|
Seorang bintang adalah mereka yang dengan karya dan kerja kerasnya secara langsung atau tidak langsung telah membuat sekelompok manusia atau individu terpengaruh kedalam karisma dan menyukainya. Bintang adalah mereka yang bisa membuat seorang individu menjadi kagum dan terpikat. Segala hal tentangnya terasa luar biasa, segala perilaku yang dilakukannya terlihat hebat dan segala ucapannya terdengar mengagumkan. Padahal mereka dan kita sama saja. Sama-sama manusia, hanya saja yang membedakan adalah pemberitaan media dan ketenaran. Iwan Fals, Elvis Presley, Bob Marley, Sid Vicius, Rolling Stone, adalah nama-nama yang mungkin tidak asing lagi bagi kita. Mereka adalah nama band atau penyanyi yang sedikit atau bahkan banyak sekali mempengaruhi penggemar mereka. Seringkali berlebihan, seorang penggemar bisa sangat fanatik terhadap seorang idola mereka. Fanatisme seperti itu kemudian berkembang menjadi kultus idola. Makna Kultus Idola Kultus idola pada awalnya berawal dari kultus individu, yaitu kondisi dimana satu tokoh atau individu yang dianggap berjasa pada lingkungan sekitarnya. Tokoh atau individu itu tersebut kemudian mati. Kematiannya kemudian dilebih-lebihkan dalam rangka menghormati jasa-jasanya, agar para cucu kemudian mencontoh dan menjadikan si individu tersebut sebagai panutan. Namun pada kasus ini, individu tersebut adalah seorang bintang, penyanyi atau band. Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang kesepian, takut dan resah. Sehingga manusia membutuhkan seseorang untuk berbagi dalam hidupnya. Hal inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai mahluk sosial, dan seorang panutan adalah juru selamat yang mengemudikan kemana arah manusia ini akan terbentuk. Terdengar berlebihan memang, namun ini adalah fakta. Hal ini bisa kita lihat di Indonesia, supremasi Iwan Fals dan Slank bisa dikatakan amat luar biasa. Bagaimana nama seorang Iwan Fals dapat menjamin suksesnya suatu acara. Sebagai indikatornya adalah puluhan ribu jumlah penonton, kemampuan menjaga tetap lancarnya sebuah acara, dan kualitas musikalitas yang tidak perlu lagi dipertanyakan. Iwan Fals dengan lagu-lagu perlawananya secara tidak sadar membentuk komunitas OI (Orang Indonesia) di Indonesia. Komunitas yang kemudian berkembang menjadi sebuah pergerakan melawan ketidak adilan di Indonesia. Begitu juga dengan Slank. Menjamurnya komunitas Slankers bisa dijadikan sebagai indikator bagaimana band ini memperngaruhi masyarakat dalam segala hal. Dengan sebuah slogan khas yang pasti kita semua tahu “Piss!”. Remaja dan Logika Fanatisme Pada kasus tertentu fanatisme dan kecintaan terhadap sesuatu bisa berakibat sangat dramatis. Seorang penggemar yang sangat mencintai dan mengagungkan idolanya kemudian akan melakukan hal-hal yang kita anggap berlebihan, tidak biasa, bahkan bodoh. Contohnya adalah fanatisme terhadap Sid Vicius dari Sex Pistols. Jika diteliti, apa yang menarik dari seorang Sid Vicius? Dia seorang musisi payah, pemadat, perilaku buruk, musuh no 1 di Inggris pada tahun70-an, maling, biang onar, dan meninggal akibat over dosis. Hal-hal itulah yang justru dianggap luar biasa oleh para pengagumnya, perlawanan Sid terhadap nilai-nilai konservatif di Inggris pada saat itu, dianggap sebagai bentuk nilai kejujuran, pakaiannya kemudian dianggap sebuah mode tersendiri saat itu, yang dianggap sebagai ikon perlawanan terhadap kemunafikan. Dibayangi oleh kekaguman dan keinginan mencari seorang sosok yang dijadikan panutan. Seorang manusia akan terus berusaha mencari sosok panutan yang sempurna dan sesuai dengan keinginan, membawa manusia pada pembentukan jati diri. Dan saat sosok itu ditemukan, kepuasan dalam menemukan sosok panutan ini sering mengalahkan logika. Benar-salah, baik atau buruk menjadi urusan kedua. Yang terpenting adalah usaha mencari pembenaran dalam jati diri telah ditemukan. Karena seiring dengan berjalannya masa, kohesi terhadap nilai-nilai moral dan kebudayaan kian terkikis. Hal ini terjadi akibat absennya tokoh panutan dalam membimbing menuju jalan yang benar, meski ada hal ini sering tidak sesuai dengan pemikiran masyarakat modern (yang kebanyakan adalah