Penulis: Redaksi

Meja Redaksi : Medan Pertempuran Mengalahkan Diri Sendiri

Meja Redaksi : Medan Pertempuran Mengalahkan Diri Sendiri

Risalah
Penulis: Herman Setiawan* “Ketika seseorang ingin bersungguh-sungguh mengejar hal yang akan dicapai, ia harus masuk dalam lingkungan yang tepat”. Barangkali itu kata filsuf dari antah berantah yang sedang bersemayam di dalam fikiran. Untuk itu, diperlukan niat dan tindakan yang selaras agar khithah bisa digenggam. Sudah dimafhumi bersama, media merupakan ruh atau jiwa dari sebuah organisasi pers. Tak terkecuali Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Tanpa terbitan media, organisasi pers itu dapat dianggap sakit atau bahkan sekarat. Meskipun mereka masih melakukan kerja-kerja secara organisasi, semisal mengadakan acara diskusi atau pelatihan esai tingkat dunia dan akhirat sekalipun. Untuk itu dibutuhkan suatu cara mengelola suatu media agar kehidupan dari organisasi tetap bernafas. &n
Akademisi dan Buruh Migran

Akademisi dan Buruh Migran

Berita
Migrant Care bekerjasama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Universitas Jember, dan Tanoker Ledokombo Jember mengadakan Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia yang diadakan di Gedung Soetardjo, Universitas Jember. Acara ini dilakukan selama tiga hari sejak 23 hingga 25 November. 1600 peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang merupakan perwakilan dari buruh migran Indonesia dan anggota keluarganya, komunitas, kepala desa, organisasi, akademisi, dll. Acar ini juga serangkaian dengan Festival Tegalboto, acara tahunan Unej saat memperingati Dies Natalies. Tahun ini, Universitas Jember pada ulang tahunnya yang ke-51 mendalami tema “Membangun Desa”. Kabag Humas Jember, Agung Purwanto mengaku prihatin pada keadaan desa di Jember
Monolog -public sphere

Monolog -public sphere

Media Cetak
DULU, ketika Eropa masih diselimuti masa kegelapan yang penuh dengan aturan-aturan pemikiran gereja, mungkin masyarakatnya banyak yang mengeluh tentang keberadaan suara mereka. Atau justru banyak juga yang tidak peduli dengan suara mereka sendiri. Dulu, ketika seluruh masyarakat Indonesia hanya memiliki satu Ayah yang seperti Tuhan yaitu Soeharto, tidak ada kebenaran yang lebih sahih selain kebenaran oleh Soeharto. Atau justru sebenarnya banyak yang tidak bisa atau mau menampakkan kebenaran diri mereka. Selama 32 tahun, itulah yang terjadi di negara ini. Dimana dialektika adalah viagra sans ordonnance sesuatu yang diharamkan di era pemerintahannya. Download