Sastra

Cerpen: Pengakuan Bagus

Cerpen: Pengakuan Bagus

Sastra
Sebut saja saya Bagus, bukan nama yang sebenarnya. Saya adalah pria berdarah Jawa- Padang dan mengikuti adat Jawa. Tinggal di desa yang menganut adat istiadat jawa membuat tingkah laku saya diperhatikan tetangga. Itulah yang membuat saya sampai sekarang tak bisa jujur tentang keadaan yang sebenarnya.  Saya pria mapan yang berprofesi sebagai General Manager  di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Surabaya. Tidak seperti masyarakat jawa pada umumnya, saya berkulit putih susu, berhidung mancung, berwajah tampan seperti bapak saya. Saya dan bapak memiliki sifat yang sama, yaitu jika sudah mencintai sesuatu akan merelakan apa saja untuk memilikinya. Kini usia saya 32 tahun, dan sampai sekarang belum pernah membawa calon istri ke rumah. Bapak dan Ibu mulai resah karena saya tak kunju
Tak Seindah Impian Markonah

Tak Seindah Impian Markonah

Sastra
  Rambutnya tergerai hitam kemerahan. Ia menikmati makanan ringan dengan sebuah majalah di tangan. Sesekali ia lingkari berbagai moel baju yang ia sukai dari majalah yang dibacanya. Tak peduli berharga miring ataupun tidak, tak jadi masalah. Balutan make up yang menghiasi wjahnya masih tampak jelas. Siapapun yang belum mengenalnya tentu mengira dia habis menghadiri kondangan. Mungkin juga ada yang sempat menduga ia merupakan salah seorang penyanyi dangdut yang baru pulang dari pesta pernikahan. Namun dia bukanlah seorang penyanyi ataupun biduan. Ia adalah Markonah, istri dari seorang Bos Tempe Kripik paling kaya se-kabupaten Trenggalek. Markonah atau yang biasa dipanggil Ona hidup begitu bahagia dengan kedudukannya yang sekarang. Meskipun suaminya tersebut merupakan duda beranak...