remaja). Dengan kata lain secara ekstrem masyarakat membutuhkan nabi dan rasul baru untuk membimbing mereka menuju kepuasan dan ketenangan hidup. Jadi merupakan hal yang lumrah terjadi, apabila banyak remaja yang kemudian mengkultuskan dan memuja idolanya dengan sedemikaian rupa. Seperti pada saat demam F4, band asal Taiwan yang terkenal dengan meteor garden. Hampir separuh remaja kita begitu mengelu-elukan, memuja dan mengagumi mereka hingga diluar batas kewajaran. Namun saat ketenaran mereka usai, kebosanan mulai menjalar dan seperti biasa. Remaja-remaja di republik ini mulai mencari “nabi” baru dalam hidup mereka. Bisa jadi fenomena musik emo dan nabi-nabi palsu yang terjadi belakangan ini muncul. Merupakan bias dari ketidak-puasan masyarakat kita terhadap apa yang telah ada saat ini. Umat musik modern Seorang fans bisa menghabiskan sebagian besar hidupnya hanya untuk memuja idolanya, mereka kemudian mengelompok menjadi groupies. Mengikuti kemana pun langkah sang idola pergi, selalu berusaha mencari tahu kabar terbaru dari sang idola dan berusaha memiliki segala hal mengenai idolanya. Kebanyakan dari groupies ini memiliki masalah dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kesulitan untuk diterima oleh masyarakat sekitarnya. Bisa jadi hal ini karena gangguan disosiatif. Gagngguan yang ditandai dengan adanya perubahan perasaan individu tentang identitas, memori, atau kesadarannya terhadap diri dan lingkungan sekitar. Individu yang mengalami gangguan ini akan mengalami kesulitan untuk mengenali dirinya sendiri dan lingkungan. Yang kemudian akan membentuk identitas baru sebagai bentuk ketidakpuasan akan perasaan asing tersebut. Sebagai sebuah contoh. Brian Warner, seorang murid heritage crishtian school tergila-gila pada sid viciuz (vokalis the sex pistols) yang kemudian membawanya pada atheism dan membentuk band the Marilyn Manson. Bagaimana perngaruh sebuah band bisa membuat seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan katolik ketat menjadi vokalis band industrial rock yang kemudian dituduh sebagai pemimpin sekte sesat di amerika. Ketidakpuasan Brian terhadap kehidupan agama yang dianggapnya tidak memberi solusi, kemudian secara perlahan membentuk rasa perlawanan dalam dirinya. Yang kemudian hal itu keluar dalam bentuk pemberontakan diri dan difasilitasi oleh pengkultusan idolanya. Dan yang lain adalah penabian bob marley oleh kaum Rastafarian. Music regae yang berakar dari kebudayaan blues dan ska telah mengangkat bob marley menjadi martir bagi para penggemarnya. Ia dianggap sebagai seorang juru selamat yang membawa kebenaran dan pembebasan dalam tiap lagu yang dinyanyikannya. Seperti “emancipate yourself from mental slavery non but our self can free our mind” sepenggal syair dari lagu berjudul redemption song, lagu pembebasan. Sebuah syair yang dikultuskan sebagai sabda tuhan untuk pembebasan manusia oleh para Rastafarian. Fenomena ini terjadi akibat kecintaan dan kekaguman penggemar Bob Marley atas kesuksesan dan kesalehannya (Bob Marley adalah pengikut rastafrian yang taat). Fenomena ini dalam kajian sosiologis biasa disebut dengan patron klien. Patron klien sendiri telah dikenal dan dipraktekan di dunia sejak manusia membentuk kebudayaan. Kepatuhan dan kesetian yang didasari oleh rasa kagum atas seseorang memang bisa sangat mencengangkan. Di Indonesia sendiri hal ini bisa kita lihat dengan jelas melalui hubungan santri dan kyai, dimana seorang santri bisa dengan tulus -atau “buta”- akan memenuhi segala keinginan kyai yang dianutnya. Hal serupa terjadi pada fenomena kultus idola. Fenomena ini akan terus berulang sampai peradaban manusia punah. Hanya dengan kedewasaan dan kecerdasan, manusia bisa menilai salah dan benar. Meskipun segala di dunia ini bernilai subjektif. Namun semua akhirnya kembali pada hati nurani kita sendiri. Seorang idola hanyalah mereka yang sejatinya bertugas menghibur kita, tidak lebih. Kekaguman haruslah berdasarkan nilai moral dan bukan rasionalisasi atas perilaku menyimpang yang akan terjadi. “…everybody’s changing and I don’t know why, try to stay awake but everybody’s changing and I don’t feel the same…” by Keane |