Risalah

KONFLIK AGRARIA TAK KUNJUNG REDA

KONFLIK AGRARIA TAK KUNJUNG REDA

Risalah
  “Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa dan merupakan kekayaan nasional.”   Kalimat di atas merupakan definisi dari agraria yang terdapat dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Konsep agraria sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan sumber daya alam baik yang berada di dalam maupun di permukaan bumi. Kekayaan alam tersebut merupakan aset penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menentukan kedaulatan suatu bangsa. Namun dalam pemanfaatannya hingga kini masih menimbulkan beberapa konflik yang sulit untuk diselesaikan. Pada tahun 2015, tercatat 252 konflik agrari
“Reputasi dan Kebebasan Berekspresi”  Untuk POROS dan Medianya yang Tak Boleh Mati

“Reputasi dan Kebebasan Berekspresi” Untuk POROS dan Medianya yang Tak Boleh Mati

Risalah, Uncategorized
    Setelah kasus Lentera, pembredelan terhadap media mahasiswa terjadi lagi. Beberapa hari yang lalu, buletin magang POROS, media Pers Mahasiswa UAD (Universitas Achmad Dahlan) dibredel oleh pihak kampus. Mereka dianggap sudah ‘keterlaluan’ dalam pemberitaan, khususnya terkait dengan isu pendirian fakultas kedokteran di UAD. Kampus dianggap masih belum memberikan pelayanan yang maksimal namun sudah beralih pada pembangunan fakultas baru. Kasus semakin melebar hingga aktivitas POROS dibekukan bahkan saat SK belum diturunkan. Sebagai sesama saudara Pers Mahasiswa, yang pernah ngopi bersama, saya sangat kecewa dengan pembredelan tersebut. Beberapa bulan lalu, saya dan beberapa kawan Tegalboto lainnya sempat berkunjung ke Kampus UAD. Cukup aneh mata kami menyaksikan parkiran yan
Biarkan Lentera Tetap Menyala

Biarkan Lentera Tetap Menyala

Risalah
Beberapa pekan terakhir ini, para awak Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia (mungkin) sedang digegerkan dengan kasus pembredelan majalah milik LPM Lentera Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Persoalan yang diangkat LPM Lentera dalam majalahnya menjadi akar masalah pembredelan. Majalah yang berjudul “Salatiga Kota Merah” itu mengangkat isu PKI dalam lingkup Kota Salatiga. Momen majalah itu diterbitkan juga bertepatan dengan 50 tahun pembantaian G30S. Di Jember sendiri isu tentang PKI juga sedang marak dibicarakan setelah penangkapan mahasiswa UNEJ yang membuat graffiti palu arit  lambang dari PKI. Sebagai sesama kubu LPM, tentu saja tidak sedikit yang memberikan dukungan. Dukungan tersebut, selama yang saya lihat terus bermunculan di berbagai media sosial, mulai dari t