “Panggung Solidaritas Perjuangan Petani Temon” ini bermula dari cerita salah satu anggota Aliansi Perpustakaan Jember yang berasal dari Jogja. Ia melihat langsung bagaimana kondisi para petani temon setelah proyek NYIA dijalankan. Awalnya pihak terkait mulai melakukan penggusuran bangunan warga secara paksa, sampai dengan pemutusan aliran listrik di daerah Kulonprogo. Setelah itu mulai banyak muncul kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya yang dialami oleh para petani temon.

“Panggung solidaritas ini bertujuan untuk menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana kondisi petani temon di Kuloprogo serta sebagai sarana untuk mengumpulkan donasi” jelas Sadam. Para pengunjung tidak dipungut biaya apapun untuk menikmati acara, namun mereka bisa memberikan donasi seikhlasnya untuk disalurkan kepada petani temon di Kulonprogo.

Afrizal selaku anggota DKK yang bertugas memfasilitasi acara berkata jika acara yang diadakan malam ini sangat menarik untuk diikuti. “Tidak hanya pemutaran film, ada juga beberapa pertunjukan seperti musik akustik, pembacaan puisi, serta diakhiri dengan diskusi dari 3 film yang sudah ditayangkan” tuturnya.

Panggung solidaritas dimulai dengan sambutan dari ketua panitia. Dengan gaya santainya, Sadam menegaskan bahwa membela petani temon tidak harus dengan turun ke jalanan atau langsung berangkat ke Kulonprogo. Menyuarakan hak-hak para petani temon dapat dilakukan dengan cara apa saja. “Jika bisanya main musik, maka bermusiklah, jika bisanya bikin puisi, ya berpuisilah.”ucapnya.

Sambutan ketua panitia (Foto/Anin)

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Ulum yang merupakan salah satu mahasiswa dari IAIN Jember lalu dilanjutkan dengan musik akustik yang dibawakan oleh Siksa Kampus Junior. Belum selesai sampai disitu, acara ini masih dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Yudha yang membawakan dua buah puisi berjudul Proposal Puisi Untuk Polisi  karya Afrizal serta Ada yang Tertembak di Halaman Kita karya Aslan Abidin. Penampilan selanjutnya juga masih diisi dengan musik akustik dan puisi dari beberapa pengisi acara. Sebelum pemutaran film, ada sebuah pertunjukkan akustik dari Ismam Saurus yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Jember dengan membawakan tiga lagu yaitu Pembangunan, Cangkul & Sabit dan Orang Desa. Sekitar pukul 21.00 WIB, pemutaran film dimulai.

Salah satu film yang diputar (Foto/Anin)

Acara “Panggung Solidaritas Perjuangan Petani Temon” ini mendapat respon positif dari para mahasiswa. Ini ditunjukkan dari antusias mahasiswa untuk mengikuti acara sampai akhir diskusi. “Terlepas dari waktu dimulainya acara yang sempat molor, acara malam ini bak oase untuk mahasiswa. Jadi mahasiswa tidak melulu dicekoki acara-acara yang berbasis akademik, namun juga perlu aksi solidaritas seperti ini.” ujar Anggris Caprio salah satu mahasiswa jurusan sejarah. Selain itu, respon positif juga datang dari Kun “Acara ini tidak hanya mendidik namun juga menghibur dengan diadakannya akustik serta pembacaan puisi.” tutur mahasiswa sastra Inggris tersebut.[]

 

*Penulis merupakan anggota magang UKPKM Tegalboto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *